Monday, April 6, 2015

metode pembelajaran konvensiona



BAB I
PENDAHULUAN

1.1         Latar Belakang
Guru pada sekarang ini sangatlah membutuhkan perhatian khusus agar tetap dapat berjalan sesuai dengan tujuan yang diinginkan bersama. Metode pembelajaran yang digunakan merupakan salah satu faktor penting yang mempengaruhi guru. Seorang guru dituntut untuk menguasai berbagai model-model pembelajaran, di mana melalui model pembelajaran yang digunakannya akan dapat memberikan nilai tambah bagi anak didiknya. Selanjutnya yang tidak kalah pentingnya dari proses pembelajarannya adalah hasil belajar yang optimal atau maksimal. Dengan demikian dapat dihasilkan output yang berkualitas.
Selama ini banyak guru yang menggunakan metode pembelajaran konvensional dalam proses mengajar. Secara umum yang dimaksud dengan metode pembelajaran konvensional yaitu pembelajaran dengan cara ceramah dimana peran guru di sini aktif dan peserta didik cenderung pasif. Ada sebuah pendapat yang menyatakan bahwa metode tersebut sudah tidak layak digunakan, hingga kini muncul metode pembelajaran baru. Metode yang dimaksud yaitu metode pembelajaran hypnoteaching. Metode pembelajaran yang penyampaian materinya menggunakan bahasa-bahasa bawah sadar. Metode yang mampu memunculkan ketertarikan tersendiri pada setiap peserta didik. Untuk itu kita harus mampu membandingkan kedua metode tersebut. Dengan begitu kita dapat menentukan metode mana yang tepat digunakan dalam proses pembelajaran sekarang ini.
1.2 Rumusan Masalah
  1. Apa yang disebut dengan metode pembelajaran konvensional?
  2. Apa saja metode-metode yang digunakan dalam pembelajaran konvensional?
1.3              Tujuan
1.       Mengetahui apa yang disebut metode pembelajaran konvensional.
2.       Mengetahui metode-metode yang digunakan dalam pembelajaran konvensional.






BAB II
PEMBAHASAN

2.1              Pengertian metode konvensional
Secara harfiah “metodik” itu berasal dari kata “metode” ( method ). Metode berarti suatu cara kerja sistematik dan umum, seperti cara kerja ilmu pengetahuan . Dari segi bahasa metode berasal dari dua kata yaitu meta dan hodos. Meta berarti “melalui” dan hodos berarti “jalan” atau “cara”. Dengan demikian metode dapat diartikan cara atau jalan khusus yang harus dilalui untuk mencapai suatu tujuan . Metode adalah cara kerja yang bersistem untuk memudahkan pelaksanaan suatu kegiatan yang mencapai tujuan yang di tentukan.
Ada beberapa pandangan yang berbeda mengenai pengertian pembelajaran konvensional. Berikut ini beberapa pengertian pembelajaran konvensional menurut para ahli :
1. Roestiyah N.K. (1998)
Pembelajaran konvensional adalah cara mengajar yang paling tradisional dan telah lama dijalankan dalam sejarah Guruan ialah cara mengajar dengan ceramah.
2. Djamarah (1996)
Metode pembelajaran konvensional adalah metode pembelajaran tradisional atau disebut juga dengan metode ceramah, karena sejak dulu metode ini telah dipergunakan sebagai alat komunikasi lisan antara guru dengan anak didik dalam proses belajar dan pembelajaran.
3. Freire (1999)
Istilah terhadap pengajaran seperti itu sebagai suatu penyelenggaraan guruan ber-“gaya bank” (banking concept of education). Penyelenggaraan guruan hanya dipandang sebagai suatu aktivitas pemberian informasi yang harus “ditelan” oleh siswa, yang wajib diingat dan dihafal.
4. Burrowes (2003)
Menurut Burrowes pembelajaran konvensional lebih menekankan pada resitasi konten, tanpa memberikan waktu yang cukup kepada siswa untuk merefleksi materi-materi yang dipresentasikan, menghubungkannya dengan pengetahuan sebelumnya, atau mengaplikasikannya kepada situasi kehidupan nyata.



Karakteristik Pembelajaran Konvensional
Pembelajaran konvensional sudah lama digunakan oleh generasi sebelumnya sehingga sering disebut dengan pembelajaran yang tradisional. Adapun pembelajaran konvensional memiliki karakteristik sebagai berikut :
1.      pembelajaran berpusat pada guru
2.      terjadi passive learning
3.      interaksi di antara siswa kurang
4.      tidak ada kelompok-kelompok kooperatif
5.      penilaian bersifat sporadis
6.       lebih mengutamakan hafalan
7.      sumber belajar banyak berupa informasi verbal yang diperoleh dari buku
8.      mengutamakan hasil daripada proses.

2.2 metode-metode yang digunakan dalam pembelajaran konvensional
A.    Metode Pembiasaan
1.      Pengertian Pembiasaan
Dalam kaitannya dengan metode pengajaran dalam pendidikan Islam, dapat dikatakan bahwa pembiasaan adalah sebuah cara yang dapat dilakukan untuk membiasakan anak didik berfikir, bersikap dan bertindak sesuai dengan tuntutan agama Islam. Sebagai awal dalam proses pendidikan, pembiasaan merupakan cara yang sangat efekif dalam menanamkan nilai-nilai moral ke dalam jiwa anak. Nilai-nilai yang tertanam dalam dirinya ini kemudian akan termanifestasikan dalam kehidupannya semenjak ia mulai melangkah ke usia remaja dan dewasa.
Pendekatan pembiasaan sesungguhnya sangat efektif dalam menanamkan nilai-nilai positif ke dalam diri anak didik; baik pada aspek kognitif, afektif dan psikomotorik. Selain itu pendekatan pembiasaan juga dinilai sangat efisien dalam mengubah kebiasaan negative menjadi positif.

2.      Syarat-syarat Pemakaian Metode Pembiasaan
Ditinjau dari segi ilmu psikologi kebiasaan seseorang erat kaitannya dengan figure yang menjadi panutan dalam perilakunya. Oleh karena itu ada beberapa syarat yang harus dilakukan dalam mengaplikasikan pendekatan pembiasaan dalam pendidikan antara lain :
1.      Mulailah pembiasaan itu sebelum terlambat.
2.      Pembiasaan hendaklah dilakukan secara kontiniu, teratur dan berprogram sehingga pada akhirnya akan terbentuk sebuah kebiasaan yang utuh, permanen dan konsisten. Oleh karena itu factor pengawasan sangat menentukan dalam pencapaian keberhasilan dalam proses ini.
3.      Pembiasaan hendaklah diawasi secara ketat, konsisten dan tegas.
4.      Pembiasaan yang pada mulanya hanya bersifat mekanistis, hendaknya secara berangsur-angsur dirubah menjadi kebiasaan yang tidak verbalistik dan menjadi kebiasaan yang disertai dengan kata hati anak didik itu sendiri.

3.      Kelebihan dan kekurangan Metode Pembiasaan
Pendekatan pembiasaan tidak bisa terlepas dari dua aspek yang saling bertentangan yaitu kelebihan dan kekurangan, yaitu :
a.       Kelebihan
1.    Dapat menghemat tenaga dan waktu dengan baik
2.    Pembiasaan tidak hanya berkaitan dengan aspek lahiriyah saja tetapi juga berhubungan dengan aspek batiniyah.
3.    Pembiasaan dalam sejarah tercatat sebagai metode yang paling berhasil dalam pembentukan kepribadian anak didik.
b.      Kekurangan metode pembelajaran ini yaitu membutuhkan tenaga pendidik yang benar-benar dapat dijadikan sebagai contoh tauladan di dalam menanamkan sebuah nilai kepada anak didik.

B.     Metode Keteladanan (Uswatun Hasanah)
1.      Pengertian Keteladanan
Dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia disebutkan bahwa “keteladanan” dasar katanya “teladan” yaitu “perbuatan atau barang dsb,) yang patut ditiru dan dicontoh. Dalam bahasa Arab keteladanan diungkapkan dengan kata “uswah” dan “qudwah”. Menurut Ashfahani pengertian dari “al-uswah” dan “al-iswah” sebagaimana kata “alqudwah” dan “alqidwah” berarti “Suatu keadaan ketika seorang manusia mengikuti manusia lain apakah dalam kebaikan, kejelekan, kejahatan, atau kemurtadan”.[1]
Dengan demikian keteladanan adalah hal-hal yang dapat ditiru atau dicontoh oleh seseorang dari orang lain. Namun keteladanan yang dimaksud di sini adalah keteladanan yang dapat dijadikan sebagai alat pendidikan, yaitu keteladanan yang baik, sesuai dengan pengertian “uswah”.
Metode keteladanan merupakan suatu metode yang digunakan untuk merealisasikan tujuan pendidikan dengan member contoh keteladanan yang baik kepada siswa agar mereka dapat berkembang baik fisik maupun mentalnya dan memiliki akhlak yang terpuji. Keteladanan memberikan konstribusi yang sangat besar dalam pendidikan ibadah, akhlak, kesenian dll.

2.      Landasan Teori  Metode Keteladanan
Sebagai pendidikan yang bersumber kepada Alquran dan Sunnah Rasulullah, metode keteladanan tentu didasarkan kepada kedua sumber tersebut. Dalam Alquran keteladanan diistilahkan dengan kata uswah, kata ini tertulis sebanyak tiga kali dalam dua surat, yaitu pada Surat Al-Mumtahana ayat 4 & 6 serta pada Surat Al-Ahzab ayat 21.
ôs% ôMtR%x. öNä3s9 îouqóé& ×puZ|¡ym þÎû zOŠÏdºtö/Î) tûïÏ%©!$#ur ÿ¼çmyètB
Artinya: Sesungguhnya telah ada suri tauladan yang baik bagimu pada Ibrahim dan orang-orang yang bersama dengan dia; (Surat Al-Mumtahana ayat 4)

ôs)s9 tb%x. ö/ä3s9 öNÍkŽÏù îouqóé& ×puZ|¡ym `yJÏj9 tb%x. (#qã_ötƒ ©!$# tPöquø9$#ur tÅzFy$# 4 `tBur ¤AuqtGtƒ ¨bÎ*sù ©!$# uqèd ÓÍ_tóø9$# ߊÏJptø:$# ÇÏÈ  
Artinya: Sesungguhnya pada mereka itu (Ibrahim dan umatnya) ada teladan yang baik bagimu; (yaitu) bagi orang-orang yang mengharap (pahala) Allah dan (keselamatan pada) hari kemudian. dan Barangsiapa yang berpaling, Maka Sesungguhnya Allah Dia-lah yang Maha Kaya lagi Maha Terpuji. (Surat Al-Mumtahana ayat 6)
ôs)©9 tb%x. öNä3s9 Îû ÉAqßu «!$# îouqóé& ×puZ|¡ym `yJÏj9 tb%x. (#qã_ötƒ ©!$# tPöquø9$#ur tÅzFy$# tx.sŒur ©!$# #ZŽÏVx. ÇËÊÈ  
Artinya: “Sesungguhnya telah ada pada (diri) Rasulullah itu suri teladan yang baik bagimu (yaitu) bagi orang yang mengharap (rahmat) Allah dan (kedatangan) hari kiamat dan Dia banyak menyebut Allah”.
Ketiga ayat tersebut memperlihatkan bahwa kata “uswah” selalu digandengkan dengan sesuatu yang positif: “hasanah” (baik) dan suasana yang sangat menyenangkan yaitu bertemunya dengan Tuhan semesta alam.

4.      Urgensi  Keteladanan dalam Pelaksanaan Pendidikan
5.      Kelebihan dan Kekurangan Metode Keteladanan
Kelebihan dan kekurangan metode keteladanan tidak dapat dilihat secara kongkret, namun secara abstrak dapat diinterpretasikan sebagai berikut :
a.       Kelebihan
1.      Memudahkan anak didik dalam menerapkan ilmu yang dipelajarinya di sekolah
2.      Memudahkan guru dalam mengevaluasi hasil belajar
3.      Tujuan pendidikan lebih terarah dan tercapai dengan baik
4.      Tercipta hubungan yang harmonis antara guru dan murid
5.      Mendorong guru untuk selalu berbuat baik karena setiap tindakannya akan dicontoh oleh anak didik.
b.      Kekurangan
1.      Jika figure yang dicontoh para peserta didik tidak baik, maka mereka cenderung untuk mengikutinya
2.      Jika teori tanpa praktik maka akan menimbulkan verbalisme.

C. Metode Pemberian Ganjaran (Hadiah)
1. pengertian dan dasar teori Ganjaran (Hadiah)
Dalam bahasa arab ganjaran di istilahkan dengan tsawab yang artinya pahala, upah dan balasan.[2] Dalam al-Qur’an sendiri banyak ditemukan. Seperti firman Allah :
$tBur tb$Ÿ2 C§øÿuZÏ9 br& |NqßJs? žwÎ) ÈbøŒÎ*Î/ «!$# $Y7»tFÏ. Wx§_xsB 3 ÆtBur ÷ŠÌãƒ z>#uqrO $u÷R9$# ¾ÏmÏ?÷sçR $pk÷]ÏB `tBur ÷ŠÌãƒ z>#uqrO ÍotÅzFy$# ¾ÏmÏ?÷sçR $pk÷]ÏB 4 ÌôfuZyur tûï̍Å3»¤±9$# ÇÊÍÎÈ  
Artinya : Sesuatu yang bernyawa tidak akan mati melainkan dengan izin Allah, sebagai ketetapan yang telah ditentukan waktunya. barang siapa menghendaki pahala dunia, niscaya Kami berikan kepadanya pahala dunia itu, dan barang siapa menghendaki pahala akhirat, Kami berikan (pula) kepadanya pahala akhirat itu. dan Kami akan memberi Balasan kepada orang-orang yang bersyukur. (Q.S. ali Imran : 145).
Dalam ayat lain disebutkan :
`¨B tb%x. ߃̍ムz>#uqrO $u÷R9$# yZÏèsù «!$# Ü>#uqrO $u÷R9$# ÍotÅzFy$#ur 4 tb%x.ur ª!$# $JèÏJy #ZŽÅÁt/
Artinya : Barangsiapa yang menghendaki pahala di dunia saja (maka ia merugi), karena di sisi Allah ada pahala dunia dan akhirat. dan Allah Maha mendengar lagi Maha melihat. (Q.S. An-Nisa’ : 134).
Dari ayat diatas dapat dipahami, bahwa kata tsawab identik dengan ganjaran yang baik. Seiring dengan hal ini, maka yang dimaksud dengan kata tsawab dalam kaitanya dengan pendidikan islam adalah pemberian ganjaran yang baik terhadap perilaku baik dari anak didik. Dapat di istilahkan ganjaran (hadiah) adalah alat pendidikan preventif  dan represif yang menyenangkan dan bisa menjadi pendorong atau motivator belajar bagi murid. atau bisa dikatakan ganjaran adalah hadiah terhadap perilaku baik dari anak didik dalam proses pendidikan.
Muhammad bin Jamil Zaim menyatakan bahwa ganjaran (hadiah) harus selamanya didahulukan, karena terkadang ganjaran tersebut lebih baik pengaruhnya (manfaat) dalam usaha perbaikan dari pada kejelekan (madharat).[3]

2. Cara Mengaplikasikan Ganjaran
Berbagai macam cara yang dapat dilakukan dalam memberikan ganjaran, antara lain :
a.    Pujian yang indah, diberikan agar anak lebih bersemangat dalam belajar.
b.    Imbalan materi/hadiah, karena tidak sedikit anak-anak yang termotivasi dengan pemberian hadiah.
c.    Do’a, misalnya “semoga allah menambah kebaikan padamu”
d.   Tanda penghargaan, hal ini sekaligus menjadikan kenang-kenagan bagi murid atas prestasi yang diperoleh.
e.    Melaporkan segala sesuatu yang berkenaan dengan kebaikan murid di sekolah, kepada orang tuanya.
3. Kelebihan dan Kekurangan
Sebagaimana pendekatan-pendekatan pendidikan lainya, pendekatan ganjaran juga tidak terlepas dari kelebihan dan kekurangan.
a.    Kelebihan
Metode ganjaran (hadiah) memiliki banyak sekali kelebihan, secara umum dapat disebut :
1)   Memberikan pengaruh yang cukup besar terhadap jiwa anak didik untuk melakukan perbuatan yang positif dan bersikap progresif.
2)   Dapat menjadi dorongan bagi anak-anak didik lainya untuk mengikuti anak yang telah memperoleh pujian dari gurunya. Proses ini sangat besar kontribusinya dalam memperlacar pencapaian tujuan pendidikan.
b.    Kelemahan
Disamping punya kelebihan metode ganjaran (hadiah) juga memiliki kelemahan antara lain :
1)   Dapat menimbulkan dampak negatif apabila guru melakukannya secara berlebihan, sehingga mungkin bisa mengakibatkan murid menjadi merasa bahwa dirinya lebih tinggi dari teman-temanya.[4]
2)   Umumnya ganjaran (hadiah) membutuhkan alat tertentu serta membutuhkan biaya, dll.[5]
D. Metode pemberian hukuman
1. Pengertian hukuman
Dalam bahasa arab hukuman diistilahkan dengan iqab, jaza’, dan ukubah kata iqab berarti balasan. Allah berfirman dalam al qur’an dengan kata iqab diantaranya :
É>ù&yŸ2 ÉA#uä tböqtãóÏù tûïÏ%©!$#ur `ÏB óOÎgÎ=ö6s% 4 (#qç/¤x. $uZÏG»tƒ$t«Î/ ãNèdxs{r'sù ª!$# öNÍkÍ5qçRäÎ/ 3 ª!$#ur ߃Ïx© É>$s)Ïèø9$# ÇÊÊÈ  
Artinya : (keadaan mereka) adalah sebagai Keadaan kaum Fir'aun dan orang-orang yang sebelumnya; mereka mendustakan ayat-ayat kami; karena itu Allah menyiksa mereka disebabkan dosa-dosa mereka. dan Allah sangat keras siksa-Nya. (Q.S. Ali Imran :11).
Dalam ayat lain Allah berfirman :
šÏ9ºsŒ öNßg¯Rr'Î/ (#q%!$x© ©!$# ¼ã&s!qßuur 4 `tBur È,Ï%$t±ç ©!$# ¼ã&s!qßuur  cÎ*sù ©!$# ߃Ïx© É>$s)Ïèø9$#   
Artinya : (Ketentuan) yang demikian itu adalah karena Sesungguhnya mereka menentang Allah dan Rasul-Nya; dan Barangsiapa menentang Allah dan Rasul-Nya, Maka Sesungguhnya Allah Amat keras siksaan-Nya. (Q.S. Al-Anfal : 13).
Dari kedua ayat diatas tersebut dapat dipahami bahwasanya kata iqab ditujukan kepada balasan dosa sebagai akibat dari perbuatan buruk manusia. Dalam hubunganya dengan pendidikan islam iqab berarti :
a)    Alat pendidikan preventif dan represif yang paling tidak menyenangkan.
b)   Imbalan dari perbuatan yang tidak baik untuk peserta didik.
Istilah iqab sedikit berbeda dengan tarhib dimana iqab telah berbentuk aktivitas dalam memberikan hukuman seperti memukul. Sementara tarhib adalah berupa ancaman pada anak didik bila melakukan suatu tindakan yang menyalahi aturan.

2. Cara Mengaplikasikan Metode Hukuman
Prinsip pokok dalam mengaplikasikan pemberian hukuman yaitu, bahwa hukuman adalah jalan yang terahir dan harus dilakukan secara terbatas dan tidak menyakiti anak didik. Tujuan utama dari pendekatan inib adalah untuk menyadarkan peserta didik dari kesalahan-kesalahan yang ia lakukan.
Syarat-syarat dalam pemberian hukuman, yaitu :
a.    Pemberian hukuman harus tetap dalam jalinan cinta, kasih, dan sayang.
b.    Harus didasarkan kepada alasan “keharusan”
c.    Harus menimbulkan kesan di hati anak.
d.   Harus menimbulkan keinsyafan dan penyesalan kepada anak didik.
e.    Diikuti dengan pemberian maaf dan harapan serta kepercayaan.
Muhaimin dan Abd. Majid menambahkan bahwa hukuman diberikan dengan :
a.    Mengandung makna edukasi
b.    Merupakan jalan/solusi terahir dari beberapa pendekatan dan metode yang ada
c.    Diberikan setelah anak didik mencapai usia 10 tahun.[6]
Dalam hal ini Rasulullah SAW bersabda :
مُرُوْااَوْلَادَكُمْ بِالصَّلَاةِ وَهُمْ اَبْنَاءُ سَبْعِ سِنِيْنَ وَاضْرِبُوْهُمْ وَهُمْ اَبْنَاءُ عَشْرِسِنِيْنَ وَفَرِّقُوْافِى الْمَضَاجِعِ (رواه ابوداود)
Artinya : Surulah anak-anakmu untuk mengerjakan shalat ketika mereka berusia tujuh tahun, dan pukullah bila ia membangkang (meninggalkan shalat) jika mereka telah berusia 10 tahun serta pisahkan tempat tidurnya. (HR. Abu Daud).

3. Kelebihan dan Kekurangan
a.    Kelebihan
Pendekatan hukuman dinilai memiliki kelebihan apabila dijalankan dengan benar, yaitu :
1.    Hukuman menjadikan perbaikan-perbaikan terhadap kesalahan murid.
2.    Murid tidak lagi melakukan kesalahan yang sama.
3.    Merasakan akibat perbuatanya sehingga ia menghormati dirinya.
b.    Kekurangan
Apabila hukuman tidak efektif, maka akan timbul beberapa kelemahan :
1.    Akan membangkitkan suasana rusuh, takut, dan kurang percaya diri.
2.    Murid akan selalu merasa sempit hati, bersifat pemalas, serta akan menyebabkan ia suka berdusta (karena takut dihukum).

E. METODE CERAMAH
1. Pengertian Metode Ceramah
Yang dimaksud dengan metode ceramah adalah cara penyampaian sebuah materi pelajaran dengan cara penuturan lisan kepada siswa. Ini relevan dengan definisi yang di kemukakan oleh Ramayulis bahwa metode ceramah ialah “penerangan dan penuturan secara lisan guru terhadap murid-murid di ruangan kelas”.[7] Zuhairini dkk mendefinisikan bahwa metode ceramah adalah suatu metode didalam pendidikan dimana dimana cara penyampaian materi-materi pelajaran kepada anak didik dilakukan denaga cara penerangan dan penuturan secara lisan. [8]
Dari kedua definisi diatas terlihat bahwa substansi metode adalah sama yaitu menerangkan materi pelajaran kepada anak didik dengan penuturan kata-kata atau lisan. Metode ceramah dikenal juga sebagai metode kuliah, karena umumnya banyak dipakai di Perguruan Tinggi, dan disebut pula sebagai metode pidato atau khutbah. Dalam bahasa inggris metode ceramah disebut dengan istilah “lecturing method” atau “telling method”. Metode ini adalah metode yang sering digunakan karena metode ini sangatlah mudah dilakukan.
Sejak zamanRasulullah SAW metode ceramah merupakan metode yang paling awal yang dilakukan oleh Rasulullah SAW dalammenyampaikan wahyu pada ummat. Karekteristik yang menonjol dari metode ceramah adalah peranan guru lebih dominan. Sementara siswa lebih banyak pasif dan meneriam apa yang disampaikan oleh guru. Dalam sebuah hadist  NabiSAW bersabda:
Artinya:”Sampaikanlah olehmu walaupun itu satu ayat
Hal ini berkaitan dengan firma Allah SWT:
!$¯RÎ) çm»oYø9tRr& $ºRºuäöè% $wŠÎ/ttã öNä3¯=yè©9 šcqè=É)÷ès? ÇËÈ   ß`øtwU Èà)tR y7øn=tã z`|¡ômr& ÄÈ|Ás)ø9$# !$yJÎ/ !$uZøym÷rr& y7øs9Î) #x»yd tb#uäöà)ø9$# bÎ)ur |MYà2 `ÏB ¾Ï&Î#ö7s% z`ÏJs9 šúüÎ=Ïÿ»tóø9$# ÇÌÈ
Artinya: “Sesungguhnya Kami menurunkannya berupa Al Quran dengan berbahasa Arab, agar kamu memahaminya. Kami menceritakan kepadamu kisah yang paling baik dengan mewahyukan Al Quran ini kepadamu, dan Sesungguhnya kamu sebelum (kami mewahyukan) nya adalah Termasuk orang-orang yang belum mengetahuinya (orang-orang lalai).”(Q.S Yusuf 12: 2-3)
Ayat diatas menerangakan bahwa Tuhan menurunkan Al-qur’an dengan memakai bahasa arab dan menyampaikannya kepada nabi Muhamad SAW dengan jalan cerita dan ceramah.
1.      Langkah-langkah Penerapan Metode Ceramah
Langkah-langkah yang harus dilakukan dalam mengaplikasikan metode ceramah adalah sebagai berikut:
a.       Langkah Persiapan
Persiapan yang dimaksud disini adalah menjelaskan pada siswa tentang tujuan pelajaran dan pokok-pokok masalah yang akan dibahas dalam pelajaran tersebut. Disamping itu guru memperbanyak bahan appersepsi untuk membantu mereka memahami pelajaran yang akan disajikan.
b.      Langkah Penyajian
Pada tahap ini guru menyajikan bahan yang berkenaan dengan pokok-pokok masalah.
c.       Langkah generalisasi
Dalam hal ini unsure yang sama dan berlainan dihimpun untuk mendapatkan kesimpulan-kesimpulan mengenai pokok-pokok masalah. 
d.      Langkah Aplikasi penggunaan
Pada langkah ini kesimpulan yang diperoleh digunakan dalam berbagai situasi sehingganyata makna kesimpulan itu. [9]

2.      Syarat-syarat Penggunaan Metode Ceramah
Dalam mengaplikasikan metode ceramah pada proses belajar mengajar ada beberapa syarat yang harus diperhatikan antara lain:
a.       Guru yang menyampaikan metode ini adalah guru yang baik dan berwibawa serta mempunyai pengetahuan dan wawasan yang luas.
b.      Bahan pelajaran yang akan disampaikan terlalu banyak dan alokasinya sedikit.
c.       Bahan yang disampaikan merupakan topic baru yang mengandung informasi, penjelasan atau uraian.
d.      Tidak menemukan bahan yang akan disampaikan didalam buku yang akan dipergunakan oleh anak didik.
e.       Apabila tidak ada media lain selain lisan.
f.       Guru adalah seorang orator yang mahir dan bersemangat yang dapat menarik dan merangkan perhatian murid.  
 
3.      Kelebihan dan Kelemahan Metode Ceramah
Suatu metode yang dipergunakan oleh guru didalam mengajar, sudah barang tentu mempunyai kelebihan dan kekurangan, oleh karena itu metode ceramahpun demikian. Kelebihan dan kelemahan metode ceramah adalah sebagai berikut:
a.       Kelebihan:
1.      Suasana kelas berjalan dengan tenang karena murid melakukan aktivitas yang sama, sehingga guru dapat mengawasi murid sekaligus secara komprehensif.
2.      Tidak membutuhkan tenaga yang banyak dan waktu yang lama, dengan waktu yang  singkat murid dapat menerima pelajaran sekaligus secara bersamaan.
3.      Pelajaran biasa dilaksanakan dengan cepat, karena waktu yang sedikit dapat diuraikan bahan yang banyak.
4.      Melatih para pelajar untuk menggunakan pendengarannya dengan baik sehingga mereka dapat menangkap dan meyimpulkan isi ceramah dengan cepat dan tepat.
b.      Kekurangan:
1.      Interaksi cenderung bersifat centred (berpusat pada guru).
2.      Guru kurang dapat mengetahui dengan pasti sejauh mana siswa telah menguasai bahan ceramah.
3.      Mungkin saja siswa memperoleh konsep-konsep lain yang berbeda dengan apa yang dimaksudkan guru.
4.      Siswa kurang menangkap apa yang dimaksudkan oleh guru, jika ceramahberisi istilah-istilah yang kurang dan tidak dimengerti oleh siswa dan akhirnya mengarah pada verbalisme.
5.      Tidak memberikan kesempatan pada siswa untuk memecahkan masalah, karena siswa hanya diarahkan untuk mengikuti fikiran guru.
6.      Kurang memberikan kesempatan pada siswa untuk mengembnagkan kecakapan dan kesempatan mengeluarkan pendapat. [10]
7.      Guru lebih aktif sedangkan murid bersiap pasif.
Untuk mengatasi kelemahan-kelemahan tersebut maka seorang guru harus mengusahakan hal-hal sebagai berikut:
a.       Untuk menghilangkan kesalahpahaman siswa terhadap materi yang diberiakn hendaknya diberi penjelasan beserta keterangan-keterangan, gerak-gerik dan contoh yang memadai dan bila perlu hendaknya menggunakan media yang refresentatif.
b.      Selingilah metode ceramah dengan metode lainnya untuk menghilangkan kebosanan pada peserta didik.
c.       Susunlah ceramah secara sistematis.
F. METODE TANYA JAWAB
1. Pengertian Metode Tanya Jawab
Metode Tanya jawab adalah penyampaian dengan cara guru mengajukan pertanyaan dan murid menjawab. Atau suatu metode di dalam pendidikan dimana guru bertanya sedangkan murid menjawab tentang materi yang ingin diperolehnya. [11]
Pengertian lain dari metode Tanya jawab adalah cara penyajian pelajaran dalam bentuk pertanyaan yang harus dijawab, terutama dari guru kepada murid atau dapat juga dari murid kepada guru.[12]
Dalam sejarah perkembangan Islam pun di kenal metode Tanya jawab, karena metode ini sering dipakai oleh para Nabi SAW dan Rasul Allah dalam mengajarkan ajaran yang dibawanya kepada ummatnya. Metode ini termasuk metode yang paling tua disamping metode ceramah, namun efektifitasnya lebih besar daripada metode lain. Karaena dengan metode Tanya jawab, pengertian dan pemahaman dapat diperoleh dengan mantap. Sehingga segala bentuk kesalahpahaman dan kelemahan daya tangkap terhadap pelajaran dapat dihindari semaksimal mungkin.
Firman Allah yang berkaitan dengan metode Tanya jawab adalah:
(#þqè=t«ó¡sù Ÿ@÷dr& ̍ø.Ïe%!$# bÎ) óOçGYä. Ÿw tbqçHs>÷ès?  ÇÍÌÈ 
Artinya: “bertanyalah kalian kepada ahlinya jika kalian tidak mengetahui”. (QS al-nahl 27: 43).
Dalam ajaran Islam orang yang berilmu apabila ditanya tentang ilmu pengetahuan ia wajib menjawab sebatas kemampuannya, bila tidak maka Allah SWT mengancamnya dengan sika yang amat pedih. Sebagaimana sabda nabi SAW:

Artinya: Barang siapa ditanya tentang ilmu lalu ia menyembunyikannya maka Allah akan mengekangnya dengan kekangan dari api neraka”.(HR.Thabrani)

Metode Tanya jawab berbeda dengan evaluasi. Metode tanyajawab merupakan salah satu teknik penyampaian materi, sedangkan evaluasi adalah alat ukur untuk mengukur hasil belajar siswa.

2. kelebihan dan Kekurangan Metode Tanya Jawab.
Metode Tanya jawab juga memilki kelebihan dan kekurangan antara lain:
a.       Kelebihan:
1.      Situasi kelas akan hidup karena anak-anak aktif dan berfikir dan menyampaikan buah fikirannya dengan berbicara dan menjawab pertanyaan.
2.      Melatih anak agar berani mengungkapkan pendapatnya dengan lisan secara teratur.
3.      Timbunya perbedaan pendapat diantara anak didik akan menghangatkan proses diskusi di kelas.
4.      Mendorong murid lebih aktif dan sungguh-sungguh, dalam arti murid biasanya segan mencurahkan perhatian maka dengan diskusi ia akan lebih berhati-hati dan aktif mengikuti pelajaran.
5.      Walau agak lambat guru guru dapat mengontrol pemahaman atau pengertian murid pada masalah-masalah yang dibicarakan. [13]
6.      Pertanyaan dapat memusatkan perhatian siswa sekalipun ketika siswa itu sedang rebut dll. Jadi metode Tanya jawab bias digunakan dalam berbagai kondisi khususnya dalam situasi dimana konsentrasi murid melemah.
7.      Merangsang siswa untuk melatih dan mengembangkan daya fikir termasuk daya ingatan.
8.      Mengembangakan keberanian dan keterampilan siswa dalam menjawab dan mengemukakan pendapatnya.

b.      Kekurangan
1.      Apabila terjadi perbedaan pendapat dlam diskusi bias memakan waktu yang lama untuk menyelesaikannya.
2.      Kemungkinan akan terjadi penyimpanagan perhatia anak didik, terutama apabila mendapat jawaban yang menarik perhatiaanya.
3.      Tidak dapat secara tepat merangkum bahan-bahan pelajaran.[14]
4.      Sisw merasa takut apabila guru kurang mampu mendorong siswa nya untuk berani menciptakan suasana yang santai dan bersahabat.
5.      Tidak mudah membuat pertanyaan yang sesuai dengantingkat berfikir siswa.
6.      Waktu sering terbuang terutama apabila siswa tidak dapat menjawab pertanyaan sampai dua atau tiga orang.
7.      Dallam jumlah siswa yang banyak tidak mungkin melontarkan pertanyaan kepada setiap siswa. [15]

3. Syarat-syarat Pengguanaan Metode Tanya Jawab
a)      pertanyaan hendaknya dapat membangkitkan minatdan mendorong inesiatif anak didik sehingga mereka dapat merangsang untuk bekerja sama.
b)      Perumusan pertanyaan harus jelas dan terbatas serta harus ada jawaban.
c)      Pemakaian metode Tanya jawab adalah untuk materi yang sudah disampaikan.
d)     Pertanyaan hendaklah diajukan kepada seluruh siswa di kelas.

4. Langkah-langkah Penggunaan Metode Tanya Jawab
a.       Menentukan tujuan yang akan dicapai
b.      Merumuskan pertanyaan yang akan diajukan.
c.       Pertanyaan diajukan pada siswa secara keseluruhan, sebelum menunjuk salah satu siswa untuk menjawab.
d.      Membuat ringakasan hasil Tanya jawab sehingga di peroleh pengetahuan secara sistematis.

F. Metode Diskusi
Secara umum, pengertian diskusi adalah suatu proses yang melibatkan dua individu atau lebih, berintegrasi secara verbal dan saling berhadapan, saling tukar informasi, saling mempertahankan pendapat dalam memecahkan sebuah masalah tertentu (problem solving).
Mansyur mengemukakan, bahwa diskusi adalah percakapan ilmiah yang berisikan pertukaran pendapat, pemunculan ide, serta pengujian pendapat yang dilakukan oleh beberapa orang yang tergabung dalam kelompok untuk mencari kebenaran.[16]
Muhammad Abduh mementingkan pemahaman, hal itu didukung oleh fakta metode yang ia praktekkan dan ia sukai yaitu metode diskusi.
Sewaktu Muhammad Abduh menafsirkan sebuah QS.al-Nisa ayat tiga puluh lima, dalam keterangannya tentang:
÷bÎ)ur óOçFøÿÅz s-$s)Ï© $uKÍkÈ]÷t/ (#qèWyèö/$$sù $VJs3ym ô`ÏiB ¾Ï&Î#÷dr& $VJs3ymur ô`ÏiB !$ygÎ=÷dr& bÎ) !#yƒÌãƒ $[s»n=ô¹Î) È,Ïjùuqムª!$# !$yJåks]øŠt/ 3 ¨bÎ) ©!$# tb%x. $¸JŠÎ=tã #ZŽÎ7yz ÇÌÎÈ  
35. dan jika kamu khawatirkan ada persengketaan antara keduanya, Maka kirimlah seorang hakam[293] dari keluarga laki-laki dan seorang hakam dari keluarga perempuan. jika kedua orang hakam itu bermaksud Mengadakan perbaikan, niscaya Allah memberi taufik kepada suami-isteri itu. Sesungguhnya Allah Maha mengetahui lagi Maha Mengenal.

[293] Hakam ialah juru pendamai.

Disebutkan bahwa metode orang tua dalam mendidik anak di Mesir membuat anak sebagai manusia pasif, sehingga mereka (para orang tua) mendidik anak-anak dengan cara diktator. Kebanyakan orang tua mencetak anak-anak sesuai dengan kehendak mereka.Anak-anak dijadikan berpengetahuan atau berilmu sesuai dengan pengetahuan orang tua, anak-anak marah sesuai dengan marahnya orang tua. Anak-anak berbuat sesuai dengan keinginan orang tua, selanjutnya Muhammad Abduh berpikir dan kemudian bertanya: “Apakah dengan metode pendidikan seperti ini akan menghasilkan umat yang kuat dan adil sehingga mereka bebas dalam berbuat baik dalam bidang politik maupun dalam hukum ?”
              Rumah adalah lembaga yang menciptakan pendidikan kediktatoran yang buruk dan mencetak kader-kader pemimpin yang zhalim dan yang hina.Para orang tua yang mendidik anak secara diktator sesungguhnya mereka yang gila akan kehinaan mereka anggap suatu kenikmatan dan keselamatan. Selanjutnya, Muhammad Abduh mengatakan,
“Wahai ulama agama dan adab, hendaknya kalian menerangkan kepada umat baik di sekolah-sekolah atau majlis-majlis apa kewajiban orang tua terhadap anak dan apa kewajiban anak terhadap orang tua, dan kewajiban umat terhadap dua kelompok itu.Hendaklah kalian tidak lupa kaidah atau teori kemerdekaan dan kebebasan.Dua kaidah itu adalah landasan dasar berdirinya bangunan Islam.Para sosiolog bagian utara yang berkuasa pada zaman ini (Roma) mengakui bahwa peradaban mereka maju karena mereka berlandaskan dua dasar di atas [kebebasan berpikir dan berbuat].
              Pada penjelasan tersebut di atas, Muhammad Abduh berpendapat bahwa metode pendidikan dan pengajaran hendaknya memperhatikan kemampuan bakat dan minat anak didik. Dalam kata lain, metode pengajaran yang memberikan kebebasan berpikir dan berkreasi dalam pendidikan dan pengajaran adalah metode diskusi. Metode diskusi inilah yang banyak dipraktekkan oleh Muhammad Abduh dalam mengajar di Universitas al-Azhar Mesir. Menghapal dalam proses belajar tidak mungkin dinafikan karena ia sangat esensial.Terbukti umat Islam banyak yang hapal al-Qur'an termasuk Muhammad Abduh, Dengan demikian, dapat dipastikan bahwa Muhammad Abduh tidak mengharamkan metode menghapal, tetapi dapat diketahui dari pengalaman dan kritiknya terhadap metode menghapal, sepertinya ia berpendapat bahwa metode menghapal tanpa pemahaman tidak baik (untuk tidak mengatakan buruk).
G. Metode Sorogan
            Metode sorogan adalah metode individual dimana murid mendatangi guru sorogan adalah metode individual dimana murid mendatangi guru untuk mengkaji suatu kitab dan guru membimbingnyaa secara langsung. Metode ini dalam sejarah pendidikan Islam dikenal dengan sistem pendidikan kuttab.
Pada prakteknya si santri diajari dan dibimbing bagaimana cara membacanya, menghafalnya, atau lebih jauh lagi menerjemahkan atau menafsirkannya. Semua itu dilakukan oleh guru, sementara santri menyimak penuh perhatian dan mensahkan dengan memberi catatan pada kitabnya atau mensahkan bahwa ilmu itu telah diberikan kepadanya.
            Kelebihan metode sorogan adalah: terjadi hubungan yang erat dan harmonis antara guru dengan murid; memungkinkan bagi guru untuk mengawasi, menilai dan membimbing secara maksimal kemampuan seorang murid dalam menguasai bahasa Arab; murid mendapatkan penjelasan yang pasti tanpa harus mereka-reka; guru dapat mengetahui secara pasti kualitas yang telah dicapai muridnya. Dan kelemahannya adalah tidak efisien karena hanya menghadapi beberapa murid (tidak lebih dari 5 orang), sehingga kalau menghadapi murid yang banyak metode ini kurang begitu cepat; membuat murid cepat bosan; murid kadang menangkap kesan verbalisme semata terutama mereka yang tidak mengerti terjemahan dari bahasa tertentu.
H. Metode Bandongan
Secara etimologi, bandongan adalah pengajaran dalam bentuk kelas (pada sekolah agama).[17] Menurut para pakar, antara lain adalah Zamakhsyari Dhofier, metode bandongan adalah sekelompok murid (antara 5-500) mendengarkan seorang guru yang membaca, menerjemahkan, menerangkan dan seringkali mengulas buku-buku Islam dalam bahasa arab. Setiap murid memperhatikan bukunya sendiri dan membuat catatan-catatan (baik arti maupun keterangan) tentang kata atau buah fikiran yang sulit.[18]
Sedangkan menurut Imran Arifin dalam bukunya “ Kepemimpinan Kyai”, metode bandongan adalah kyai membawa suatu kitab dalam waktu tertentu dan santri membawa kitab yang sama, kemudian santri mendengarkan dan menyimak tentang bacaan kyai tersebut.
Jadi, metode bandongan yaitu kyai menggunakan bahasa daerah setempat, kyai membaca, menerjemahkan, menerangkan, kalimat demi kalimat kitab yang dipelajarinya, santri secara cermat mengikuti penjelasan yang diberikan oleh kyai dengan memberikan catatan-catatan tertentu pada kitabnya masing masing dan memberi kode tertentu sehingga kitabnya disebut kitab jenggot karena banyaknya catatan yang menyerupai jenggot seorang kyai.
Dalam metode bandongan semua santri mengikuti jejak kyainya baik dlam membaca, menerjemahkan, menjelaskan kitab-kitab dalam bahasa arab. Kelompok santri yang mengikuti pelajaran seperti ini disebut halaqah yang berarti lingkaran belajar santri.
Ø  Kelebihan dan kekurangan metode bandongan
Ø  Kelebihan
1)      Lebih cepat dan praktis untuk mengajar santri yang jumlahnya banyak.
2)      Lebih efektif bagi murid yang telah mengikuti sistem sorogan secara intensif.
3)      Materi yang diajarkan sering diulang ulang sehingga memudahkan anak untuk memahaminya.
4)      Sangat efisien dalam mengajarkan ketelitian memahami kalimat yang sulit dipahami.
Ø  Kekurangan
1)      Metode ini dianggap lamban dan tradisional, karena dalam menyampaikan materi sering diulang ulang.
2)      Guru lebih kreatif daripada siswa karena belajar berlangsung satu jalur (monolog)
3)      Dialog antara guru dan murid tidak banyak terjadi sehingga murid cepat bosan.
4)      Metode bandongan ini kurang efektif bagi murid yang pintar karena materi yang disampaikan sering diulang-ulang sehingga terhalang kemajuannya.
Ø  Syarat-syarat penggunaan metode bandongan.
1)      Metode ini cocok diberikan pada anak yang baru belajar kitab,
2)      Murid yang diajarkan minimal 5 orang.
3)      Tenaga guru yang mengajar sedikit sedangkan yang diajarkan banyak.
4)      Bahan bahan yang diajarkan terlalu banyak, sedangkan alokasi waktunya sedikit.
Tokoh yang menggunakan metode ini adalah para wali songo dan kyai salaf ahlussunnah wal jama’ah.
I.          Metode mudzakarah
Mudzakarah berarti suatu pertemuan ilmiah yang secara khusus membahas tentang masalah diniyah seperti ‘ibadah dan aqidah serta masalah agama pada umumnya. Metode mudzakarah adalah suatu cara yang dipergunakan dalam menyampaikan bahan pelajaran dengan jalan mengadakan suatu pertemuan ilmiah yang secara khusus membahas persoalan persoalan yang bersifat keagamaan.[19]
Adapun tujuan dari penggunaan metode mudzakarah adalah untuk melatih santri agar lebih terlatih dalam memecahkan masalah masalah dengan menggunakan kitab kitab klasik yang ada. Mudzakarah dapat dibedakan menjadi dua tingkatan belajar, yaitu:
a.       Mudzakarah yang diselenggarakan oleh sesama santri untuk membahas suatu masalah dengan tujuan agar terlatih dalam memecahkan masalah masalah dengan menggunakan kitab kitab klasik yang ada.
b.      Mudzakarah yang dipimpin oleh kyai, dimana hasil mudzakarah diajukan untuk dibahas dan dinilai seperti suatu seminar.
Kelebihan dan kekurangan metode mudzakarah:
a.       Kelebihan:
1.      Santri lebih terdorong untuk mempelajari kitab kitab klasik secara lebih mendalam.
2.      Santri lebih terlatih dalam memecahkan masalah masalah dengan menggunakan kitab kitab yang tersedia.
3.      Kemampuan dapat diukur dan dinilai oleh kyai.
4.      Kyai dapat mengetahui santri-santrinya yang dianggap kompeten, sehingga santri tersebut dapat diangkat menjadi pengajar kitab kitab klasik islam.
b.      Kekurangan.
1.      Pelaksanaan waktunya tidak tetap disampin ada waktu waktu tertentu yang telah ditetapkan.
2.      Bahan bahan yang dijadikan acuan sangat terbatas pada kitab kitab islam klasik.
3.      Sempitnya ruang lingkup yang dibahas, hanya terbatas pada masalah masalah keagamaan saja.
4.      Adanya kecemburuan dikalangan santri karena hanya santri yang berkompeten saja yang diberi kesempatan.
J. Metode kisah
Metode kisah mengandung arti suatu cara dalammenyampaikan materi pelajaran dengan menuturkan secara kronologis tentang bagaimana terjadinya sesuatu hal baik yang sebenarnya hanya rekaan ataupun yang sebenarnya terjadi.[20]
Dalam mengaplikasikan metode ini dalam proses belajar mengajar, metode kisah ini merupakan metode pendidikan yang masyhur dan terbaik, sebab kisah itu mampu meyentuh jiwa apabila didasari oleh ketulusan hati yang mendalam.[21] Metode kisah ini diisyaratkan dalam Al Qur’an Surat Yusuf ayat 3 dan Surat Yusuf ayat 111:
ß`øtwU Èà)tR y7øn=tã z`|¡ômr& ÄÈ|Ás)ø9$# !$yJÎ/ !$uZøym÷rr& y7øs9Î) #x»yd tb#uäöà)ø9$# bÎ)ur |MYà2 `ÏB ¾Ï&Î#ö7s% z`ÏJs9 šúüÎ=Ïÿ»tóø9$# ÇÌÈ  
3. Kami menceritakan kepadamu kisah yang paling baik dengan mewahyukan Al Quran ini kepadamu, dan Sesungguhnya kamu sebelum (kami mewahyukan) nya adalah Termasuk orang-orang yang belum mengetahui.
ôs)s9 šc%x. Îû öNÎhÅÁ|Ás% ×ouŽö9Ïã Í<'rT[{ É=»t6ø9F{$# 3 $tB tb%x. $ZVƒÏtn 2uŽtIøÿム`Å6»s9ur t,ƒÏóÁs? Ï%©!$# tû÷üt/ Ïm÷ƒytƒ Ÿ@ÅÁøÿs?ur Èe@à2 &äóÓx« Yèdur ZpuH÷quur 5Qöqs)Ïj9 tbqãZÏB÷sムÇÊÊÊÈ  
111. Sesungguhnya pada kisah-kisah mereka itu terdapat pengajaran bagi orang-orang yang mempunyai akal. Al Quran itu bukanlah cerita yang dibuat-buat, akan tetapi membenarkan (kitab-kitab) yang sebelumnya dan menjelaskan segala sesuatu, dan sebagai petunjuk dan rahmat bagi kaum yang beriman.
Kelebihan dan kekurangan metode kisah
a.       Kelebihan
1.      Kisah dapat mengaktifkan dan membangkitkan semangat siswa. Karena setiap anak didik akan senantiasa merenungkan makna dan mengikuti berbagai situasi kisah, sehingga anak didik terpengaruh oleh tokoh dan topik kisah tersebut.[22]
2.      Mengarahkan semua emosi hingga menyaru pada satu kesimpulan yang menjadi akhir cerita.
3.      Kisah selalu memikat, karena mengundang pendengar untuk mengikuti peristiwanya dan merenungi maknanya.[23]
4.      Dapat mempengaruhi emosi, seperti takut, diawasi, rela, senang, semangat, dll sehingga dalam lipatan cerita.
b.      Kekurangan
1.      Pemahaman siswa menjadi sulit ketika kisah itu terakumulasi oleh masalah lain.
2.      Bersifat monolog dan dapat membuat jenuh siswa.
3.      Sering terjadi krtidakselarasan isi cerita dengan konteks yang dimaksud sehingga pencapaian tujuan sulit terwujud.





                                                     


BAB III
PENUTUP

3.1 Kesimpulan
  1. Seorang guru dituntut untuk dapat menguasai berbagai model-model pembelajaran. Beliau harus mampu menentukan metode mana yang tepat untuk digunakannya dalam proses pembelajaran. Sehingga peserta didik dapat merasa nyaman dalam mengikuti proses belajar. Dengan demikian akan dapat menghasilkan output yang berprestasi dan berkualitas tinggi. Salah satu metode yang sampai saat ini masih banyak digunakan olae guru dalam mengajar yaitu metode pembelajaran konvensional. Metode yang dalam penyampaian materinya dengan cara ceramah. Sehingga guru lebih bersifat aktif, sedangkan peserta didik hanya duduk dan mendengarkan penjelasan guru.
  2. metode-metode yang digunakan dalam pembelajaran konvensional adalah:
a.       Metode Pembiasaan.
b.      Metode Keteladanan.
c.       Metode Pemberian Ganjaran
d.      Metode Pemberian Hukuman.
e.       Metode Ceramah.
f.       Metode Tanya Jawab.
g.      Metode Diskusi.
h.      Metode Sorogan.
i.        Metode Bandongan.
j.        Metode Mudzakarah.
k.      Metode Kisah.




DAFTAR PUSTAKA

Arif, Armai, Pengantar Ilmu dan Metodologi pendidikan Islam, Jakarta : Ciputat Pers, 2002, Cet. Ke-1
Arifin, Ahmad, Ilmu Pendidikan dalam Perspektif Islam, Bandung : Remaja Rosda Karya, 1994, Cet. Ke-2
Arifin, Imran, Kepemimpinan Kyai, Jakarta: Kalima Sahada Press, 1993, Cet. 1
Darajat, Zakiyah, dkk. Metodik Khusus Pengajaran Agama Islam, Jakarta : Bumi Aksara, 1995
Jamil, Muhammad Fadhil, Filsafat Pendidikan dalam Alquran, Jakarta : Pustaka Al-Kautsar, 1995, Cet.ke - 1
Zuhairimi, dkk., Metodik Khusus Pendidikan Agama, Surabaya, Usaha nasional, 1983, Cet. Ke-8



[1] Al-Raghib Al-Ashfahany, Mufradhat Alazh Al-Qur’an, (Damsiq: Dar Al-Qalam, t.th.), h.105.
[2] Atabik Ali dan Ahmad Zuhdi Muhdhar, Kamus kontemporer Arab-Indonesia, (Yogyakarta, Pondok Pesantren Krapyak, 1996), Cet. I, h. 638
[3] Muhammad Bin Jamil Zaim, Petunjuk Praktis bagi Para Pendidik Muslim, (Jakarta: Pustaka Istiqamah, 1997), h. 13
[4] Abdurrahman Saleh Abdullah, Teori-Teori Pendidikan Berdasarkan Al Qur’an, (Terj. H. M. Arifin dan Zainuddin), (Jakarta: PT. Rineka Cipta, 1994), Cet. Ke-2, h. 223
[5] Muhaimin dan Abdul Mujib, Op,cit., h.271
[6] Muhaimin dan Abd. Majid., Op,cit., h.273
[7] Ramayulis, Metodologi Pengajaran Agama Islam, (Jakarta: Kalam Mulia, 1990), Cet. I. h 102.
[8] Zuhairini dkk., Metode Khusus Pendidikan Agama, (Surabaya: Usaha Nasional, 1983), Cet. Ke-8, h. 83.
[9] Ramayulis, Op,cit., h. 103
[10] Zakiyah Daradjat dkk., Metodik Khusus Pengajaran Agama Islam, (Jakarta: Bumi Aksara, 1995), Cet. I, h. 289.
[11] Zuhairini, Op,cit., h. 86
[12] Saiful Bahri Djamarah dan Aswan Jaini, Strategi Belajar Mengajar, (Jakarta: PT. Rineka Cipta, t. th.), Cet. I, h. 107.
[13] Zuhairini, Op.cit., h. 87
[14] Ibid., h. 88.
[15] Ramayulis, Op.cit., h. 107
[16] Mansyur, dkk., Metodologi Pendidikan Agama, (Jakarta: CV. Vorum, 1982), Cet. II, h. 97
[17] Departemen Pendidikan dan Kebudayaan, Op.cit., h. 87
[18] Ibid., h. 29
[19] Imran Arifin, kepemimpinan Kyai, (Jakarta: Kalima Sahada press, 1993), Cet. I, h. 119-120 
[20] W. J. S. Poerwadarminta, Kamus Umum Bahasa Indonesia, (Jakarta: Bali Pustaka, 1984), Cet. Ke-7, h. 202
[21] Muhammad Fadhil al Jamil, Filsafat Pendidikan dalam Al Qur’an, (Jakarta: Pustaka Al Kautsar, 1995), Cet. I, H. 125
[22] Abdurrahman al Nahdlawi, Pendidikan Islam di Rumah, Sekolah dan Masyarakat, (Jakarta: Gema Insan Press, 1994), Cet. I, h. 239.m
[23] Ahmad Arifin, Ilmu Pendidikan dalam perspektif Islam, (Bandung: remaja Rosda Karya, 1994), Cet. Ke-2, h. 140.

No comments:

Post a Comment