Sunday, July 9, 2017

Kepemimpinan Mutu Pendidikan Agama Islam





A.  LATAR BELAKANG
Kepemimpinan merupakan salah satu faktor yang sangat berperan dalam organisasi, baik buruknya organisasi, sering kali sebagian besar tergantung pada faktor pemimpin. Berbagai riset juga telah membuktikan bahwa faktor pemimpin memegang peranan penting dalam pengembangan organisasi. Faktor pemimpin yang sangat penting adalah karakter dari orang yang menjadi pemimpin tersebut sebagaiman dikemukakan Covey bahwa 90 persen dari semua kegagalan kepemimpinan adalah kegagalan pada karakter.
Tidak bisa kita nafikan, salah satu faktor yang menentukan keberhasilan suatu organisasi atau lembaga pendidikan, terletak pada kemampuan pemimpin sebagai manager yang mengetahui berbagai kejadian dilapangan. Seorang pemimpin harus dapat mengukur sejauh mana output yang dihasilkan oleh lembaga pendidikan, sehingga konsumen dalam hal ini pelanggan yang menggunakan hasil lulusan lembaga pendidikan menjadi puas. 
Sebuah institusi lembaga pendidikan dimana siswa akan melanjutkan ke jenjang pendidikan yang lebih tinggi, maka lembaga tersebut akan menilai sejauh mana kualitas pendidikan dari lembaga pendidikan penghasil lulusan tersebut. Apakah hasilnya sesuai yang disyaratkan oleh lembaga pendidikan lanjutan didalam penerimaan peserta didik baru.[1]
 Para pemakai jasa tenaga kerja akan melihat sejauh mana kualitas lulusan yang dihasilkan oleh sebuah lembaga pendidikan sehingga ketika mereka bekerja akan mampu menghasilkan kinerja yang baik,maka dalam hal ini biasanya pemakai tenaga kerja akan memilih dari lulusan lembaga pendidikan yang sudah terkenal dan berkualitas.
Untuk itulah, karena tuntutan konsumen atau pengguna lulusan lembaga pendidikan semakin tinggi dengan persaingan yang semakin ketat, maka harus diperhatikan kepemimpinan dan mutunya sehingga lembaga pendidikan tersebut akan menjadi lembaga pendidikan yang berkualitas dan berkembang dengan baik.
Secara khusus Gary Yuk  menyatakan bahwa: memahami kepemimpinan sebagai sebuah proses mempengaruhi dalam suatu kelompok untuk mencapai tujuan orang secara bersama. Hal ini dapat dipahami dari penjelasan sebagai berikut: kepemimpinan didefinisikan secara luas sebagai proses-proses yang mempengaruhi interpretasi mengenai peristiwa-peristiwa para pengikut, pilihan dari sasaran-sasaran bagi kelompok atau orang, pengorganisasian dari aktivitas-aktivitas tersebut untuk mencari sasaran, pemeliharaan hubungan, kerjasama dan teamwork, serta perolehan dukungan dan kerja sama dari orang-orang yang berada di luar kelompok atau orang.
Secara khusus kepemimpinan di sekolah mempunyai penekanan pada pentingnya posisi kepemimpinan untuk meningkatkan kualitas dan efektivitas sekolah. Berbagai kutipan tersebut menekankan adanya dimensi sosial budaya dalam kepemimpinan. Di mana kepemimpinan berlangsung interaksi individu atau kelompok (siswa, guru, kepala sekolah, orangtua, masyarakat dan karyawan). Muara besar dari interaksi tersebut adalah terbentuknya budaya organisasi sekolah yang kuat sehingga pendidikan dapat berlangsung dengan efektif dan efisien.[2]
Kepala madrasah sebagai pengelola institusi atau pelembagaan pendidikan tentu saja mempunyai peran yang teramat penting karena ia sebagai desainer, pengorganisasian, pelaksana, pengelola tenaga kependidikan, pengawas, pengevaluasi program pendidikan dan pengajaran di lembaga yang dipimpinnya. Secara operasional kepala madrasah memiliki standar kompetensi untuk menyusun perencanaan strategis, mengelola tenaga kependidikan, mengelola kesiswaan, mengelola fasilitas, mengelola sistem informasi manajemen, mengelola regulasi atau peraturan pendidikan, mengelola mutu pendidikan, mengelola kelembagaan, mengelola kekompakan kerja (teamwork), dan mengambil keputusan.[3]
Selain kepala madrasah, Guru memegang peranan sentral dalam pendidikan. Tanpa peran aktif guru, kebijakan pembaruan pendidikan secanggih apa pun tetap akan sia-sia. Hal tersebut dapat kita lihat dari fenomena pendidikan di Indonesia saat ini, pergantian kurikulum selalu dilakukan untuk tercapainya tujuan pendidikan yang diharapkan, tetapi dalam kenyataanya perubahan tersebut hanyalah sebatas perubahan administratif, sehingga belum dapat membawa perubahan mendasar dalam peningkatan mutu pendidikan. Dengan eksistensi guru sebagai salah satu faktor penentu keberhasilan pendidikan, maka setiap ada inovasi pendidikan, khususnya dalam peningkatan sumber daya manusia yang dihasilkan dari upaya pendidikan selalu bermuara pada guru.
Peran kepala madrasah yang efektif tentu akan mempengaruhi kinerja guru, sehingga guru menjadi bersemangat dalam menjalankan tugasnya dan mampu menunjukkan prestasi kerja. Hal ini disebabkan guru merasa mendapat perhatian, rasa aman, dan pengakuan atas prestasi kinerjanya, yang pada akhirnya membawa pekerjaannya dapat dilakukan secara baik dan hasilnya dapat dipertanggungjawabkan dan juga memuaskan (accountable and satisfied).
B.  RUMUSAN MASALAH
1.    Apa Pengertian Kepemimpinan dalam prespektif Islam
2.    Bagaiman Kepemimpinan Kepala Sekolah/Madrasah yang Efektif dalam Meningkatkan Mutu Pendidikan
C.  TUJUAN MASALAH
1.  Untuk mengetahui apa pengertian kepemimpinan
2.  Untuk mengetahui bagaiman kepemimpinan Kepala Sekolah/Madrasah yang efektif   dalam meningkatkan mutu pendidikan

BAB II
PEMBAHSAN
A.  Kepemimpinan Pendidikan Islam
Ada hubungan antara manajemen dengan kepemimpinan. Sodang P. Siagian menegaskan bahwa inti manjemen ialah kepemimpinan. Manifestasi yang paling nyata dari manajemen ialah kepemimpinan.[4] Dengan pengertian lain, manajemen lebih luas daripada kepemimpinan, atau kepemimpinan berada dalam lingkup manajeman.
Dalam bahasa Arab, kepemimpinan sering diterjemahkan sebagai al-riayah, al-imarah, al-qiyadah, atau al-zaamah. Kata-kata tersebut memiliki satu makna sehingga disebut sinonim atau morodif, sehingga kita bisa menggunakan salah satu dari keempat kata tersebut untuk menerjemahkan kata kepemimpinan. Sementara itu, untuk menyebut istilah kepemimpinan pendidikan, para ahli lebih memilih istilah qiyadah tarbawiyah.[5]
Dalam Islam, kepemimpinan begitu penting sehingga mendapat perhatian yang sangat besar. Begitu pentingnya kepemimpinan ini, mengharuskan setiap perkumpulan untuk memiliki pimpinan, bahkan perkumpulan dalam jumlah yang kecil sekalipun. Nabi Muhammad Saw bersabda:
عَنْ أَبِى سَعِيدٍ الْخُدْرِىِّ وأبى هريرة رضي الله عنهما قلا: قال رَسُولَ اللَّهِ -صلى الله عليه وسلم- « إِذَا خَرَجَ ثَلاَثَةٌ فِى سَفَرٍ فَلْيُؤَمِّرُوا أَحَدَهُمْ » {رواه ابو داود}
“Dari Abu Said dari Abu Hurairah bahwa keduanya berkata, Rasulullah bersabda, “Apabila tiga orang keluar bepergian, hendaklah mereka menjadikan salah satu sebagai pemimpin.” (HR. Abu Dawud)[6]
Model keberadaan seorang pemimpin sebagaimana terdapat dalam hadis tersebut tersebut adalah model pengangkatan. Model ini merupakan model yang paling sederhana karena populasinya hanya tiga orang. Jika populasinya banayk, mungkin saja modelnya lebih sempurna karena ada beberapa model perwujudan pemimpin. Jamal Mahdhi melaporkan:
Hasil studi menyatakan bahwa yang terbaik dalam pelaksanaan tugas adalah pemimpin yang dipilih langsung, selanjutnya pemimpin yang memenangkan suara terbanyaknya, lalu yang terakhir pemimpin yang diangkat.[7]
Kepemimpinan dalam definisi di atas memiliki konotasi general, bisa kepemimpinan Negara, organisasi politik, organisasi social, perusahaan, perkantoran, maupun pendidikan. Madhi  selanjutnya menegaskan bahwa di antara jenis kepemimpinan yang paling spesifik adalah kepemimpinan pendidikan (qiyadah tarbawiyah atau educative leadership), karena kesusksesan mendidik generasi, membina umat, dan berusaha membangkitkannya terkait erat dengan pemenuhan kepemimpinan pendidikan yang benar.[8]
Dalam Islam kepemimpinan identik dengan istilah khalifah yang berarti wakil. Pemakaian kata khalifah setelah Rasulullah SAW wafat menyentuh juga maksud yang terkandung dalam perkataan amir (jamaknya umara) atau penguasa. Kedua istilah itu dalam bahasa Indonesia disebut pemimpin formal. Namun jika merujuk kepada firman Allah SWT dalam surat al-Baqarah (2) ayat 30 yang berbunyi:
øŒÎ)ur tA$s% š/u Ïps3Í´¯»n=yJù=Ï9 ÎoTÎ) ×@Ïã%y` Îû ÇÚöF{$# ZpxÿÎ=yz …………..(
Ingatlah ketika Tuhanmu berfirman kepada Para Malaikat: "Sesungguhnya aku hendak menjadikan seorang khalifah di muka bumi.[9]
Selain kata khalifah disebutkan juga kata ulil amri yang satu akar dengan kata amir sebagaimana disebutkan di atas. Kata ulil amri berarti pemimpin tertinggi dalam masyarakat Islam sebagaimana firman Allah SWT dalam surat al-Nisa (4) ayat 59:
$pkšr'¯»tƒ tûïÏ%©!$# (#þqãYtB#uä (#qãèÏÛr& ©!$# (#qãèÏÛr&ur tAqߧ9$# Í<'ré&ur ͐öDF{$# óOä3ZÏB (
Hai orang-orang yang beriman, taatilah Allah dan taatilah Rasul (Nya), dan ulil amri di antara kamu. [10]
sedangkan dalam Surat al-Nisa (4) ayat 83 kata ulil amri mungkin berarti pemimpin tertinggi atau hanya pemimpin Islam yang mengepalai suatu jawaban:
#sŒÎ)ur öNèduä!%y` ֍øBr& z`ÏiB Ç`øBF{$# Írr& Å$öqyø9$# (#qãã#sŒr& ¾ÏmÎ/ ( öqs9ur çnrŠu n<Î) ÉAqߧ9$# #n<Î)ur Í<'ré& ̍øBF{$# öNåk÷]ÏB çmyJÎ=yès9 tûïÏ%©!$# ¼çmtRqäÜÎ7/ZoKó¡o öNåk÷]ÏB 3 Ÿwöqs9ur ã@ôÒsù «!$# öNà6øŠn=tã ¼çmçGuH÷quur ÞOçF÷èt6¨?]w z`»sÜøŠ¤±9$# žwÎ) WxŠÎ=s% ÇÑÌÈ  
Dan apabila datang kepada mereka suatu berita tentang keamanan ataupun ketakutan, mereka lalu menyiarkannya. dan kalau mereka menyerahkannya kepada Rasul dan ulil Amri di antara mereka, tentulah orang-orang yang ingin mengetahui kebenarannya (akan dapat) mengetahuinya dari mereka (Rasul dan ulil Amri) kalau tidaklah karena karunia dan rahmat Allah kepada kamu, tentulah kamu mengikut syaitan, kecuali sebahagian kecil saja (di antaramu).[11]
Hal tersebut menunjukkan bahwa ulil amri yang dipaparkan dalam kedua ayat tersebut bukan penguasa atau pemerintah kafir yang menjajah masyarakat Islam dan juga bukan pemimpin musrik atau munafik.
Dalam Al-Qur’an juga disebutkan istilah auliya yang berarti pemimpin yang sifatnya resmi dan tidak resmi. Sesuai dengan firman Allah SWT dalam surat al-Maidah (5) ayat 55:
$uK¯RÎ) ãNä3ŠÏ9ur ª!$# ¼ã&è!qßuur tûïÏ%©!$#ur (#qãZtB#uä tûïÏ%©!$# tbqßJÉ)ムno4qn=¢Á9$# tbqè?÷sãƒur no4qx.¨9$# öNèdur tbqãèÏ.ºu ÇÎÎÈ  
Sesungguhnya penolong kamu hanyalah Allah, Rasul-Nya, dan orang-orang yang beriman, yang mendirikan shalat dan menunaikan zakat, seraya mereka tunduk (kepada Allah).
Dalam hadits Rasulullah SAW istilah pemimpin dijumpai dalam kata ra’in atau amir seperti yang disebutkan dalam hadits yang diriwayatkan Imam Bukhari:
حَدَّثَنَا بِشْرُ بْنُ مُحَمَّدٍ قَالَ أَخْبَرَنَا عَبْدُ اللَّهِ قَالَ أَخْبَرَنَا يُونُسُ عَنِ الزُّهْرِىِّ قَالَ أَخْبَرَنَا سَالِمُ بْنُ عَبْدِ اللَّهِ عَنِ ابْنِ عُمَرَ - رضى الله عنهما - أَنَّ رَسُولَ اللَّهِ - صلى الله عليه وسلم - يَقُولُ « كُلُّكُمْ رَاعٍ » . وَزَادَ اللَّيْثُ قَالَ يُونُسُ كَتَبَ رُزَيْقُ بْنُ حُكَيْمٍ إِلَى ابْنِ شِهَابٍ - وَأَنَا مَعَهُ يَوْمَئِذٍ بِوَادِى الْقُرَى - هَلْ تَرَى أَنْ أُجَمِّعَ . وَرُزَيْقٌ عَامِلٌ عَلَى أَرْضٍ يَعْمَلُهَا ، وَفِيهَا جَمَاعَةٌ مِنَ السُّودَانِ وَغَيْرِهِمْ ، وَرُزَيْقٌ يَوْمَئِذٍ عَلَى أَيْلَةَ ، فَكَتَبَ ابْنُ شِهَابٍ - وَأَنَا أَسْمَعُ - يَأْمُرُهُ أَنْ يُجَمِّعَ ، يُخْبِرُهُ أَنَّ سَالِمًا حَدَّثَهُ أَنَّ عَبْدَ اللَّهِ بْنَ عُمَرَ يَقُولُ سَمِعْتُ رَسُولَ اللَّهِ - صلى الله عليه وسلم - يَقُولُ « كُلُّكُمْ رَاعٍ ، وَكُلُّكُمْ مَسْئُولٌ عَنْ رَعِيَّتِهِ ، الإِمَامُ رَاعٍ وَمَسْئُولٌ عَنْ رَعِيَّتِهِ ، وَالرَّجُلُ رَاعٍ فِى أَهْلِهِ وَهْوَ مَسْئُولٌ عَنْ رَعِيَّتِهِ ، وَالْمَرْأَةُ رَاعِيَةٌ فِى بَيْتِ زَوْجِهَا وَمَسْئُولَةٌ عَنْ رَعِيَّتِهَا ، وَالْخَادِمُ رَاعٍ فِى مَالِ سَيِّدِهِ وَمَسْئُولٌ عَنْ رَعِيَّتِهِ - قَالَ وَحَسِبْتُ أَنْ قَدْ قَالَ - وَالرَّجُلُ رَاعٍ فِى مَالِ أَبِيهِ وَمَسْئُولٌ عَنْ رَعِيَّتِهِ وَكُلُّكُمْ رَاعٍ وَمَسْئُولٌ عَنْ رَعِيَّتِهِ » .
Artinya: “Dari ibn Umar r.a, dia berkata: bahwa Rasulullah SAW. telah bersabda: Setiap orang di antaramu adalah pemimpin dan setiap kamu akan bertanggungjawab atas kepemimpinannya, seorang imam adalah pemimpin dan dia akan bertanggung kawab atas kepemimpinannya, orang laki-laki (suami) adalah pemimpin dan dia akan bertanggungjawab atas kepemimpinannya, orang perempuan (istri) adalah pemimpin di dalam rumah suaminya dan dia akan dimintai pertanggungjawaban atas kepemimpinannya, dan pembantu adalah pemimpin (pemelihara) harta benda tuannya dan dia akan dimintai pertanggungjawaban atas kepemimpinannya (pemeliharaannya), dan seorang anak adalah pemimpin (pemelihara) harta benda ayahnya dan dia akan dimintai pertanggungjawaban atas kepemimpinannya (pemeliharaannya), maka (sekali lagi), setiap orang di antaramu adalah pemimpin dan setiap kamu akan bertanggungjawab atas kepemimpinannya”. (H.R.Bukhari).
Berdasarkan ayat Al-Qur’an dan hadits Rasulullah SAW tersebut dapat disimpulkan bahwa kepemimpinan Islam adalah kegiatan menuntun, membimbing, memandu dan menunjukkan jalan yang diridhoi Allah SWT.
Berdasar uraian di atas dapat diidentifikasi beberapa komponen dalam kepemimpinan yaitu: (1) Adanya pemimpin dan orang lain yang dipimpin, (2) Adanya upaya atau proses mempengaruhi dari pemimpin kepada orang lain melalui berbagai kekuatan, (3) Adanya tujuan akhir yang ingin dicapai bersama dengan adanya kepemimpinan itu (4) Kepemimpinan bisa timbul dalam suatu organisasi atau tanpa adanya organisasi tertentu, (5) Pemimpin dapat diangkat secara formal atau dipilih oleh pengikutnya, (6) Kepemimpinan berada dalam situasi tertentu baik situasi pengikut maupun lingkungan eksternal, (7) Kepemimpinan Islam merupakan kegiatan menuntun, membimbing, memandu dan menunjukkan jalan yang diridhoi Allah SWT.[12]
1.Pengertian Kepemimpinan
Secara definisi, kepemimpinan memiliki berbagai perbedaan pada berbagai hal, namun demikian yang pasti ada dari definisi kepemimpinan adalah adanya suatu proses dalam kepemimpinan untuk memberikan pengaruh secara sosial kepada orang lain, sehingga orang lain tersebut menjalankan suatu proses sebagaimana diinginkan oleh pemimpin.[13]
Menurut Robbins, seperti yang dikutip oleh Sudarwan Danim dan Suparno, kepemimpinan adalah kemampuan mempengaruhi kelompok kearah pencapaian tujuan.[14]
Owens mendefinisikan kepemimpinan sebagai suatu interaksi antara satu pihak sebagai yang memimpin dengan pihak yang dipimpin. E. Mulyasa mendefinisikan kepemimpinan sebagai kegiatan untuk mempengaruhi orang-orang yang diarahkan terhadap pencapaian tujuan organisasi.[15]
Dari beberapa definisi kepemimpinan tersebut dapat disimpulkan bahwa kepemimpinan adalah suatu kegiatan memengaruhi orang lain agar orang tersebut mau bekerja sama (mengolaborasi potensinya) untuk mencapai tujuan yang telah ditetapkan. Kepemimpinan juga sering dikenal sebagai kemampuan untuk memperoleh konsensus anggota organisasi untuk melakukan tugas manajemen agar tujuan organisasi tercapai. Dari beberapa pengertian tersebut dapat disimpulkan bahwa kepemimpinan terdiri atas:
1)   Memengaruhi orang lain agar mau melakukan sesuatu,
2)   Memperoleh konsesnsus atau suatu pekerjaan,
3)   Untuk mencapai tujuan manajer, dan
4)   Untuk memperoleh manfaat bersama
Oleh sebab itu, pemimpin diharapkan memiliki kemampuan dalam menjalankan kepemimpinannya karena apabila tidak memiliki kemampuan untuk memimpin, maka tujuan yang ingin dicapai tidak akan dapat tercapai secara maksimal.[16] Kemampuan ini dapat berupa kemampuan berpikir (pengetahuan), dan kemampuan ini yang merupakan penentu keberhasilan organisasi dalam konteks era kontemporer, sebab saat ini man-power dikalahkan man-mind.[17]
Pemimpin merupakan faktor penentu dalam kesuksesan atau gagalnya suatu organisasi dan usaha. Baik di dunia bisnis maupun di dunia pendidikan, kesehatan, perusahaan, religi, sosial, politik, pemerintahan Negara, dan lain-lain, kualitas pemimpin menentukan keberhasilan lembaga atau organisasinya. Sebab, pemimpin yang sukses itu mampu mengelola organisasi, bisa memengaruhi secara konstruktif orang lain, dan menunjukkan jalan serta perilaku benar yang harus dikerjakan bersama-sama (melakukan kerja sama), dan bahkan kepemimpinan sangat memengaruhi semangat kerja kelompok.[18]
Maka, keberhasilan organisasi dalam mencapai tujuan yang ingin diraih tergantung pada kepemimpinannya, yaitu apakah kepemimpinan tersebut mampu mengerakkan semua pontensi sumber daya manusia (SDM), sumber daya alam (SDA), sarana, dana, dan waktu secara efektif-efisien secara terpadu dalam proses manajemen. Oleh karena itu, kepemimpinan merupakan inti dari organisasi, manajemen, administrasi, dan organisasi.
Maka, untuk dapat memberdayakan setiap individu atau unsur pendidikan dalam tingkat persekolahan, seorang pemimpin (baca:kepala sekolah) seyogianya dapat menciptakan lingkungan yang kondusif bagi pemberdayaan (create an environment conducive to empowerment), memperlihatkan idealism pemberdayaan (demonstrates empowerment ideals) penghargaan terhadap segala usaha pemberdayaan (encourages all endeavors toward empowerment), dan penghargaan segala keberhasilan pemberdayaan (applauds all empowerment successes) dalam menciptakan mutu pendidikan.
Sedangkan, Peter dan Austin, seperti yang dikutip oleh Edward Sallis, memberikan anjuran terhadap pentingnya pemimpin yang unggul dalam mencapai mutu dalam pendidikan yang merupakan pertimbangan yang penting. Mereka memandang bahwa pemimpin pendidikan membutuhkan perspektif-perspiktif berikut.
1)   Visi dan simbol-simbol. Kepala sekolah harus mengomunikasikan nilai-nilai institusi kepada para staf, para pelajar, dan kepada komunitas yang lebih luas.
2)   “Untuk para pelajar”. Istilah ini sama dengan “dekat dengan pelanggan” dalam pendidikan. Ini memastikan bahwa institusi memiliki fokus yang jelas terhadap pelanggan utamanya.
3)   Otonomi, eksperimentasi, dan antisipasi terhadap kegagalan. Pemimpin pendidikan harus melakukan inovasi di antara staf-stafnya dan bersiap-siap mengantisipasi kegagalan yang mengiringi inovasi tersebut.
4)   Menciptakan rasa kekeluargaan. Pemimpin harus menciptakan rasa kekeluargaan di antara para pelajar, orangtua, guru, dan staf institusi.
5)   “Ketulusan, kesabaran, semangat, intensitas, dan antusiasme”. Sifat-sifat tersebut merupakan mutu personal esensial yang dibutuhkan pemimpin lembaga pendidikan.[19]
2. Tipe-Tipe Kepemimpinan
         Dalam setiap realitasnya, pemimpin dalam melaksanakan proses kepemimpinannya memiliki perbedaan antara yang satu dengan lainnya, sebagaimana menurut G.R. Terry yang dikutip oleh Maman Ukas.[20] G.R.T erry membagi tipe kepemimpinan menjadi 6.
1)    Tipe kepemimpinan pribadi (personal leadership). Dalam sistem kepemimpinan ini, segala tindakan dilakukan dengan mengadakan kontak pribadi. Petunjuk itu dilakukan secara lisan atau langsung dilakukan secara pribadi oleh pemimpin yang bersangkutan.
2)    Tipe kepemimpinan nonpribadi (non personal leadership). Segala sesuatu kebijaksanaan yang dilaksanakan melalui bawahan-bahawan atau media nonpribadi, baik rencana, perintah, juga pengawasan.
3)    Tipe kepemimpinan otoriter (autoritotian leadership). Pemimpin otoriter biasanya bekerja keras, sungguh-sungguh, teliti, dan tertib. Ia bekerja menurut peraturan-peraturan yang berlaku secara ketat dan intruksi-intruksinya harus ditaati.
4)    Tipe kepemimpinan demokratis (democratic leadership). Pemimpin yang demokratis menganggap dirinya sebagai bagian dari kelompoknya berusaha bertanggung jawab tentang terlaksananya tujuan bersama. Agar setiap anggota turut bertanggung jawab maka seluruh anggota ikut serta dalam segala kegiatan, perencanaan, penyelenggaraan, pengawasan, dan penilaian. Setiap anggota dianggap sebagai potensi yang berharga dalam usaha pencapaian tujuan.
5)     Tipe kepemimpinan paternalistis (paternalistis leadership). Kepemimpinan ini dicirikan oleh suatu pengaruh yang bersifat kebapakan dalam hubungan pemimpin dan kelompok. Tujuannya adalah untuk melindungi dan untuk memberikan arahan seperti halnya seorang bapak kepada anaknya.
6)    Tipe kepemimpinan menurut bakat (indogenious leadership). Biasanya timbul dari kelompok orang-orang informal tempat mungkin mereka berlatih dengan adanya sistem kompetisi sehingga bisa menimbulkan klik-klik dari kelompok yang bersangkutan dan biasanya akan muncul pemimpin yang mempunyai kelemahan di antara yang ada dalam kelompok tersebut menurut bidang keahliannya di mana ia ikut berkecimpung.[21]
3. Syarat-syarat Kepemimpinan Pendidikan
Sifat-sifat apa yang perlu dimiliki seorang pemimpin pendidikan? Sesuai dengan the personal qualities theory of leadership yang telah dibicarakan, diantara banyak ahli yang sudah mengadakan penyelidikan dalam bidang ini, ada yang mengemukakan empat, enam, delapan, sepuluh, dua belas, empat belas, dan ada juga dua ratus sifat yang harus dimiliki seorang pemimpin. Hasil penyelidikan Tead (1935: 41-43) dianggap penting sekali bagi kepemimpinan pendidikan. Ia menyarankan sifat pemimpin pendidikan sebagai berikut:
1)   Memiliki kesehatan jasmaniah dan rohaniah yang baik.
2)   Berpegang teguh pada tujuan yang hendak dicapai.
3)   Bersemangat.
4)   Jujur.
5)   Cakap dalam memberi bimbingan.
6)   Cepat serta bijaksana dalam mengambil keputusan.
7)   Cerdas.
8)   Cakap dalam hal mengajar dan menaruh kepercyaan kepada yang baik dan berusaha mencapainya.
Selain beberapa persyaratan tersebut, kepemimpinan pendidikan sebagai seorang manajer di lembaga pendidikan juga harus memiliki tiga kecerdasan pokok, yaitu kecerdasan profesional, kecerdasan personal, dan kecerdasan manajerial agar dapat bekerja sama dan mengerjakan sesuatu dengan orang lain. Dede Rosyada[22] dalam hal ini mengklasifikasikan kemampuan manajerial yang harus dipertimbangkan sebagai langkah awal mengerjakan berbagai tugas manajerial sebagai berikut:
1)   Kemampuan mencipta yang meliputi: selalu mempunyai ide-ide bagus, selalu memperoleh solusi-solusi untuk berbagai konsekuensi dari pelaksanaan berbagai keputusan dan mampu mengunakan kemampuan berpikir imajinatif (lateral thinking) untuk menghubungkan sesuatu dengan yang lainnya yang tidak bisa muncul dari analisis dan pemikiran-pemikiran empiris.
2)   Kemampuan membuat perencanaan yang meliputi: mampu menghubungkan kenyataan sekarang dan hari esok, mampu mengenali apa-apa yang penting saat itu dan apa-apa yang benar-benar mendesak, mampu mengantisipasi kebutuhan-kebutuhan mendatang, dan mampu melakukan analisis.
3)   Kemampuan mengorganisasi yang meliputi: mampu mendistribusikan tugas dan tanggung jawab yang adil, mampu membuat putusan secara tepat, selalu bersikap tenang dalam menghadapi kesulitan, mampu mengenali pekerjaan itu sudah selesai dan sempurna dikerjakan.
4)   Kemampuan berkomunikasi yang meliputi: mampu memahami orang lain, mampu dan mau mendengarkan orang lain, mampu menjelaskan sesuatu pada orang lain, mampu berkomunikasi melalui tulisan, mampu membuat orang lain berbicara, mampu mengucapkan terimakasih pada orang lain, selalu mendorong orang-orang lain untuk maju, dan selalu mengikuti serta memanfaatkan teknologi informasi.
5)   Kemampuan memberi motivasi yang meliputi: mampu memberi inspirasi pada orang lain, menyampaikan tantangan yang realistis, membantu orang lain untuk mencapai tujuan dan target, dan membantu orang lain untuk menilai kontribusi dan pencapaiannya sendiri.
6)   Kemampuan melakukan evaluasi yang meliputi: mampu membandingkan antara hasil yang dicapai dengan tujuan, mampu melakukan evaluasi diri, mampu melakukan evaluasi terhadap pekerjaan orang lain, dan mampu melakukan tindakan pembenaran saat diperlukan.
Arti bekerja dalam lapangan pendidikan dan pengajaran semata-mata bekerja dengan dan untuk orang lain. Bekerja sama merupakan suatu bagian yang penting sekali dalam kehidupan. Jika seorang kepala sekolah dan para guru bekerja sama dalam pelaksanaan tugas mereka. Hal itu akan menguntungkan, terutama untuk anak didik mereka; rencana pendidikan akan terlaksana dengan lancar dan dalam suasana yang sehat dan menyenangkan; sifat-sifat seperti saling memercayai, saling menghormati, dan saling mengindahkan akan terpupuk. Dalam suasana yang demikian, semua individu dapat memperoleh perasaan aman sehingga sifat-sifat kebersamaan dapat dikembangkan dengan baik. Kebersamaan itu dapat meringankan beban sehingga mudah mencapai tujuan yang diharapkan, dengan demikian kesalahpahaman dapat dikurangi, semua yang terlibat berusaha memperoleh kualitas pendidikan yang baik terutama bagi anak didik.[23]
4. Kepemimpinan dalam Lembaga Pendidikan Islam
Salah satu bentuk kepemimpinan dalam lembaga pendidikan Islam adalah kepala sekolah. Kepala sekolah merupakan salah satu komponen pendidikan yang paling berperan dalam menentukan keberhasilan suatu lembaga pendidikan.[24] karena ia merupakan pemimpin dilembaganya, Mulyasa mengatakan, kegagalan dan keberhasilan sekolah banyak ditentukan oleh kepala sekolah.karena mereka merupakan pengendali dan penentu arah yang hendak ditempuh sekolah menuju tujuannya.sekolah yang efektif , bermutu, dan favorit tidak lepas dari peran kepala sekolahnya.maka ia harus mampu membawa lembaganya kearah tercapainya tujuan yang telah ditetapkan,ia harus mampu melihat adanya perubahan serta mampu melihat masa depan dalam kehidupan global yang lebih baik.kepala sekolah harus bertanggung jawab atas kelancaran dan keberhasilan semua urusan pengaturan dan pengelolaan sekolah secara formal kepada atasannya atau secara informal kepada masyarakat yang telah menitipkan anak didiknya.
Sebagai pemimpin pendidikan yang professional,kepala sekolah dituntut untuk selalu mengadakan perubahan, mereka harus memiliki semangat yang berkesinambungan untuk mencari terobosan-terobosan baru demi menghasilkan suatu perubahan yang bersifat pengembangan dan penyempurnaan dari kondisi yang memprihatinkan menjadi kondisi yang lebih dinamis, baik segi fisik maupun akademik ,seperti perubahan semangat keilmuan,atmosfer belajar dan peningkatan strategi pembelajaran disamping itu, kepala sekolah juga harus berusaha keras menggerakkan para bawahannya untuk berubah ,setidaknya mendukung perubahan yang dirintis kepala sekolah secara proaktif,dinamis, bahkan progresif, sistem kerja para bawahan harus lebih kondusif, kinerja mereka harus dirangsang supaya meningkat, disiplin mereka harus dibangkitkan, sikap kerjasama mereka lebih dibudayakan, dan suasana harmonis,diantara,mereka,lebih,diciptakan.
         Pada dasarnya tugas kepala sekolah itu sangat luas dan kompleks rutinitas kepala sekolah menyangkut serangkaina pertemuan interpersonal secara berkelanjutan dengan murid, guru dan orang tua, atasan dan pihak-pihak terkait lainnya. Blimberg (1987) membagi tugas kepala sekolah sebagai berikut :[25] (1) menjaga agar segala program sekolah berjalan sedamai mungkin (as peaceful as possible); (2) menangani konflik atau menghindarinya; (3) memulihkan  kerjasama; (4) membina para staf dan murid (5) mengembangkan organisasi, dan (6) mengimplementasi ide-ide pendidikan. Untuk memenuhi tugas-tugas diatas, dalam segala hal hendaknya kepala sekolah berpegangan  kepada teori sebagai pembimbing tindakannya. Teori ini didasarkan pada pengalamannya, karakteristik normative masyarakat dan sekolah, serta iklim intruksional dan organisasi sekolah.misalnya kepala suatu madrasah harus mampu menunjukkan bahwa segala tindakan profesionalnya  sesuai dan tidak bertentangan dengan nilai-nilai  Al Qur’an dan sunnah Nabi. Hal itu dapat ditempuh dengan merefleksi dan mengkontruksi uswah rasul dan para sahabat disamping mengembangkan kompetensi dan kualitas dirinya.
Dalam Al-Qur’an, seorang pemimpin dalam mengambil keputusan harus adil, dilakukan secara benar, dan tidak boleh mengikuti hawa nafsu. Hal ini dijelaskan dalam surat Al-Maidah (5) ayat 48.
……(.. Nà6÷n$$sù OßgoY÷t/ !$yJÎ/ tAtRr& ª!$# ( Ÿwur ôìÎ6®Ks? öNèduä!#uq÷dr& $£Jtã x8uä!%y` z`ÏB Èd,ysø9$# 4   
 ……..Maka putuskanlah perkara mereka menurut apa yang Allah turunkan dan janganlah kamu mengikuti hawa nafsu mereka dengan meninggalkan kebenaran yang telah datang kepadamu…….. [26]
Dan firman Allah SWT dalam surat Shaad (38) ayat 26 senantiasa memerintahkan untuk selalu mengambil keputusan dan bertindak secara benar tidak ceroboh tidak menurutkan hawa nafsu:
Läl÷n$$sù……. tû÷üt/ Ĩ$¨Z9$# Èd,ptø:$$Î/ Ÿwur ÆìÎ7®Ks? 3uqygø9$# y7¯=ÅÒãŠsù `tã È@Î6y «!$# ………
…………Maka berilah keputusan (perkara) di antara manusia dengan adil dan janganlah kamu mengikuti hawa nafsu, karena ia akan menyesatkan kamu dari jalan Allah……..[27]
Dapat disimpulkan bahwa pengambil keputusan adalah proses pemilihan alternative terbaik untuk pemecahan suatu masalah melalui metode dan teknik tertentu. Dalam pengambilan keputusan pimpinan hendaknya memberikan tempat kepada bawahan baik sebagai penimbang, partisipan, maupun sebagai informan. Sebagai penimbang, pemimpin perlu berlapang dada karena pada kenyataannya bawahan merupakan orang yang paling mengetahui segala pekerjaan atau tugas yang dihadapi. Sebagai partisipan, hendaknaya pemimpin mengikutsertakan bawahan dalam mengambil keputusan sampai tingkat yang memadai, supaya bawahan merasakan keputusan itu sebagai keputusannya juga dan agar supaya bawahan tersebut bertanggungjawab terhadap pelaksanaanya. Sebagai informan, bawahan diberi kesempatan untuk memberikan laporan yang bermutu dan benar sebagai bahan pertimbangan pengambilan keputusan.[28]
Kualitas dan kompetensi kepala sekolah secara umum setidaknya mengacu kepada empat hal pokok,yaitu : (a) sifat dan ketrampilan kepemimpinan ; (b) kemampuan pemecahan masalah; (c) ketrampilan sosial;dan (d) pengetahuan dan kompetensi professional. Secara garis besar kualitas dan kompetensi kepala sekolah dapat dinila dari kinerjanya dalam mengaktualisasikan fungsi dan perannya sebagai kepala sekolah yaitu meliputi:[29]
1)  Sebagai Pendidik (educator)
a.    Kemampuan membimbing guru dalam melaksanakan tugas
b.    Mampu memberikan alternative pembelajaran yang efektif
c.    Kemampuan membimbing bermacam-macam kegiatan kesiswaan

2) Sebagai Manajer
a. Kemampuan menyusun organisasi personal dengan uraian tugas sesuai dengan  standar yang ada
b. Kemampuan menggerakkan stafnya dan segala sumber daya yang ada serta lebih lanjtu memberikan acuan yang dinamis dalam kegiatan rutin dan temporer
c.    Kemampuan menyusun program secara sistematis.
3) Sebagai Administrator
a. Kemampuan mengelola semua perangkat KBM secara sempurna dengan bukti berupa data administrasi yang akurat
b. Kemampuan mengelola administrasi kesiswaan , ketenagaan, keuangan, sarana dan prasarana, dan administrasi persuratan dengan ketentuan yang berlaku.
4) Sebagai Supervisor
Kegiatan utama pendidikan disekolah dalam rangka mewujudkan tujuannya adalah kegiatan pembelajaran sehingga seluruh aktivitas organisasi sekolah bermuara pada pencapaian efisiensi dan efektivitas pembelajaran. Oleh Karena itu salah satu tugas kepala sekolah adalah sebagai supervisor, yaitu memsupervisi perkerjaan yang dilakukan oleh tenaga kependidikan.[30]
a. Kemampuan menyusun program supervise pendidikan dilembaganya yang dapat melaksanakan dengan baik
b. Kemampuan memanfaatkan hasil supervisi untuk peningkatan kinerja guru dan karyawan
c.Kemampuan memanfaatkan kinerja guru atau karyawan untuk pengembangan dan
   peningkatan mutu pendidikan.


5)   Sebagai Pemimpin
Kepala sekolah sebagai leader harus mampu memberikan petunjuk dan pengawasan, meningkatkan kemampuan tenaga kependidikan. Kemampuan yang harus diwujudkan kepala sekolah sebagai leader dapat dianalisis dari kepribadian, pengetahuan terhadap tenaga kependidikan, visi dan misi sekolah, kemempuan mengambil keputusan dan kemempuan berkomunikasi. Kepribadian kepala sekolah sebagai leader tercermin dalam sifat-sifat jujur, percaya diri, tanggungjawab, berani mengambil resiko, dan keputusan, berjiwa besar, emosi yang stabil, dan teladan.
a.  Memiliki kepribadian yang kuat
b. Memahami semua personalnya yang memiliki kondisi yang berbeda, begitu juga kondisi siswanya berbeda dengan yang lainnya
c.  Memiliki upaya untuk peningkatan kesejahteraan guru dan karyawannya
6) Sabagai Inovator
Kepala sekolah sebagai innovator akan tercermin dari cara-cara ia melakukan perkerjaannya secara kostruktif, kreatif, delegatif, integrative,rasonal dan obyektif, pragmatis, keteladanan, disiplin, serta adatabel dan fleksibel.
a. Memiliki gagasan baru (proaktif) untuk inovasi dan perkembangan madrasah, memilih yang relevan untuk kebutuhan lembaganya
b. Kemampuan mengimplementasikan ide yang baru dengan baik
c.  Kemampuan mengatur lingkungan kerja sehingga lebih kondusif
5. Sikap dan Perilaku yang Perlu Dimiliki Kepala Sekoah
    Sikap dan perilaku kepemimpinan kepala sekolah adalah sebagai berikut.
a.    Memiliki tanggung jawab terhadap jabatan yang dipercayakan kepadanya.
b.    Memiliki kepedulian dan komitmen yang tinggi untuk mencapai sesuatu yang bermakna selama menduduki jabatannya.[31]
c.    Menegakkan disiplin waktu dengan penuh kesadaran bahwa disiplin merupakan kunci keberhasilan.
d.   Melaksanakan setiap tugas dan kegiatan dengan penuh tanggung jawab, dan selalu jelas makna (value) dari setiap kegiatan dalam kaitannya dengan peningkatan mutu lulusan.
e.    Proaktif (berinisiatif melakukan sesuatu yang diyakini baik) untuk peningkatan mutu pendidikan di sekolah, tidak hanya reaktif (hanya melaksanakan kegiatan jika ada petunjuk).
f.     Memiliki kemauan dan keberanian untuk menuntaskan setiap masalah yang dihadapi oleh sekolahnya.
g.    Menjadi leader yang komunikatif dan motivator bagi stafnya untuk lebih berprestasi, serta tidak bersikap bossy (pejabat yang hanya mau dihormati dan dipatuhi).
h.    Memiliki kepekaan dan merasa ikut bersalah terhadap sesuatu yang kurang pas, serta berusaha untuk mengoreksinya.
i.      Berani mengoreksi setiap kesalahan secara tegas dan bertindak bijaksana, serta tidak permisif (mudah mengerti, maklum dan memanfaatkan kesalahan).
6. Strategi Kepala Sekolah/Madrasah dalam Meningkatkan Mutu Pendidikan
Apabila kepala madrasah mampu menggerakkan, membimbing, dan mengarahkan para personel secara tepat akan bisa membawa organisasi madrasah kearah keberhasilan yang optimal. Oleh karena itu, kepala madarasah di samping memahami dan menguasai tentang pengelolaan madrasah yang baik dan bermutu, juga harus didukung oleh kepemimpinan yang mengedepankan visi dan berorientasi pada peningkatan mutu pendidikan.[32]
pemimpin madrasah yang berhasil memiliki beberapa kemampuan sebagai pemimpin, di antaranya (1) memiliki pengetahuan yang luas tentang teori pendidikan, (2) kemampuan menganalisis situasi sekarang berdasarkan apa yang seharusnya, (3) mampu mengindentifikasi masalah, dan mampu mengonseptualkan arah baru untuk perubahan.
Dalam konteks peningkatan mutu pendidikan, kepala madrasah perlu memilik karakteristik pribadi yang mencakup: dapat beradaptasi dengan situasi, peka terhadap lingkungan sosial, ambisius serta berorientasi pada hasil, tegas, dapat bekerja sama, meyakinkan, mandiri, mampu memengaruhi orang lain, energik, tekun, percaya diri, tahan stres, dan memikul tanggung jawab.
7. Kepemimpinan Kepala Sekolah yang Efektif
                 Kepemimpinan kepala sekolah yang efektif sangat menentukan keberhasilan sekolah. Sekolah yang efektif atau sukses hampir selalu ditentukan kepemimpinan kepala sekolah sebagai kunci kesuksesan . Kepala sekolah tidak hanya memberi layanan saja tetapi juga memelihara segala sesuatunya secara lancar dan terus-menerus dengan memelihara kerukunan, mencurahkan waktu, energi, intelek dan emosi untuk memperbaiki sekolah.[33]
                 Dalam mewujudkan sekolah yang bermutu ini jelas membutuhkan kepemimpinan sekolah efektif. Kriteria kepala sekolah yang efektif ialah mampu menciptakan atmosfir kondusif bagi murid-murid untuk belajar para guru untuk terlibat dan berkembang secara personal dan profesional dan seluruh masyarakat memberi dukungan dan harapan yang tinggi. Jika seorang kepala sekolah sudah dapat mengupayakan sekolah memenuhi kriteria di atas maka bisa disebut kepala sekolah efektif dan sekolah yang dikelolanya disebut sukses (succesfull school). Kepemimpinan kepala sekolah efektif selalu dikaitkan dengan kedudukan sebagai pengelola pembelajaran (instructure manager), pemimpin inspirasional (inspiration leader), pengelola sumber daya (manager of resources), pakar organisasi (organizational expert), pemimpin cultural (cultural leader) dan penasehat/ pelindung guru (teacher advocate).
    Menurut Mulyasa kriteria kepemimpinan kepala sekolah yang efektif adalah    sebagai berikut:
a.    Mampu memberdayakan guru-guru untuk melaksanakan proses pembelajaran dengan baik, lancar dan produktif.
b.    Dapat menjalankan tugas dan pekerjaan sesuai dengan waktu yang telah ditetapkan.
c.    Mampu menjalin hubungan yang harmonis dengan masyarakat, sehingga dapat melibatkan mereka secara aktif dalam rangka mewujudkan tujuan sekolah dan pendidikan.
d.   Berhasil menerapkan prinsip kepemimpinan yang sesuai dengan tingkat kedewasaan guru dan pegawai lain di sekoah.
e.    Mampu bekerja dengan tim manajemen sekolah.
f.     berhasil mewujudkan tujuan sekolah secara produktif sesuai dengan ketentuan yang telah ditentukan.
                     Sedangkan hasil penelitian Bernard sebagaimana dikutip oleh Mc. Pherson dkk. tentang kepala sekolah efektif dengan 7 karakteristik: tanpa pamrih, suka bekerja sama, suka berkomunikasi, mempunyai otoritas, piawai memproses keputusan, mempunyai dinamika keseimbangan dan eksekutif yang bertanggungjawab, perubahan sekolah menjadi efektif melalui perbaikan-perbaikan dan pelibatan semua unsur  untuk mengatasi persoalan.   









BAB III
PENUTUP
Dalam Islam kepemimpinan identik dengan istilah khalifah yang berarti wakil. Selain kata khalifah disebutkan juga kata ulil amri yang satu akar dengan kata amir, Dalam Al-Qur’an juga disebutkan istilah auliya yang berarti pemimpin yang sifatnya resmi dan tidak resmi. Dalam hadits Rasulullah SAW istilah pemimpin dijumpai dalam kata ra’in atau amir.
kepemimpinan adalah suatu kegiatan memengaruhi orang lain agar orang tersebut mau bekerja sama (mengolaborasi potensinya) untuk mencapai tujuan yang telah ditetapkan. Kepemimpinan juga sering dikenal sebagai kemampuan untuk memperoleh konsensus anggota organisasi untuk melakukan tugas manajemen agar tujuan organisasi tercapai.
Kedudukan kepala madrasah sangat unik karena ia memiliki beberapa posisi, yaitu sebagai pejabat formal, sebagai manajer, sebagai pemimpin, sebagai pendidik, dan sebagai staf, merupakan kedudukan yang melekat pada diri kepala madrasah.
Kepemimpinan kepala sekolah yang efektif sangat menentukan keberhasilan sekolah. Sekolah yang efektif atau sukses hampir selalu ditentukan kepemimpinan kepala sekolah sebagai kunci kesuksesan . Kepala sekolah tidak hanya memberi layanan saja tetapi juga memelihara segala sesuatunya secara lancar dan terus-menerus dengan memelihara kerukunan, mencurahkan waktu, energi, intelek dan emosi untuk memperbaiki sekolah.
Dalam mewujudkan sekolah yang bermutu ini jelas membutuhkan kepemimpinan sekolah efektif. Kriteria kepala sekolah yang efektif ialah mampu menciptakan atmosfir kondusif bagi murid-murid untuk belajar para guru untuk terlibat dan berkembang secara personal dan profesional dan seluruh masyarakat memberi dukungan dan harapan yang tinggi.




[2] Mulyadi, Kepemimpinan Kepala Sekolah dalam Mengembangkan Budaya Mutu (Malang: UIN- Maliki Press, 2010) hal. 4
[3] Syaiful Sagala, Kemampuan Profesional Guru dan Tenaga Kependidikan, (Bandung: Alfabeta, 2009) hal.5
[4] Sodang P. Siagian, Fungsi-fungsi Manajerial (Jakarta: Bina Aksara, 1989) hal. 8
[5] Mujamil Qomar, Manajemen Pendidikan Islam ( PT Gelora: Penerbit Erlangga) hal. 269
[6] Abu Dawud Sulaiman Ibnu al-Sajistami al-Azdy, Sunan Abi Dawud (Indonesia: Maktabah Dahlan, tt)
[7] Jamal Madhi, Menjadi Pemimpin yang Efektif dan Berpengaruh: Tinjauan Manajemen Kepemimpinan Islam, ter. Anang Syafrudin dan Ahmad Fauzan (Bandung: PT Syaamil Cipta Media, 2002) hal. 14
[8] Ibid. hal 2
[9] Software Qur’an in Word 2007, Lihat Q.S. Baqarah (2) ayat 30
[10] Software Qur’an in Word 2007, Lihat Q.S. al-Nisa (4) ayat 59
[11] Software Qur’an in Word 2007, Lihat Q.S. al-Nisa (4) ayat 83
[12] Mulyadi, Kepemimpinan Kepala Sekolah……………….hal. 8
[13] Muhaimin, Suti’ah, Sugeng Listyo Prabowo, Manajemen Pendidikan Aplikasinya dalam Penysunan Rencana Pengembangan Sekolah/Madrasah (Jakarta: Prenada Media Group, 2010) hal. 29
[14] Sudarwan Danim dan Suparno, Managemen dan Kepemimpinan Transformasional Kekepalasekolahan: Visi dan Strategi Sukses Era Tehnologi, Situasi Krisis, dan Internalisasi Pendidikan.(Jakarta:Reni Cipta,2009) hal. 3
[15] E.Mulyasa, Manajemen Berbasis Sekolah: Konsep, Strategi, dan Implementasi (Bandung: PT.Remaja Rosdakarya, 2004) hal.107
[16] Ibid, hal 117
[17] Abdurrahman Mas’ud, “Peran Mahasiswa dalam Mengembangkan Tradisi Akademik Di PTA.” Makalah Dipresentasikan Di STAIN Jember Pada Tanggal 1 September 2003 Dalam Rangka Ceramah Ilmiah Stadium General.
[18] M. Sulton dan Moh.Khusnuridlo, Managemen Pondok Pesantren dalam Perspektif Global (Yogyakarta: LaksBang Press, 2006) hal.42
[19] Wahab & Umiarso, Kepemimpinan Pendidikan dan Kecerdasan Spritual (Jogjakarta: Ar-Ruzz Media, 2011) hal. 88
[20] Maman Ukas, Manajemen Konsep, Prinsip, dan Aplikasi (Bandung:Ossa Promo, 1999) hal. 261-262
[21] Abd. Wahab & Umiarso, Kepemimpinan Pendidikan dan Kecerdasan Spiritual (Jogjakarta: Ar-Ruzz Media,2011) hal. 95
[22] Dede Rosyada, Paradigma Pendidikan Demokratis (Jakarta: Prenada Media, 2004) hal. 240-242
[23] Soekarto Indrafachrudi, Bagaimana Memimpin Sekolah yang Efektif (Bogor: Ghalia Indonesia, 1994) hal. 23
[24] Mulyasa, Menjadi Kepala Sekolah Professional, (Bandung: Remaja Rosdakarya, 2004) hlm. 24
[25] Marno, Triyo Suppriyatno, Manajemen dan Kepemimpinan Pendidikan Islam, (Bandung: Refika Aditma, 2008), hlm. 36
[26] Software Qur’an in Word 2007, Lihat Q.S. Al-Maidah (5) ayat 48.
[27] Software Qur’an in Word 2007, Lihat Q.S. Shaad (38) ayat 26
[28] Mulyadi, Kepemimpinan Kepala Sekolah……………….hal. 59
[29] Ibid, hal. 37-39
[31] Mulyasa, Manajemen & Kepemimpinan Kepala Sekolah (Jakarta: PT Bumi Aksara, 2011) hal. 59
[32] Prim Masrokan Mutohar, Manajemen Mutu Sekolah Strategi Peningkatan Mutu dan Daya Saing Lembaga Pendidikan Islam (Jogjakarta: Ar-Ruzz Media, 2013) hal. 283
[33] Mulyadi, Kepemimpinan Kepala Sekolah dalam Mengembangkan Budaya Mutu (Malang: UIN- Maliki Press, 2010) hal. 69

No comments:

Post a Comment