Monday, April 6, 2015

MHBS



Moh.kamilus zaman SPd.I
BAB I
PENDAHULUAN
1.1. LATAR BELAKANG
Pendidikan merupakan upaya untuk meningkatkan kualitas hidup manusia yang pada intinya bertujuan untuk memanusiakan manusia, mendewasakan, dan mengubah perilaku menjadi lebih baik. Pendidikan merupakan program strategi jangka panjang yang harus mampu menjawab kebutuhan dan tantangan nasional dan global pada saat sekarang dan masayang akan datang, mengingat semakin ketatnya tantangan dan perkembangan lingkungan strategis,baik nasional maupun internasional dalam berbagai bidang kehidupan.
Pendidikan tidak hanya di lakukan dalam formalitas, banyak devinisi yang mengkaitkan akan pendidikan, seperti halnya pendidikan bermain. Dengan bermain peseanberta didik dapat mengembangkan potensi yang dimilikinya, selain itu bermain bukan semata-mata demi kesenagan, melainkan ada sasaran lian yang ingin di capai, yaitu prestasi yang tertentu. Pentingnya bermain dalam pengembangan kepribadian anak telah di akui kebenarannya secara universal. Bermain itu sendiri merupakan salah satu kebutuhan dasar manusia dewasa maupin anak-anak. Kesempatan rekreasi dan bermain akan memberikan kegembiraan serta kepuasan emosional tersendiri, karna bermai merupakan kegiatan spontan dan kreatif ,yang dengannya seseorangdapat menemukan ekspresi diri secara sepenuhnya.
Oleh karna itu, hendaknya pendidikan dilaksanakan dengan adanya berbagai fariasi yang akan membantu dalam pengembagan potensi kreatif yang dimiliki oleh peserta didik,seperti halnya di adakannya “Hari Bebas di Sekolah”, yang mana peserta didik akan mengembangkan kreatifitas dirinya sendiri. sebab manfaat yang di peroleh sangat berpengaruh pula pada perkembangan psichis anak. Dalam makalah ini dengan sedikitnya akan menyinggung tentang kreatifitas, dan ketrampilan ke dalam formula yang lebih praktis. Mudah-mudahan dapat membantu membangkitkan semangat memperbaiki masa depan generasi bangsa menuju kepribadian yang humanistik, cerdas dan transformatif.
1.2.RUMUSAN MASALAH
1.      Dalam usia dan sampai usia berapakah pendidikan bermain di berikan pada anak ?
2.      Bagaiman pendidik mengidentivikasi anak dalam kegiatan bermain mereka, selama hari bebas berlangsung?
3.      Bagaimana hasil kegiatan bermain yang telah di lakukan peserta didik selama hari bebas berlangsung?
4.      Bagaimana evaluasi seluruh kegiatan yang dilakukan pendidik dan peserta didik selama hari bebasberlangsung?
1.3.TUJUAN
1.      Untuk mengetahui penetapan usia yang sesuai dalam program pendidikan tersebut.
2.      Untuk mengetahui sejauh mana kegiatan yang di lakukan pesdik dalam program pendidikan tersebut.
3.      Untuk mengetahui hasil kegiatan baik positiv maupun negatif.
4.      Untuk mengetahui evaluasi dari sluruh kegiatan.











BAB II
PEMBAHASAN
2.1 Dalam usia dan sampai usia berapakah pendidikan bermain sesuai di berikan pada anak ?
Usia dini merupakan usia paling peka bagi anak. karna itu, ia menjadi titik tolak yang strategis. Untuk mengukir kualitas kualitas seorang anak pada masa depan. Anak kaya akan  daya khayal,pikir,rasa ingin tau, dan kreativitas yang tinggi. Para ahli psikologi anak mengatakan bahwa, kreativitas anak di mulai pada usia 3 tahun dan mencapai usianya pada umur 4,5 tahun.[1]
Operasionalisasi pendidikan bagi anak-anak usia dini dan anak-anak pra sekolah (TK) misalnya, akan lebih bermakna jika dilakaukan dengan metode pendidikan yang dapat menyenangkan, edukatif, sesuai dengan bakat, dan pembawaannya. Oleh karna iyu mereka membutuhkan permainan sebagai media pendidikan dalam media pembelajaran di sekolah. Alat permainan tidak mahal, unsur pendidikanlah yang harus di utamakan.
Begitu pentingnya pengembanagan kreativitasa anak(pesdik) tersebut dapat diamati dari bergesernya peran guru yang semula hanya mendominasi kelas kini harus lebih banyak untuk memberikan pada pesdik untuk berperan lebih aktif, kreatif dalam suasana yang menyenangkan (learing must be enjoy). Bagaimanapun akan sulit membangun pemahaman yang baik pada para pesdik, jika pisik dan pshicisnya dalam keadaan tertekan.
Kreativitasa anak akan muncul dan berkembang dengan baik apabila lingkungan keluarga sekolah, maupun lingkungan masyarakat turut menunjang dalam kreatifitasnya.
Hal penelitian yang dilakukan oleh Hans Jellen daru Universitas Utas AS dan Klaus Urban dari Universitas Hannovet Jerman pada Agustus 1987 terhadap anak-anak berusia 10 tahun dengan sampel 50 anak di Jakarta), menunjukkan bahwa tingkat kreativitas anak di Indonesia yang terrendah dari anak-anakdari seusianya dari 8 negara lainnya.berturut-turut dari skor tertinggi hingga terendah adalah Filipina, AS, Inggris, jerman, India, RRC, Kamerun, Zulu dan Indonesia.[2]
Hampir dapat di pastikan bahwa semua matei pelajaran yang di sampaikan kepada pesdik, mulai taman kanak-kanak hingga pendidikan jenjang tinggi, menuntus kreativitaspara siswanya atua pesertadidik itu sendiri. Kreativitas bukan hanya pada lingkup pelajaran kesenian saja (Seni Rupa, Seni Musik ,Seni Pahat), melainkan dalam pelajaran lain pun seringkali menuntut kreativitas yang tinggi.
Menapaki dunia pendidikan berikutnya pelan tapi pasti wahana untuk berkembangnya kreativitas semakin sempit, kreativitas semakin terpasang. Untuk itu, jangan heran jika selepas menyelesaikan sekolahnya, meraka sukar beradaptasi pada dunia pekerjaannya atau pada lingkup kehidupan kesehariannya oleh karena miskinnya kreativitas yang dimiliki.
Tidak bisa disangkal bahwa kehidupan di eraglobalisasi sekarang ini telah menyeret para peserta didik dan anak-anak kita (umumnya yang hidup di perkotaan) sehingga lahir gaya hidup konsumeris yang serba instan. Jika hal ini tidak disikapi dan diantisipasi sedini mungkin, tidak menutup kemungkinan akan menjadikan penyebab terhambatnya kreativitas mereka.
Memang hendaknya dalam lingkungan sekolah perlu di upayakan suatu iklim belajar yang menunjang pendayagunaan kreativitsa siswa yaitu semacam memberikan kebebasan pada mereka untuk berkreativ dengan daya kemampuan, bakat, dan pikiran mereka masing-masing.
2.2. mengidentivikasi anak dalam kegiatan bermain mereka, selama hari bebas berlangsung.
Waktu bermain merupakan waktu anda untuk melakukan suatu identivikasi pada setiap anak dengan cermat. Pertimbangkan pula apakah anda bisa mengawasi kegiatan di semua pusat pembelajaran . lihat di sekliling mereka duduk dan mengamati disetiap pusat pembelajaran berupa permainan yang dilakukan mereka, seolah anda sedang bekerja dengan sekelompok kecil siswa disana. Melalui pengamatan yang cermat terhadap anak yang sedang bermain dan bekerja, anda bisa memulai melihat ketrampilan yang membutuhkan dukungan tambahan. Pengamatan anda bisa memberi pandangan pada anda sendiri mengenei tipe kecerdasan yang menonjol pada setiap anak. Pengamatan ini juga bisa meningkatkan kesadaran anda mengenei kebutuhan budaya, bahasa, atau perkembangan di setiap anak. Pengamatan semacam ini bisa dijadikan sebagai evaluasi untuk kegiatan selanjutnya.  
Berikut merupakan Peranan yang harus dilakukan guru sebagai pendidik, pembimbing dan pelatih dalam waktu pengindentifikasian di antranya adalah :
a)   Korektor
Guru harus bisa membedakan nilai yang baik dan mana nilai yang buruk, sehingga guru dapat menilai dan mengoreksi semua tingkah laku, sikap dan perbuatan anak didik. Jadi peran guru Usia dini sebagai korektor ialah mengembangkan kemampuan berprilaku melalui kebiasaan-kebaiasaan yang baik dan menghindari kebiasaan-kebiasaan buruk.
b)   Inspirator
Guru harus dapat memberikan ilham yang baik bagi kemajuan belajar anak didik. Disini peran guru ialah menuangkan ide-ide atau gagasan atau melakukan inovasi pembelajaran guna kemajuan anak didik. Misalnya menciptakan atau mengembangkan berbagai media, alat-alat bermain,dll.
c)    Motivator
Guru hendaknya dapat mendorong anak didik agar lebih bersemangat dan aktif dalam belajar, berkreasi, berinofasi, maupun berimajinasi dalam bermain mereka ,motivasi ini lebih efektif bila dilakukan dengan memperhatikan kebutuhan anak.
d)   Inisiator
Peran guru sebagai pencetus ide-ide dalam kemajuan kreativitas anak didik. Guru harus mampu mengembangkan dan memberi sumbangsih pemikiran demi kemajuan pendidikan mulai dari yang terkecil seperti dalam kelas dan sampai yang terbesar dalam lingkup sekolah maupun wilayah yang lebih luas lagi.
e)    Fasilitator
Sebagai fasilitator guru hendaknya menyediakan fasilitas yang memudahkan kegiatan bermain  dan dapat menyenangkan atau bisa membangkitkan anak didik untuk bereksplorasi serta menyalurkan minat dan keingintahuannya secara aktif.
f)     Pembimbing
Bimbingan yang diberikan guru sebaiknya sesuai dengan kebutuhan anak didik. Jika dilihat anak tersebut mampu melaksanakan kreasinya sendiri, namun dia tampak manja atau tidak mau melakukannya maka cobalah untuk bersikap tegas dengan meminta anak untuk mencoba melakukannya sendiri dahulu sampai anak itu benar merasa membutuhkan bantuan barulah guru membantunya.
g)   Demonstrator
Dalam kegiatan permainan pastilah terdapat hal baru yang memang tidak dapat dipahami oleh anak didik, mengingat bahwa kemampuan setiap anak berbeda-beda. Untuk materihal baru  yang sedemikian, sebaiknya guru memperagakan sehingga dapat membantu anak yang belum memahami hal tersebut. Untuk kegiatan permainan yang cukup berbahaya dilakukan oleh anak sendiri, sebaiknya guru bertindak sebagai demonstrator.
h)   Mediator
Guru hendaknya memiliki pengetahuan dan pemahaman yang cukup tentang media pendidikan ataupun media-media permainan dalam berbagai bentuk dan jenisnya, baik media material amaupun nonmaterial. Sehingga guru dapat menentukan media yang paling sesuai untuk digunakan dalam kegiatan pembelajaran dan bermain padaanak didik. Selain sebagai mediator, guru juga sebagai penengah dalam proses belajar anak didik.
i)     Supervisior
Guru dapat membantu, memperbaiki dan menilai secara kritis terhadap proses pembelajaran. Kelebihan yang dimiliki supervisor selain posisinya ada juga karena pengalaman, pendidikan, kecakapan atau keterampilan yang dimilikinya atau memiliki sifat-sifat kepribadian yang menonjol dari pada orang-orang disupervisinya. Dengan peran guru sebagai supervisor, guru juga harus memilki kesadaran untuk dapat menilai kinerjanya sendiri untuk meningkatkan kegiatan pembelajarannya.
2.3. hasil (manfaat) kegiatan bermain yang telah di lakukan peserta didik            selama hari bebas berlangsung.
Untuk mengetahui bagaimana hasil kegiatan yang dilakukan anak,terlebih dahulu mengetahui kegiatan bagaimana yang anak atau pesdik lakukan , karna di setiap kegiatan yang di lakukan memiliki indikator-indikator keberhasilan yang berbeda. Contoh kegiatan yang dilakukan diantaranya:
·      Pesdik lebih cenderung berdiam diri di kelas untuk mengembangkan potensi dalam hal tulis menulis,gambar-menggambar,belajar,membaca,dll.
·      Pesdik melakukan kegiatan bersosial di luar kelas bersama teman-teman mereka, yang mana pesdik akan melatih diri untuk kelak ketika akan terjun ke dalam masyarakat untuk menyelesaikan berbagai persoalan sosial.
·      Pesdik bemain seakan menyesuaikan kehidupan orang dewasa, contohnya; pasaran(bermain Bisnis)
·      Membuat permainan dengan kreatifitas sendiri.
·      Bermain berbagai game-game tradisional.
·      Pesdik hanya melihat atau menyaksikan kegiatan yang dilakukan teman-teman mereka.
Dari bebagai kategori di atas memiliki indikator keberhasilan diantaranya :
ü Pesdik mampu mengembangkan kepercayaan diri sendiri.
ü Pedik mampu mengidentifikasi bakatnya sendiri.
ü Pesdik mampu mengembagkan bakat atau potensi diri, fantasi dan kecenderungan pembawaannya.
ü Pesdik mampu memperolah kopensensi atas hal-hal yang tidak di perolehnya.
ü Pesdik mampu menyiapkan kehidupannya kelak waktu dewasa.anggung jawab pada diri sendiri.
ü Mampu mengendalikan emosional diri.
ü Memperole kebahagiaan
ü Melatih kedisiplinan
ü Dalam bermain akan memberikan stimulus pada pembentukan kepribadian peserta didik.
ü Dalam bermain akan membantu dalam membangun energi yang hilang, setelah adanya kegiatan belajar yang berjam-jam, sehingga menyegarkan badan kembali (revitalisasi).
ü Mampu menyalurkan energi lebih yang di miliki pesdik,dll.
Mengingat akan indikator keberhasilan permainan pada peserta didik, hendaknya pendidik membimbung dan memimpin jalannya permainan atau kegiatan-kegiatan tersebut agar tidak menghambat perkembangan fantasi. Yang di butuhkan peserta didik bukanlah permainan yang lengkap, melainkan tempat dan kesempatan bermain itu sendiri. Khususnya di kota-kota besar peserta didik perlu mendapatkan tempat-tempat bermain yang terhindar dari bahaya lalu lintas atau tidak mengganggu kepentingan umum.
Untuk itu Guru hendak memerhatikan beberapa hal :[3]
1.   Bersikap terbuka terhadap minat dan gagasan apapun yang muncul pada anak/peserta didik. Bersikap terbuka bukan berarti menerima tetapi menghargai gagasan tersebut.
2.   Memberikan kesempatan waktu yang luas untuk memberikan dan mengembangkan gagasan tersebut.
3.   Memberi sebanyak mungkin terhadap peserta didik untuk berperan serta untuk mengambil keputusan.
4.   Menciptakan suasana hangat dan rasa aman bagi tumbuhnya kebebasan berfikir eksploratif(menyelidiki).
5.   Menciptakan suasana saling menghargai, dan saling menerima, baik antar siswa maupun antar guru dan anak/peserta didik .
6.   Bersikap positif terhadap kegagalan anak/peserta didik dan bantulah mereka agar bangkit dari kegagalannya tersebut.
Jika dalam kegiatan bermain peserta didik tidak terarah maka tidak memiliki indikator keberhasilan yang tercapai. Hanya mendapatkan hasil yang negatif bagi perkembangan yang dimiliki anak didik.
Terkadang ada orang tua yang berpendapat bahwa bermain hanya menghabiskan waktu anak. Sehingga, masih ada saja orangtua yang melarang anak-anaknya bermain karna khawatir mereka hanya buang-buang waktu untuk belajar. Namun, banyak manfaat yang akan di peroleh dari kegiatna bermain sehingga anak-anak dapat mengembangkan berbagai aspek yang di perlukan untuk persiapan masa depan. Yang di antaranya:[4]
a.      Membantu Perkembangan Tubuh
bermain secara aktif akan mengembangkan otak-otak si kecil. Dengan permainan sepeda otak kakinya akan semakin kuat. Selain itu peramainan sepak bola dan juga berlari-larian. Kegiatan semacam ini akan menguatkan ototdan kerja jantung.
Gerakan permainan ini akan menyalurkan kelebihan energi yang mereka miliki untuk hal-hal yang positif sehingga pelaku agresif yang bersifat merusak dapat diminimalkan. Motorik haluspun akan terasa melalui bermain.
b.      Perkembangan Emosional
mungkin jika kita mencoba sesekali untuk mengamati apabila orangtua,guru atua orang dewasa tidak berda di sisinya , kebanyakan anak-anak akan bersikap lebih dewasa dan bertanggung jawab justru ketika ia sadar bahwa orang tua,guru atau orang dewasa tidak berada di sisinya. Anak akan belajar  mengendalikan diri dan bersikap lebih “bijaksana” terhadap teman-temanya. Dalam berbagai permainan, ia akan menjadi pribadi inividual tanpa capmpur tangan orang lain. Di akan cenderung menjadi dirinya sendiri dan tidak memerlukan bantuan orang lain.
Dalam permainan petak umpet misalnya, anak harus sabar menunggu semua temannya bersembunyi sesuai waktu kesepakatan. Ia akan di anggap curangapabila membuka matanya sebelum watu menghitung selesai.atau dalam permainan sepak bola. Ia harus mengikuti aturan permainan sepak bola. Bila tidak, ia akan di anggap oleh temannya telah melanggar kesepakatan,peraturan dan bukan teman yang asyik,. Dari sinilah anak akn belajar mengolah emosi.
c.       Perkembangan Sosial
Permainan yang dilakukan anak akan membuatnya mengenal dunia di luar dirinya. Berbagai sifat dan karakter teman bermainya akan menjadi bahan bermakna bagi pengolahan sikapnya. Tentu ia akan bersikap berbeda apabila menghadapi anak yang penurut dan egois. Ia akan menyesuaikan diri dengan teman bermainnya sehingga akan mempunya wawasan dan sikap sosialnya.
Perkenalan anak dengan dunia di luar rumah juga akan memperkaya pengetahuan sosialmya. Bila sedanng berjalan-jalan, kemudian dai melihat seekor kucing kecil yang hidupsendirian di pinggir jalan, ia akan bisa merasakan bagaiman kucing itu hidup sendiri, tidursendiri, bahkan mencari makan sendiri. Pasti ada keinginan untuk menolongkucing kecil itu. Dari sinilah jiwa sosialnya akan muncul.
Apa bila ia mempunyai makanan maka ia akan tergerak untuk membagi makanannya kepada teman-temannya. Ia akan berfikir bahwa.”Ndak asyik kan makan sendiri sedangkan temannya banyak melihat?”  lebih asyik makan bersama walau porsinya lebih sedikit. Dan tentu masih bnyak lagi pengalaman dalamberbagai permainan.
d.      Daya Kreativitas
Saat bermain, anak sering menemukan pengalaman baru yang mengasyikkan. Misalnya, ia tidak hanya menggunakna buku untuk dibaca. Tetapi, lebih luas lagi, buku bisa diberdirikan dengan posisi miring sehingga terbentuklah “rumah buku. Bisa juga Buku di buat berdiri berjejer-jejer urut sampai panjang
e.       Mengembangkan Daya Khayal
Dengan berhayal pengebangan bermain anak akan lebih bermakan. Misalnya, ia merasa berada di sebuah pesawat bila badanya masuk dalam kardus bekas. Kemudian, dia sibuk menyetir pesawatnya dengan suara menderu-deru, terbang melintasi rumah nenek, sekolah, rumah temannya, istana presiden. Dia bisa berjam-jam menikmati pesawatnya.
Memang hendaknya untuk di biarkan, karna hal itu akan mengasah kreatifitasnya.
f.        Menambah Wawasan
Bermain akan memberikan kesempatan anak untuk bereksplorasi dengan lingkungan, sekaligus menambah wawasan. Banyak pengetahuan yang tidak didapat dari pelajaran di sekolah maupun rumah akan diperoleh anak-anak dalm interaksinya dengan teman sepermainannya. Ia akan mengenal dengan rumput yang mempunyai dua ujung dan sering dan menempel di celananya jika ia bermain bola di lapangan. Ia akan merasakan buah talok itu rasanya manis dan tidak beracun, ketika ia makan buah talok dengan teman-temannya. Ia akan tahu berapa daa tampung plastik satu kilo yang sudah ia reentangkan yang sudah ia isi dengan air. Ia akan PD mengatakan bahwa bunga itu berwarna merah atau atau kuning, karna ia melihat ada bunga yang berwarna biru di tempat lain. Dan banyak lagi pengetahuan lain yang ia dapatkan .
g.      Perkembangan Kognitif
Dalam berbagai permainan, kognisi anak dituntut untuk berkembang. Misalnya, salah satu anak yang mendapat jatah sebagai pencari dalam permainan petak umpet. Ia harus berhitung dari  1 sampai 10 untuk memberi waktu kepada teman-temannya yang akan bersembunyi. Bila ia belum hafal, ia akan melajar dengan cepat karna ada sebuah kebutuhan menyenangkan di balik belajarnya. Jadi jangan heran jika sebelum bermain ia belum lancar berhitung karna angka 4-nya selalu lupa, dan ternyata pulang dari bermain ia lancar berhitung tanpa lupa mengatakan angka 4 setelah 3. Bisa saja dalam berhitung ketika bermain ia di marahi temannya atau justru ditertawakan karna berhitung tidak sesuai urutannya. Dari kemarahan dan tertawaan teman-temannya itulah justru ia belajar bahwa sesudah 3 adalah 4.

h.      Perkembangan Moral
Saat bermain, anak di ajarkan mengenal mana yang baik dan mana yang buruk, mana yang boleh dilakukan,dan mana yang tidak bolh di lakukan. Dalam bermain, ada standart moral yang harus dipatuhi, sepertitidakboleh curang dan mau mengakui kekalahan. Jadi, anak kita akan belajar moral tanpa kita harus berceramah kepada mereka.
i.        Membentuk Kepribadian
Dengan bermain anakmengalami berbagai macam tindakan. Ia akan merasakan bagaimana rasanya dipuji, diejek, dimarahi, dipilih teman, dijauhi dan berbagai tindakan lainnya. Inilah pengalaman emosi yang berharga pada anak yang akan membentuk kepribadiannya. Bisa jadi anak akan berubah karakternya jika ia bergaul dengan teman-temannya. Anak yang semula penakut berubah menjadi pemberani setelah didorong oleh teman-temannya. Anak yang semula pemalu menjadi pemberani ketikabermain dengan teman-temannya. Memang tidak semuanya akan berjala secara ideal. Kadang mereka terkontaminasi denagn perbuatan negatif seperti berbohong atau berkata jelek. Namun, bukankah seorang akan baru mengenal rasa dingin jika ia sudah merasakan panas?
Tidak semua perbuatan anak yang bernilai negatif akan merugikan maka justru dari itu ia mengenal nilai perbandingannya. Tinggal orangtua/Guru membekali anak sehingga pengaruh negatif yang masuk dalam diri anak hanya akan menambah pengetahuannya, tidak menempel pada kepribadiannya.
j.        Penambahan Bahasa
Dengan kosakatayang sudah jamak, tetapi anak bekum pernah mendengarnya. Ini akan menambah wawasan anak. Dalam permainan banyak kosakata yang sering di katakan sebagai media komunikasi. Hal ini terutama pada anak yang berusia di bawah 6 tahun.
Misalnyaditahan,ditekuk,ditatah,dioper,ditahandilumatkan,direndam. Dengan dibantu bahasa tubuh, anak akan lebih memahami maksut kosa kata tersebut.
k.       Mengembangkan Kemampuan diri
Bermain juga akan membuat anak untuk mengenal kemampuan dirinya. Apakah ia mampu mengimbagi permainan lawan atau tidak. Jika mampu berarti ia memiliki peluang unutuk memenagkan permainan jika tidak kia akan belajar dan berlatih.
Joan Freeman dan Utami Munandar (1996) menyebutkan bahwa beberapa pesikolok dan sosiolog menyebutkan pandangan mengenai manfaat bermain yang di antaranya sebagai berikut:[5]
a.    sebagai penyalur energi lebih yang dimiliki anak.
b.    Sebagai sarana untuk menyiapkan hidupnya dewasa kelak.
c.    Sebagai pelanjut citra kemanisiaan.
d.   Untuk membangun energi yang hilang.
e.    Untuk memperoleh kopetensi hal-hal yang belum di peroleh.
f.     Memungkinkan anak untuk melepaskan perasaan-perasaan dan emosinya, yang dalam realitas tidak dapat di ungkapkannya.
g.    Memberikan stimulus pada pembentukan kepribadian.
2.4. Evaluasi kegiatan
Salah satu Peranan guru adalah sebagai evaluator yaitu melakukan penilaian terhadap proses kegiatan berlangsung dan penilaian hasil kegiatan. Penilaian dilakukan secara observasi dan pengamatan terhadap cara bermain anak baik individual atau kelompok maupun naiman atau permainan yang sering di pilih oleh anak.maka guru dapat melakukan pengamatan yang akan di jadikan sebagai bahan evaluasi, diantaranya:[6]
ü  Apakah anak melakukan kegiatan bermain dengan beraneka ragam atau tidak.
ü  Bagaiman acara memainkan permainan tersebut.
ü  Apakah anak cenderung bermain sendiri atau bersama dengan teman-temannya.
ü  Bila bermain bersama bagaiman sikap anak dan bagaiman penerimaan mereka terhadap kehadirannya.
ü  Apakah anak lebih banyak bersikap pasif saja mengikuti teman ataukah ia lebih sering mengatur temanya.
ü  Apakah anak mau menang sendiri,kerapkali mengalah,atau mau berbagi dengan temannya.
ü  Berapa lama anak menekuni permainannya.
ü  Bagaimana perhatian anak selama bermain,setuju dengan apa yang sedang dikerjakan, atau terlalu mudah teralih dengan hal-hal lain.
ü  Apakah anak akan marah,menangis atau merusak mainannya apabila ia gagal atau sedang kesal?
ü  Apakah anak senang bergaul atau senang menyendiri.
ü  Apakah anak mudah putus asa atau sebaliknya memperlihatkan ketekunannya dan keuletannya bila meanghadapi kesulit dengan mainannya.
ü  Apakah anak mempunyai cara kerja yang teratur dan terencana ataukah serabutab sehingga mainannya tercecer kemana-mana.
ü  Apakah anak menyelesaikan permainanya secara tuntas ataukah mudah sekali teralih dengan permainan atau kegiatan sedang di lakukan oleh temannya.
ü  Apakan anak sukamerebut mainan temannya, tidak mau menunggu giliran.
Kegunaan Evaluasi selai untuk memantau kemajuan anak selama mengikuti kegiatan di sekolah juga bisa di gunakan sebagai alat bantu untuk deteksi dini atau alat untuk menemukan adanya penyimpangan atau gangguan yang akan bertambah parah apabila dibiarkan berlarut-larut. Melalui cara ini apabila guru menemukan hal-hal yang tidak lazim pada perilaku anak, guru dapat melakukan penanganan-penanganan tertentu atau merujuk anak pada seseorang ahli sehingga dapat di lakukan penangana lebih lanjut.[7]
Tujuan penilaian ini dilakukan untuk mengetahui sejauh mana perkembangan yang dicapai oleh anak. Hasil karya anak dapat kita pajang ditempat pemajangan sebagai tanda hasil kegiatan yang telah dilakukan, hal ini dapat membangun rasa kebanggaan pada diri anak dan dapat memotivasi untuk menghasilkan karya yang lebih baik lagi dalam kegiatan bermain mereka. Evaluasi harus mampu memperdayakan guru, anak dan orang tua. Guru sebagai evaluator harus melihat penilaian sebagai suatu kesempatan untuk menggambarkan pengalaman anak didik serta sebagai alat untuk mengetahui kemajuan proses maupun perkembangan kreativitas  anak didik.
Tampaklah bahwa tugas dan tanggung jawab seorang guru anak usia dini tidaklah mudah dalam kegiatan belajar mengajar maupun dalam pengawasan bermain yang di lakukan oleh mereka.

















BAB III
PENUTUP
3.2. Kesimpulan
Permainan Educatif sangatlah penting pada anak khususnya pada anak usia dini. Dengan permainan educatif, hakikatnya anak sedang dibentuk dan di kembangkan fisik motorik, sosial-emosional, dan kecerdasan berpikirnya. Oleh karna itu hendaknya orang tua atau pendidik sebaiknya menjadikan permainan educatif sebagai proses yang dapat meningkatkan minat,pengetahuan, dan pengalaman anakuntuk mempelajari sesuatu.
Tiada pendekatan yang yang paling tepat bagi pendidikan anak usia dini selain bermain sambil belajar. Melalui aktifitas ini diharapkan anak-anak dapat memperoleh pengetahuan dan pengalaman tanpa di paksa. Artinya anak dapat belajar sambil bermain dengan penuh keceriaan. Sebab belajar dilakukannya dengan permainan-permainan yang menyenagkan dan mengasyikkan.
Bagi para orang tua atau pun pendidik, sudah saatnya memperlakukan anak menurut perkembangan. Dan jangan sampai anak menjadi cepat dewasa sebelum waktunya, namun hal demikian tidak jauh dengan adanya menejemen yang sesuai agar tercapainya proses-proses kegiatan yang akan di lakukan untuk mengembangkan bebagai potensi yang dimiliki oleh anak didik.






DAFTAR PUSTAKA
ü  Ismail, Andang, “Education Game”.Jogjakarta: Pilar Media,2006.
ü  Miller Nielsen, Dianne, “Mengelola Kelas Untuk Guru TK”. Jakarta : PT Indeks, 2008.
ü  Islmail, Andang, “Mengukur Kreativitas Anak”. Kedaulatan Rakyat, 2005.
ü  Freeman, Joan, dan Utami Munandar, “Serdas Dan Cemerlang”.Jakarta : Gramedia 1998.
ü  Aly,Hery Noer, “Ilmu Pendidikan Islam”.Jakarta : Logos, 1990.
ü  Nur’aini,Farida,”Edu Game For Childs”.Solo:Afra Pablishing,2008.
ü  Tedjasaputra,Mayke s,”Bermain,Mainan, dan Permaina”.Jakarata: PT Gramedia widiasarana Indonesia,2001.



[1] Ismail, Andang, “Education Games”.Jogjakarta: Pro-U Media,2009,hlm 257.
[2] Ismail, Andang, “Education Games”.Jogjakarta: Pro-U Media,2009,hlm 257.
[3] Ismail, Andang, “Education Games”.Jogjakarta: Pro-U Media,2009,hlm 258.
[4] Nur’aini,Farida,”Edu Game For Childs”.Solo:Afra Pablishing,2008,hlm21.

[5] Freeman, Joan, dan Utami Munandar, “Serdas Dan Cemerlang”.Jakarta : Gramedia 1998.
[6] Tedjasaputra,Mayke s,Bermain,Mainan, dan Permainan,Jakarata: PT Gramedia widiasarana Indonesia,2001,hlm 47.

[7] Tedjasaputra,Mayke s,”Bermain,Mainan, dan Permaina”.Jakarata: PT Gramedia widiasarana Indonesia,2001.hlm 47.

No comments:

Post a Comment