Monday, April 6, 2015

KEPEMIMPINAN



MOH.KAMILUS ZAMAN SPDI
BAB I
PENDAHULUAN
1.1    Latar Belakang
Kepemimpinan sekolah yang efektif sangat penting bagi tewujudnya sekolah yang efektif. Sekolah bisa dikatakan efektif bila sekolah itu dikelola secara baik, gurunya profesional, sumber belajarnya tersedia, dan lingkungannya kondusif untuk pembelajaran. Dan itu semua bisa terwujud bila ada kepemimpinan yang efektif di sekolah tersebut. Tugas kepemimpinan di sekolah saat ini jauh lebih berat bila dibandingkan dengan masa-masa yang lalu. Tantangan yang dihadapi sekolah juga jauh lebih kompleks dan beragam.
Pimpinan sekolah sebagai orang penentu keberhasilan dan kegagalan sekolah. Keberhasilannya ditentukan oleh kapasitas belajarnya untuk menguasai ilmu pengetahuan dan menerapkan ilmu pengetahuannya dalam keterampilan yang terbaik untuk mengarahkan dan mendorong kekuatan siswa, guru, staf dan orang tua agar semua bergerak dan berusaha kuat untuk mencapai tujuan.
Pemahaman pimpinan sekolah perlu terus dikembangkan untuk lebih mamahami profil lulusan yang diharapkannya, mengerahkan sumber daya pendidik untuk memfasilitasi siswa balajar secara optimal dengan standar yang selalu ditingkatkan dari waktu ke waktu. Pimpinan sekolah yang berhasil adalah yang mampu menampilkan dirinya sebagai model diri yang berkembang, menjadi teladan bagi guru, siswa dan yang lainnya serta mampu berkomunikasi dan beradaptasi dengan perubahan.
1.2    Rumusan Masalah
1.    Apa arti dari dari sebuah kepemimpinan?
2.    Bagaimana kepemimpinan sekolah yang efektif?
3.    Apa saja macam-macam gaya kepemimpinan?
4.    Apa saja ketrampilan yang harus dimiliki seorang pemimpin?

1.3    Tujuan Masalah
1.    Untuk mengetahui arti dari sebuah kepemimpinan
2.    Untuk mengetahui bagaimana kepemimpinan sekolah yang efektif
3.    Untuk mengetahui macam-macam gaya kepemimpinan
4.    Untuk mengetahui apa saja ketrampilan yang harus dimiliki seorang pemimpin
















BAB II
PEMBAHASAN
2.1  Arti Kepemimpinan
            Kepemimpinan merupakan ruh yang menjadi pusat sumber gerak organisasi untuk mencapai tujuan. Kepemimpinan yang berkaitan dengan kepala sekolah dalam meningkatkan kesempatan untuk mengadakan pertemuan secara efektif dengan para guru dalam situasi yang kondusif.[1]
            Kepemimpinan merupakan sebuah fenomena universal. Siapapun menja lankan tugas kepemimpinan, ketika dalam tugas itu dia berinteraksi dengan dan mempengaruhi orang lain. Bahkan dalam kapasitas pribadipun, di dalam tubuh manusia itu ada kapasitas atau potensi pengendali yang pada intinya memfasilitasi seseorang untuk dapat memimpin dirinya sendiri. Oleh karenanya tidak ada satu definisi kepemimpinan pun dapat dirumuskan secara lengkap untuk mengabstraksikan perilaku sosial atau perilaku interaktif manusia di dalam organisasi yang memiliki regulasi dan struktur tertentu, serta misi yang kompleks.[2]
            Ada berbagai macam versi atau pandangan, namun definisi kepemimpinan secara umum adalah kemampuan untuk mempengaruhi untuk mendapatkan pengikut. Tapi untuk memperkaya perbendaharaan pengetahuan kita, berikut saya tambahkan pengertian kepemimpinan yang saya temukan dari berbagai sumber :
1.        Kepemimpinan adalah suatu proses yang memberi arti (penuh arti kepemimpinan) pada kerjasama dan dihasilkan dengan kemauan untuk memimpin dalam mencapai tujuan ( Jacobs & Jacques, 1990).
2.        Kepemimpinan adalah suatu proses yang mempengaruhi aktifitas kelompok yang diatur untuk mencapai tujuan bersama (Rauch & Behling, 1984).
3.        Kepemimpinan adalah sikap pribadi, yang memimpin pelaksanaan aktivitas untuk mencapai tujuan yang diinginkan. (Shared Goal, Hemhiel & Coons, 1957).
4.        Kepemimpinan adalah pengaruh antar pribadi, dalam situasi tertentu dan langsung melalui proses komunikasi untuk  mencapai satu atau beberapa tujuan tertentu (Tannebaum, Weschler and Nassarik, 1961).
2.2  Kepemimpinan Sekolah yang Efektif
            Keberhasilan suatu lembaga pendidikan sangat tergantung pada kepemimpinan kepala sekolah, karena ia merupakan pemimpin di lembaganya, maka ia harus mampu membawa lembaganya ke arah tercapainya tujuan yang telah ditetapkan. Kepala sekolah/madrasah harus bertanggung jawab atas kelancaran dan keberhasilan semua urusan pengaturan dan pengelolaan sekolah secara formal kepada atasannya atau secara informal kepada masyarakat yang telah menitipkan anak didiknya. Kepala sekolah sebagai seorang pendidik, administrator, pemimpin, dan supervisor diharapkan dengan  dapat mengelola lembaga pendidikan ke arah perkembangan yang lebih baik dan dapat menjanjikan masa depan.
            Sebagai pemimpin pendidikan dari sekolahnya, seorang kepala sekolah mengorganisasikan sekolah dan personal mengorganisasikan sekolah dan personil yang bekerja di dalamnya ke dalam situasi yang efisien, demokratis dan kerja sama institusional yang tergantung keahlian para pekerja. Di bawah kepemimpinannya program pendidikan untuk para murid harus direncanakan , diorganisir dan ditata.
            Peran kepala sekolah dalam kepemimpinan adalah kepribadian dan sikap aktifnya dalam mencapai tujuan. Mereka aktif dan rekreatif, membentuk ide daripada menanggapi untuk mereka. Kepemimpinan kepala sekolah cenderung mempengaruhi perubahan suasana hati, menimbulkan kesan dan harapan, dan tepat pada keinginan dan tujuan khusus yang ditetapkan untuk urusan yang terarah. Hasil kepemimpinan ini mempengaruhi perubahan cara orang berfikir tentang apa yang dapat diinginkan, dimungkinkan, dan diperlukan.
            Kepala sekolah sebagai pemimpin pendidikan harus dapat mengenai dan mengerti berbagai kedudukan, keadaan, dan apa yang diinginkan baik oleh guru maupun pegawaitata usaha serta pembantu lainnya. Sehingga dengan kerjasama yang baik dapat menghasilkan pikiran yang harmonis dalam usaha perbaikan sekolah. Kegagalan dalam hal ini mencerminkan gagalnya perilaku serta peranan kepemimpinan seorang kepala sekolah. Semua ini perlu menjadi bahan pertimbangan bagi seorang kepala sekolah dalam menggerakkan seluruh anggota yang dipimpinnya.[3]
            Kepala sekolah ideal harus memiliki kelebihan dibandingkan dengan kelompok yang dipimpinnya, sekaligus ada kesadaran di dalam dirinya bahwa dia memiliki kelemahan. Seseorang kepala sekolah menjalankan fungsi kepemimpinann setidaknya harus memiliki persyaratan agar sekolah yang mereka pimpin semakin menjadi efektif, antara lain:
1.    Memiliki kesehatan jasmani dan ruhani yang baik
2.    Berpegang teguh pada tujuan yang dicapai
3.    Bersemangat
4.    Cakap di dalam memberi bimbingan
5.    Cepat dan bijaksana dalam mengambil keputusan
6.    Jujur
7.    Cerdas
8.    Cakap dalam hal mengajar dan menaruh kepercayaan yang baik dan berusaha untuk mencapainya
            Adapun faktor-faktor yang mempengaruhi efektivitas kepemimpinan adalah:
1.    Kepribadian, pengalaman masa lalu dan harapan pimpinan. Hal ini mencakup nilai-nilai, latar belakang, dan pengalamannya akan mempengaruhi pilihan akan gaya.
2.    Pengharapan dan perilaku atasan
3.    Karakteristik, harapan dan perilaku bawahan mempengarhi terhadap gaya kepemimpinan.
4.    Kebutuhan tugas, setiap tugas bawahan juga akan mempengaruhi gaya kepemimpinan.
5.    Iklim dan kebijaksanaan organisasi mempengaruhi harapan dan perilaku bawahan
6.    Harapan dan perilaku rekan[4]
2.3 Gaya Kepemimpinan
Terdapat tiga kepemimpinan yang dipandang representatif dengan tuntunan era desentralisasi, yaitu kepemimpinan transaksional, kepemimpinan transformasional, dan kepemimpinan visioner. Ketiga gaya kepemimpinan ini memiliki titik konsentrasi yang khas sesuai dengan jenis permasalahan dan mekanisme kerja yang diserahkan pada bawahan.
1)   Kepemimpinan Transaksional
Kepemimpinan transaksional adalah kepemimpinan yang menekankan pada tugas yang diemban bawahan. Pemimpin adalah seseorang yang mendesign pekerjaan beserta mekanismenya, dan staf adalah seseorang yang melaksanakan tugas sesuai dengan kemampuan dan keahlian.
Kepemimpinan transaksional lebih difokuskan pada peranannya sebagai manajer karena ia sangat terlibat dalam aspek-aspek prosedural manajerial yang metodologis dan fisik. Dikarenakan sistem kerja yang jelas merujuk kepada tugas yang diemban dan imbalan yang diterima sesuai dengan derajat yang pengorbanan dalam pekerjaan maka kepemimpinan transaksioanal yang sesuia diterapkan di tengah-tengah staf yang belum matang, dan menekankan pada pelaksanaan tugas untuk mendapatkan intensif bukan pada aktualisasi diri. Oleh karena itu, kepemimpin transaksional dihadapkan pada orang-orang yang ingin memenuhi kebutuhan hidupnya dari segi sandang, pangan, dan papan.
Dalam melaksanakan peran kepemimpinannya, para pemimpin transak sioanal percaya bahwa orang cenderung lebih senang diarahkan, menjadi pekerja yang ditentukan prosedur dan pemecahan masalahnya daripada harus memikul sendiri tanggung jawab atas segala tindakan dan keputusan yang diambil, sehingga para bawahan pada iklim transaksi tidak cocok diserahi tanggung jawab merancang pekerjaan secara inisiatif.
2)  Kepemimpinan Transformasional
Kepemimpinan transformasional hadir menjawab tantangan zaman yang penuh dengan perubahan. Zaman yang dihadapi saat ini bukan zaman ketika manusia menerima segala apa yang menimpanya, tetapi zaman di mana manusia dapat mengkritik dan meminta yang layak dari apa yang diberikannya secara kemanusiaan. Kepemimpinan ini tidak saja didasarkan pada kebutuhan akan penghargaan diri, tetapi menumbuhkan kesadaran pada pemimpin untuk berbuat yang terbaik sesuai dengan kajian perkembangan manejemen dan kepemimpinan yang memandang manusia, kinerja, dan pertumbuhan organisasi adalah sisi yang saling berpengaruh.
Pemimpin transformasional adalah pemimpin yang memiliki wawasan jauh ke depan dan berupaya memperbaiki dan mengembangkan organisasi bukan untuk saat ini tapi di masa datang. Oleh karena itu, pemimpin transformasional adalah pemimpin yang dapat dikatakan sebagai pemimpin yang visioner.
Pemimpin transformasional adalah agen perubahan dan bertindak sebagai katalisator, yaitu yang memberi peran mengubah sistem ke arah yang lebih baik. Katalisator adalah sebutan lain untuk pemimpin transformasional karena ia berperan meningkatkan segala sumber daya manusia yang ada. Berusaha menberikan reaksi yang menimbulkan semangat dan daya kerja cepat semaksimal mungkin, selalu tampil sebagai pelopor dan agen perubahan.
Kepemimpinan transformasional dapat dipandanng secara makro dan  mikro. Jika dipandang secara mikro kepemimpinan transformasional merupakan proses mempengaruhi antar individu, sementara secara makro merupakan proses memobilisasi kekuatan untuk mengubah sistem sosial dan mereformasi kelembagaan.
2)   Kepemimpinan Visioner
Kepemimpinan memiliki kedudukan yang menentukan dalam organisasi. Pemimpin yang melaksanakan kepemimpinannya secara efektif dapat menggerakkan orang/personal ke arah tujuan yang dicita-citakan, sebaliknya pemimpin yang keberadaannya hanya sebagai figur, tidak memiliki pengaruh, kepemimpinannya dapat mengakibatkan lemahnya kinerja organisasi, yang pada akhirnya dapat menciptakan keterpurukan.
Keterpurukan bidang pendidikan nasional adalah salah satunya disebabkan karena belum adanya visi strategis yang menepatkan pendidikan sebagai leading sector. Hal ini memberikan makna betapa kuatnya visi pendidikan mempengaruhi kinerja pendidikan. Orang yang bertanggung jawab merumuskan visi adalah pemimpin melalui kinerja kepemimpinannya. Visi dirumuskan bukan semata-mata untuk menciptakan sistem pendidikan berkualitas yang mampu bertahan dan berkembang memenuhi tuntutan perubahan dan idealisme, tetapi dapat mengakomodasi kepentingan hubungan baik di antara personal dalam melaksanakan tugas dan fungsinya serta meniti karirnya.
Kepemimpinan yang relevan dengan tuntutan school based management dan didambakan bagi peningkatan kualitas pendidikan adalah kepemimpinan yang memiliki visi (visionary leadership), yaitu kepemimpinan yang kerja pokoknya dilakukan pada rekayasa masa depan yang penuh tantangan.[5]
Kepemimpianan pendidikan yang diperlukan saat ini adalah kepemimpinan yang didasarkan pada jati diri bangsa yang hakiki yang bersumber dari nilai-nilai budaya adn agama, serta mampu mengantisipasi perubahan-perubahan yang terjadi dalam dunia pendidikan khususnya dan umumnya atas kemajuan-kemajuan yang diraih di luar sistem sekolah. Dari paparan gaya kepemimpinan di atas, bisa kita simpulkan bahwa gaya kepemimpinan yang paling cocok dan ideal bagi pendidikan pada masa sekarang ini adalah kepemimpinan visioner.
Kepemimpinan visioner salah satunya ditandai oleh kemampuan dalam membuat perencanaan yang jelas sehingga dari rumusan visinya tersebut akan tergambar sasaran apa yang hendak dicapai dari pengembangan lembaga yang dipimpinnya.
2.3    Ketrampilan Kepala Sekolah
Di lingkungan pendidikan, ada seperangkat ketrampilan yang harus dimiliki oleh kepala sekolah sebagai pemimpin pendidikan dalam melaksanakan sejumlah tugas. Ketika pengelolaan sekolah makin didorong tumbuh secara otonom sejalan dengan kebijaksanaan desentralisasi pendidikan, kepala sekolah yang terampil menjadi sebuah tuntutan. Ketrampilan kepala sekolah itu dimaksudkan sebagai bekal bagi mereka untuk dapat melaksanakan manajemen pendidikan atau manajemen sekolah berbasis MBS secara lebih baik. Dengan ketrampilan tersebut, diharapkan kepala sekolah dapat melaksanakan tugas secara efektif dan efisien.[6]
Pemikiran tentang kepemimpinan modern juga berangkat dari konsep bahwa kepemimpinan adalah suatu seni (leadership is an art). Pemimpin profesional adalah seorang seniman dalam memimpin. Seni adalah buah kreasi personal yang mungkin tidak dimiliki orang lain.Oleh karena itu, seni dalam memimpin berbeda pada setiap orang. Namun demikian, ketrampilan umum yang mereka perlukan secara prinsip adalah sama. Ketrampilan yang dimaksud adalah ketrampilan untuk melaksanakan tugas kepemimpinan yang efektif dan efisien. Robert L. Katz mengatakan bahwa ketrampilan yang harus dimiliki oleh administrator yang efektif adalah ketrampilan teknis, ketrampilan hubungan manusiawi, dan ketrampilan konseptual.
1.    Ketrampilan Teknis
Ketrampilan teknis adalah ketrampilan menerapkan pengetahuan teoritis dalam tindakan praktis, kemampuan menyelesaikan tugas secara sistematis. Ketrampilan teknis ini biasanya dimiliki orang-orang yang menduduki jabatan tingkat menengah atau bawah. Mereka tampil dalam menggunakan metode, teknik, prosedur, atau prakarsa baru, terutama yang berhubungan dengan benda mati. Ketrampilan ini erat kaitannya dengan gerak motorik atau ketrampilan tangan (manual). Ketrampilan yang dimaksud antara lain:
a.       Menyusun laporan pertanggung jawaban
b.      Menyusun program tertulis
c.       Membuat data statistik sekolah
d.      Menbuat keputusan dan merealisasikannya
e.       Mengetik
f.       Menata ruang
g.      Membuat surat
Dengan uraian ini tidaklah berarti bahwa pimpinan puncak tidak perlu memiliki ketrampilan teknis. Ketrampilan teknis ini pun harus dimiliki oleh mereka minimal untuk masalah standar, seperti kriteria keberhasilan, penjadwalan dan sebagainya.
2.    Ketrampilan Hubungan Manusiawi
Ketrampilan hubungan manusiawi adalah ketrampilan untuk menempatkan diri di dalam kelompok kerja dan ketrampilan menjalin komunikasi yang mampu menciptakan kepuasan kedua belah pihak. Hubungan manusiawi melahirkan suasana koperatifdan menciptakan kontak manusiawi antarpihak yang terlibat. Bagi pimpinan puncak menghadapi manusia menduduki posisi terbesar, lebih dari separuh aktivitas rutinnya. Tanpa memiliki kemampuan dalam hubungan manusiawi, kelompok kerja sama tidak mungkin terjalin hubungan secara harmonis. Ketrampilan hubungan manusiawi ini antara lain:
a.       Menempatkan diri dalam kelompok
b.      Menciptakan kepuasan pada diri bawahan
c.       Sikap terbuka terhadap kelompok kerja
d.      Kemampuan mengambil hati melalui keramahtamahan
e.       Penghargaan nilai-nilai etis
f.       Pemerataan tugas dan tanggung jawab
g.      I’tikad baik, adil, menghormati dan menghargai orang lain
Di bidang kepemimpinan dan manajemen, interaksi dinamis antara pimpinan puncak, kelompok pimpinan di bawahnya, dan para karyawan adalah syarat mutlak menuju tercapainya tujuan organisasi. Hal ini akan melahirkan kepuasan dalam diri individu yang pada gilirannya akan merangsang motivasi kerja karyawan.
3.    Ketrampilan Konseptual
Ketrampilan konseptual adalah kecakapan untuk memformulasikan pikiran, memahami teori-teori, melakukan aplikasi, melihat kecenderungan berdasarkan kemampuan teoritis yang dibutuhkandi dalam dunia kerja. Kepala sekolah atau para pengelola satuan pendidikan dituntut dapat memahami konsep dan teori yang erat hubungannya dengan pekerjaan.
       Demikian halnya untuk dapat melaksanakan praktik administrasi yang efektif, seorang administrator harus memahami teori-teori administrasi. Untuk dapat melaksanakan supervisi dengan baik, seorang supervisor harus memahami ilmu dan seni supervisi. Ringkasnya, ketrampilan konseptual dituntut di dalam dunia kerja. Ketrampilan konseptual antara lain tercermin dalam:
a.       Pemahaman terhadap teori secara luas dan mendalam
b.      Kemampuan mengorganisasi pikiran
c.       Keberanian mengeluarkan pendapat secara akademik
d.      Kemampuan mengorelasikan bidang ilmu yang dimiliki dengan berbagai situasi
Ketrampilan yang dimiliki kepala sekolah ditujukan kepada upaya mencapai tujuan pendidikan pada umumnya dan kedewasaan anak didik pada khususnya. Lembaga pendidikan harus benar-benar berfungsi, baik sebagai pewaris nilai, agen pembaru, dan lembaga penempa manusia.
Administrator sekolah harus mampu mengorganisasikan staf dan menbantu guru dalam memformulasikan program bagi peningkatan kualitas pendidikan di sekolah. Kepala sekolah harus mampu mengembangkan kemampuan profesionalitas guru, mengembangkan program supervisi, dan merangsang guru untuk berpartisipasai aktif di dalam usaha mencapai tujuan. Administrator dan supervisor harus mampu menumbuhkan inspiraasi guru-guru, menciptakan suasana kerja sama dalam pengembangan program supervisi, serta mendorong guru-guru untuk mencapai tujuan yang diharapkan.[7]

















BAB III
PENUTUP
3.1  Kesimpulan
            Kepemimpinan merupakan ruh yang menjadi pusat sumber gerak organisasi untuk mencapai tujuan. Kepemimpinan yang berkaitan dengan kepala sekolah dalam meningkatkan kesempatan untuk mengadakan pertemuan secara efektif dengan para guru dalam situasi yang kondusif.
            Keberhasilan suatu lembaga pendidikan sangat tergantung pada kepemimpinan kepala sekolah, karena ia merupakan pemimpin di lembaganya, maka ia harus mampu membawa lembaganya ke arah tercapainya tujuan yang telah ditetapkan. Kepala sekolah sebagai seorang pendidik, administrator, pemimpin, dan supervisor diharapkan dengan  dapat mengelola lembaga pendidikan ke arah perkembangan yang lebih baik dan dapat menjanjikan masa depan.
            Terdapat tiga kepemimpinan yang dipandang representatif dengan tuntunan era desentralisasi, yaitu kepemimpinan transaksional, kepemimpinan transformasional, dan kepemimpinan visioner. Ketiga gaya kepemimpinan ini memiliki titik konsentrasi yang khas sesuai dengan jenis permasalahan dan mekanisme kerja yang diserahkan pada bawahan.
            Di lingkungan pendidikan, ada seperangkat ketrampilan yang harus dimiliki oleh kepala sekolah sebagai pemimpin pendidikan dalam melaksanakan sejumlah tugas. Ketrampilan yang harus dimiliki oleh administrator yang efektif adalah ketrampilan teknis, ketrampilan hubungan manusiawi, dan ketrampilan konseptual.



DAFTAR PUSTAKA
Mulyono. 2008. Manajemen Administrasi & Organisasi Pendidikan. Yogyakarta: Ar Ruzz Media.
Marno dan Triyo Supriyanto. 2008. Manajemen dan Kepemimpinan Islam. Bandung: PT Refika Aditama
Komariah, Aan dan Cepi Triatna. 2005. Visionary Leadership Menuju Sekolah Efektif. Jakarta: PT Bumi Aksara.
Mulyasa. 2006. Manajemen Berbasis Sekolah. Bandung: PT Remaja Rosdakarya.
Danim, Sudarwan. 2006. Visi Baru Manajemen Sekolah. Jakarta: PT Bumi Aksara.
Saroni, Muhammad. 2006. Manajemen Sekolah. Yogyakarta: Ar Ruzz Media.
http://en.wikipedia.org/wiki/School_leadership




[1] Mulyono, Manajemen Administrasi &Organisasi Pendidikan, (Jogjakarta: Ar Ruzz Media, 2010), hal. 143.
[2] Sudarwan Danim, Visi Baru Manajemen Sekolah, (Jakarta: PT Bumi Aksara, 2006), hal. 204.
[3] Marno dan Triyo Supriyatno, Manajemen dan Kepemimpinan Pendidikan Islam, (Bandung: PT Refika Aditama, 2008), hal. 33.
[4]  Mulyono, Manajemen Administrasi & Organisasi Pendidikan,.....hal. 148.
[5] Aan Komariah dan Cepi Triana, Visionary Leadership menuju Sekolah Efektif, (Jakarta: PT Bumi Aksara, 2005).
[6] Sudarwan Danim, Visi Baru Manajemen Sekolah...hal. 204
[7] Ibid, hal.205.

No comments:

Post a Comment