Monday, April 6, 2015

konsep pemikiran Pendidikan islam menurut Muhammad Abduh




MOH.KAMILUS ZAMAN Spd.I (085755107987)
 

PENDAHULUAN

1.      Latar Belakang
Muhammad Abduh termasuk salah satu pembaharu agama dan sosial di Mesir pada abad ke 20 yang pengaruhnya sangat besar di dunia Islam .Dialah penganjur yang sukses dalam membuka pintu ijtihad untuk menyesuaikan Islam dengan tuntutan zaman modern.
Di dunia Islam Ia terkenal dengan pembaharuannya di bidang keagamaan,dialah yang menyerukan umat Islam untuk kembali kepada Al Quran dan Assunnah as Sahihah .Ia juga terkenal dengan pembaharuannya dibidang pergerakan (politik) ,dimana Ia bersama Jamaludin al-Afgani menerbitkan majalah al’Urwatul Wutsqa di Paris yang makalah-makalahnya menghembuskan semangat nasionalisme pada rakyat Mesir dan dunia Islam pada umumnya.
Disamping Ia dikenal sebagai pembaharu dibidang keagamaan dan pergerakan (politik), Ia juga sebagai pembaharu dibidang pendidikan Islam, dimana Ia pernah menjabat Syekh atau rektor Universitas Al-Azhar di Cairo Mesir. Pada masa menjabat rektor inilah Ia mengadakan pembaharuan-pembaharuan di Universitas tersebut ,yang pengaruhnya sangat luas di dunia Islam.
Konsep pendidikan Muhammad Abduh ialah konsep pendidikan yang lebih di latar belakangi faktor situasi sosial ke agamaan dan situasi pendidikan islam yang sedang mengalami kemunduran baik di bidang ilmu pengetahuan maupun bidang keagamaan.
Konsep pendidikan sampai dewasa ini nampaknya belum menghasilkan suatu perumusan yang mantap. Hal ini benar, dan kenyataan tersebut disebabkan bukan saja oleh kompleksnya masalah pendidikan, melainkan juga karena dunia pendidikan juga dituntut terus untuk memberikan jawaban baru yang relevan terhadap perubahan sosial yang bergerak begitu cepat. Untuk lebih memahami tentang konsep pendidikan Muhammad Abduh di bawah ini akan di urai dalam pembahasan tersebut.



2.      Rumusan Masalah:
·         Bagaimana konsep pemikiran Pendidikan islam menurut Muhammad Abduh?
·         Apa saja kurikulum yang dirancang Muhammad Abduh?
·         Bagaimana relevansi pemikiran pendidikan islam menurut muhamaad Abduh dengan pendidikan nasional?
3.      Tujuan:
·         Mengetahui konsep pemikiran pendidikan islam menurut Muhammad Abduh
·         Mengetahui macam – macam kurikulum yang dirancang Muhammad Abduh
·         Mengetahui relevansi pemikiran pendidikan islam menurut muhamaad Abduh dengan pendidikan nasional
















BAB II
PEMBAHASAN

A. Pemikiran Muhammad Abduh dalam Pendidikan Islam
1. Sekilas Biografi Muhammad Abduh
Muhammad Abduh memiliki nama legkap Muhammad bin Abduh bin Hasan Khairullah, ia dilahirkan di desa Mahallat Nashr di Kabupaten al-Buhairah, Mesir pada tahun 1849 M dan wafat pada tahun 1905 M. Ayahnya bernama Muhammad Abduh ibn Hasan Khairullah, beliau adalah seorang petani keturunan Turki, sedangakan ibunya adalah keturunan Arab. Masa pendidikan  ditempuh Muhammad Abduuh di Thanta, sebuah lembaga pendidikan masjid Ahmadi. Ditempat tersebut Ia belajar bahasa Arab, nahu, sarf, fiqih dan sebagainya. Metode yang digunakan dalam pembelajaran itu tidak lain adalah metode hapalan diluar kepala tanpa pengertian, sehingga membuat Muhammad Abduh merasa tidak puas dengan metode pengajaran yang diterapkan. Rasa kecewa akan apa yang ada di Thanta, membuat Muhammad Abduh memutuskan menuntut ilmu di Al-Azhar. Namun kekecewaan kembali ia dapat saat mengetahui bahwa metode yang digunakan sama dengan apa yang digunakan di Thanta. Selain itu, pelajaran yang ia dapat di Al-Azhar hanya seputar agama. Keputus asaan mulai ia rasakan hingga ia bertemu dengan Sayyid Jamaludin A.Afghani yang datang ke Mesir pada masa itu.
2. Konsep pendidikan islam
Pembaharuan dalam bidang pendidikan yang menjadi prioritas utama Muhamad Abduh, berorientasi pada pendidikan barat. Ia mendirikan berbagai macam sekolah yang meniru sistem pendidikan dan pengajaran barat. Tipe pertama adalah sekolah tradisional, sedangkan tipe kedua adalah sekolah-sekolah modern yang didirikan pemerintah Mesir oleh para misionaris asing. Kedua tipe lembaga pendidikan tersebut tidak mempunyai hubungan sama sekali, dan masing-masing berdiri sendiri.


Adanya dua tipe pendidikan tersebut juga berdampak kepada munculnya dua kelas sosial dengan motivasi yang berbeda. Tipe yang pertama melahirkan para ulama dam tokoh masyarakat yang mempertahankan tradisi, sedangkan tipe sekolah kedua melahirkan kelas elit generasi muda yang mendewakan dan menerima perkembangan dari barat tanpa melakukan filterisasi.
Muhamad Abduh melihat adanya segi-segi negatif dari kedua bentuk pemikiran itu, ia memandang bahwa jika pola fikir yang pertama tetap di pertahankan maka akan mengakibatkan umat Islam tertinggal jauh dan semakin terdesak oleh arus kehidupan modern. semetara pola fikir yang kedua, Muhamad Abduh melihat bahwa pemikiran modern yang mereka serap dari barat tampa nilai “religius” merupakan bahaya ynag mengancam sendi agama dan moral.
Dari sinilah Muhamad Abduh melihat perlunya mengadakan perbaikan terhadap kedua institusi itu sehingga dua pola pandidikan tersebut dan saling menopang demi mencapai suatu kemajuan serta upaya untuk mempersempit jurang pemisah antara dua lembaga pendidikan yang kelak akan melahirkan para generasi penerus.
Langkah yang di tempuh Muhamad Abduh untuk meminimalisir kesenjangan dualisme pendidikan adalah uapaya menselaraskan, menyeimbangkan antara porsi pelajaran agama dengan pelajaran umum. Muhamad Abduh mempunyai beberapa langkah untuk memberdayakan sistem Islam antara lain yaitu:
*      Rekonstruksi Tujuan Pendidikan Islam
Untuk memberdayakan sistem pendidkan Islam, Muhamad Abduh menetapkan tujuan, pendididkan islam yang di rumuskan sendiri yakni: Mendidik jiwa dan akal serta menyampaikannya kepada batas-batas kemungkinan seseorang dapat mencapai kebahagian hidup di dunia dan akhirat.
Pendidikan akal ditujukan sebagai alat untuk menanamkan kebiasaan berpikir dan dapat membedakan antara yang baik dan yang buruk. Dengan menanamkan kebiasaan berpikir, Muhamad Abduh berharap kebekuan intelektual yang melanda kaum muslimin saat itu dapat dicairkan dan dengan pendidikan spiritual diharapkan dapat melahirkan generasi yang tidak hanya mampu berpikir kritis, juga memiliki akhlak mulia dan jiwa yang bersih.
Dalam memberdayakan pendidikan Islam, Muhammad Abduh menetapkan tujuan pendidikan Islam yang dirumuskannya yakni; mendidik akal dan jiwa serta menyampaikannya kepada batas-batas kemungkinan seseorang dapat mencapai kebahagiaan hidup di dunia dan akhirat.[1] Dari rumusan tujuan pendidikan tersebut, dapat dipahami bahwa yang ingin dicapai oleh Muhammad Abduh adalah tujuan yang mencakup aspek kognitif (akal) dan aspek afektif (spritual). Jadi adanya keseimbangan antara akal dan spritual. Pendidikan akal ditujukan sebagai alat untuk menanamkan kebiasaan berfikir dan dapat membedakan yang baik dan yang buruk antara membawa kemaslahatan dan kemudaratan. Dengan hal ini, Muhammad Abduh berharap kemandekan berfikir yang melanda umat Islam pada saat itu dapat terkikis.

Bagi Muhammad Abduh, perbuatan manusia bertolak dari konklusi bahwa manusia adalah makhluk yang bebas memilih perbuatan. Muhammad Abduh menjelaskan bahwa yang mendukung suatu perbuatan manusia adalah akal, kemauan dan daya.[2] Penggabungan dengan tujuan spiritual (afektif), diharapkan dapat melahirkan generasi baru yang berintelektual tinggi, berpikir kritis, tetapi juga memiliki akhlak yang mulia dan berjiwa bersih. Sehingga sikap-sikap yang mencerminkan kerendahan moral dapat terhapuskan. Menurut Abduh, apabila kedua aspek tersebut dididik dan dikembangkan, dalam arti akal dicerdaskan dan jiwa dididik dengan akhlak agama, maka umat Islam akan bangkit dan dapat berpacu serta dapat mengimbangi bangsa-bangsa yang telah maju kebudayaannya.

*      Metode Muhammad Abduh
Dalam bidang pendidikan, Muhammad Abduh cenderung menggunakan metode yang didasarkan filsafat rasionalis.[3] Pengaruh gurunya (Jamaluddin) ternyata cukup besar terhadap metode pembelajaran yang ia terapkan setelah menjadi seorang pendidik. Metode yang digunakan oleh Jamaluddin adalah metode praktis (‘maliyyah) yang mengutamakan pemberian pengertian dengan cara diskusi.[4]

Muhammad Abduh mengubah cara memperoleh ilmu yang umumnya dengan metode hafalan menjadi metode rasional dan pemahaman (insight). Disamping menghafal, siswa juga diharuskan memahami materi yang dijelaskan guru. Muhammad Abduh juga menghidupkan kembali metode munazharah (forum perdebatan umum yang menguji kekuatan teori dan pandangan seseorang) dalam memahami pengetahuan dan menjauhkan metode taklid (mengikuti pendapat orang lain) buta pada masa ulama. Ia juga mengembangkan kebebasan ilmiah dikalangan mahasiswa Al- Azhar. Selain itu ia juga membuat metode yang sistematis dalam menafsirkan al-quran yang didasarkan pada lima prinsip:
1.      Menyesuaikan peristiwa yang ada pada masanya dengan nash alquran
2.      Menjadikan alquran sebagai sebuah kesatuan
3.      Menjadikan surat sebagai dasar untuk memahami ayat
4.      Menyederhanakan bahasa dalam penafsiran
5.      Tidak melalaikan peristiwa – perisiwa sejarah untuk menafsirkan ayat – ayat yang turun pada waktu itu

*      Menggagas Kurikulum Pendidikan Islam Yang Integral
Di samping pendidikan akal, Muhammad Abduh juga mementingkan pendidikan spiritual agar lahir generasi yang mampu berfikir dan punya akhlak yang mulia serta jiwa yang bersih. Tujuan pedidikan yang demikian ia wujudkan dalam seperangkat kurikulum sejak dari tingkat dasar sampai ke tingkat atas. Kurikulum tersebut adalah.
a.       Kurikulum Al-azhar
Karir Muhammad Abduh dimulai setelah ia menamatkan kuliahnya pada tahun 1877, atas usaha Perdana Mentri Riadl Pasya, Ia diangkat menjadi dosen pada Universitas Darul Ulum, disamping itu menjadi dosen pula pada Universitas Al-Azhar. Ia terus mengadakan perubahan-perubahan yang terbilang radikal sesuai dengan cita-citanya, yaitu memasukan udara baru yang segar pada perguruan-perguruan tinggi Islam, menghidupkan Islam dengan metode-metode baru yang sesuai dengan kemajuan zaman, mengembangkan kesusastraan Arab sehingga menjadi bahasa yang kaya dan hidup, serta melenyapkan cara-cara lama yang kolot dan fanatic.
Dalam mengajar, Muhammad Abduh menekankan kepada mahasiswanya untuk berpikiran kritis, rasional dan tidak harus terikat kepada suatu pendapat, serta menjauhi paham fatalism, karena ketidak kritisan dan fatalisme umat Islam yang menjadi penyebab kemunduran Umat, kelemahan umat, absennya jihad Umat, absennya kemajuan kultur Ummat dan tercabutnya Umat dari norma-norma dasar pendidikan Islam
Ia menekankan pentingnya pemberian pengertian dalam setiap pelajaran yang diberikan. Ia memperingatkan para pendidik untuk tidak mengajar murid dengan metode menghafal, karena metode demikian hanya akan merusak daya nalar, seperti yang dialaminya ketika belajar di sekolah formasi di Masjid Ahmadi di Thanta[5]
Krisis intelektual dalam dunia Islam yang berlarut-larut terjadi pada saat itu. Salah satu penyebab dari krisis tersebut adalah dikarenakan adanya dikotomi Ilmu Pengetahuan pada saat itu, sehingga umat Islam jauh tertinggal secara kultural maupun peradaban. Begitupun yang terjadi di Al-Azhar, Muhammad Abduh yakin bahwa apabila pendidikan di Al-Azhar dapat diperbaiki, maka kondisi umat Islam akan ikut baik. Menurutnya  perlu diadakan pembenahan administrasi, kurikulumnya diperluas, mencakup ilmu-ilmu modern, sehinnga Al-Azhar dapat berdiri sejajar dengan universitas-unuversitas lain di Eropa serta menjadi mercusuar dan pelita bagi kaum muslimin.
Adapun usaha Muhamad Abduh menggajukan Universitas Al-Azhar antara lain:
¨      Memasukan ilmu-ilmu modern yang berkembang di eropa kedalam al-azhar.
¨      Mengubah sistgem pendidikan dari mulai mempelajari ilmu dengan sistem hafalan menjadi sistem pemahaman dan penalaran.
¨      Menghidupkan metode munazaroh (discution) sebelum mengarah ke taqlid
¨      Membuat peraturan-peraturan tentang pembelajaran seperti larangan membaca hasyiyah (komentar-komentar) dan syarh (penjelasan panjang lebar tentang teks pembelajaran) kepada mahasiswa untuk empat tahun pertama.
¨      Masa belajar di perpanjang dan memperpendek masa liburan.

b.      Sekolah Dasar Negeri
Muhammad abduh berpendapat bahwa agama adalah dasar pembentuk jiwa dan pribadi seorang manusia. Maka dari itu hendaknya mata pelajaran agama diajarkan sedini mungkin pada anak sejak mereka duduk di bangku SD. Mengacu pada statement bahwa agama islam adalah dasar pembentuk jiwa dan pribadi seorang muslim, diharapkan dengan memiliki jiwa kepribadian seorang muslim, maka masyarakat Mesir akan mempunyai jiwa kebersamaan dan nasionalisme yang dapat mengantarkan masyarakat mesir memperoleh kemajuan dalam kehidupan berbangsa[6].
c.       Sekolah Tingkat Atas
Salah satu upaya memperbaiki pendidikan di Mesir adalah dengan mendirikan sekolah menengah pemerintah untuk mencetak ahli dalam berbagai lapangan administrasi, militer, kesehatan, perindustrian, dan sebagainya. Pada jenjang ini, Muhammad Abduh merasa perlu menambahkan materi – materi yang berhubungan dengan agama islam. Dengan adanya materi tentang agama, diharapkan para calon pegawai dan perwira militer memiliki bekal agama dan moral yang baik[7].
Ketiga jenis sekolah yang dibentuk Muhammad Abduh bukan bertujuan menciptakan kelompok social secara eksklusif, melainkan memiliki tujuan untuk melayani kepentingan masyarakat. Prinsip yang diterapkan Muhammad Abduh adalah perlunya mendasari pendidikan dengan moral dan agama. Pengajaran diperlukan untuk mencapai kehidupan yang lebih baik, sedangkan pendidikan dipandang sebagai alat yang paling efektif untuk melakukan suatu perubahan.
Diantara konsentrasi pembaharuan pendidikan Muhammad Abduh juga adalah tentang pendidikan perempuan. Menurutnya, perempuan memiliki hak yang sama dengan laki-laki dalam menerima layanan pendidikan. Wanita harus dilepaskan dari rantai kebodohan maka dari itu perlu diberikan pendidikan. Dalam mengangkat harkat martabat perempuan, munurunya ada beberapa hal yang harus diperjuangkan pembelajaran buat perempuan; mempersempit talak, dan pelarangan poligami. Semua pemikiran Muhammad Abduh tentang perempuan tertuang dan dikembangkan dalam Tahrir al-Mar'ah karya muridnya, Qosim Amin
Dalam bidang pendidikan nonformal, Muhammad Abduh menyebutkan usaha perbaikan (islah), dalam hal ini Muhammad Abduh melihat perlunya campur tangan pemerintah terutama dalam hal mempersiapkan para pendakwah. Tugas mereka yang utama antara lain:


1.       Menyampaikan kewajiban dan pentingnya belajar
2.       Mendidik mereka dengan memberikan pelajaran tentang apa yang mereka lupakan atau yang belum mereka ketahui.
3.      Meniupkan ke dalam jiwa mereka cinta pada Negara, tanah air, dan pemimpin.
Pembaruan pendidikan yang dilakukan oleh Muhammad Abduh dipengaruhi oleh factor situasi keagamaan dan situasi pendidikan yang terjadi pada masa itu. Keadaan social keagamaan di Mesir saat itu cukup memprihatinkan. Krisis yang menimpa umat bukan hanya dalam bidang akidah dan syariah, tapi juga akhlak dan moral. Pemikiran Muhammad Abduh sesuai dengan yang ada pada saat itu. Pembaruan bidang pendidikan yang dilakukan oleh Muhammad Abduh di Al-Azhar ternyata juga berpengaruh besar pada institusi pendidikan yang ada di Mesir bahkan ide penbaharuannya ditulis dan disebarkan pula melalui majalah terkenal di Mesir, yaitu Al- Manar dan Al-Urwat Al- Wusqa[8].
Muhammad Abduh berusaha membuat kurikulum yang sesuai dengan apa yang dibutuhkan masyarakat mesir pada saat itu. Ia berpendapat bahwa sekolah khusus yang mendidik para ulama hendaknya diberi mata pelajaran yang luas, sehingga Ia memasukkan beberapa ilmu tambahan pada kurikuluum Al-Azhar, antara lain ilmu filsafat, logika, dan ilmu pengetahuan modern. Hal ini ia maksud untuk mempersiapkan sumber daya manusia yang berkualitas, yakni para ulama yang modern.
Dari beberapa usaha yang dilakukan oleh Muhamad Abduh, meskipun belum sempat ia aplikasikan sepenuhnya secara temporal. Telah memberikan pengaruh positif terhadap lembaga pendididkan Islam. Usaha Muhamad Abduh kurang begitu lancar disebabkan mendapat tantangan dari kalangan ulama yang kuat berpegang pada tradisi lama teguh dalam mempertahankanya.
B. Relevansi Pemikiran Pendidikan Islam Muhammad Abduh dengan Pendidikan Nasional
Konsep pendidikan Muhammad Abduh ditelaah dari faktor-faktor pendidikan menunjukkan adanya relevansinya dengan Sistem Pendidikan Nasional yang tertuang dalam Undang-Undang Nomor 20 Tahun 2003, terutama pada tujuan pendidikan Nasional, yaitu mencerdaskan kehidupan bangsa serta membentuk peserta didik yang memiliki iman dan takwa.[9]
Sumbangsi pemikiran Muhammad Abduh tentang metode pengajaran relevan dengan pendidikan Indonesia, hal itu dapat dilihat disekolah – sekolah yang tersebar di Indonesia. Metode yang digunakan dalam proses belajar mengajar tak selalu metode menghapal. Guru berusaha menyajikan metode – metode yang dapat dipahami anak didik dengan mudah, antara lain metode diskusi, kuis, maupun praktek.
Jika dilihat dari segi konsep pendidikan yang dikeluarkan Muhammad Abduh penulis merasa kurang relevan dengan keadaan di Indonesia saat ini. Muhammad Abduh ingin menggabungkan antara kecerdasan generasi  muda yang tidak lepas dari tuntunan islam, meski di Indonesia sekarang ini sudah ada beberapa sekolah yang menggunakan pemikiran beliau, namun masih banyak sekolah – sekolah umum yang kurang mementingkan pelajaran agama (terutama Islam). Hal tersebut bisa jadi karena keadaan masyarakat Indonesia yang majemuk, dimana terdapat bermacam – macam perbedaan, salah satunya adalah masalah agama.
C. Kritik
Setelah diuraikan bagaimana pemikiran Muhammad abduh tentang pendidikan islam, penulis dapat menarik benang merah bahwa tujuan utama gerakan pembaharuan yang ia rumuskan adalah memadukan kecerdasan otak dan kecerdasan spiritual umat islam dalam mengembangkan diri di bidang pendidikan. Karena dengan pendidikanlah dapat diketahui sampai sejauh mana perkembangan suatu peradaban manusia. Keseriusannya terlihat dengan keinginannya mewujudkan sekolah – sekolah yang maju tidak hanya dari segi kecerdasan nalar saja, melainkan dengan spiritual yang tak lepas dari nafas agama islam.
Pemikiran Muhammad abduh patut dihargai karena ide pembaharuannya yang diharapkan dapat memajukan peradaban islam sebagaimana masa keemasan yang pernah diraih umat islam pada dinasti abassiyah. Kemunduran yang kini tengah dialami umat islam terjadi karena adanya paham jumud (statis, beku, dan tidak ada perubahan), Karena paham ini, umat islam  tidak menghendaki dan tidak mau menerima perubahan. Umat cenderung mengistimbatkan hukum dengan hukum yang sudah ada, hal itu terjadi karena anggapan bahwa segala problem yang dihadapi umat muslim telah ada pada hadits – hadits yang sudah terangkum rapih. Penulis sependapat dengan statement Muhammad abduh bahwa islam adalah agama yang rasional. Dengan membuka pintu ijtihad maka kemajuan umat islam akan tercapai. Namun yang harus digaris bawahi adalah tidak semua umat muslim mampu berijtihad dengan benar sebagaimana yang diharapkan Muhammad abduh, meskipun begitu, ada beberapa kalangan yang memang mampu dan sanggup melakukan ijtihad dengan kemampuannya, dari merekalah seharusnya lahir karya – karya baru yang sesuai dengan perkembangan jaman dan problematika yang dihadapi umat dewasa ini.
Ide penyatuan pengetahuan – pengetahuan dari barat dengan penanaman nilai – nilai islam adalah sebuah ide yang cemerlang, namun perlu adanya batasan – batasan yang jelas untuk melindungi umat islam agar tak terlalu jauh terlibat dengan keilmuuan dengan ideology – ideology barat yang cenderung atheis dan jauh dari ajaran agama islam yang sebenarnya.














Kesimpulan

Muhammad Abduh adalah sosok pembaharu Islam abad 19/20 yang mengusung rasionalitas dalam beragama. Abduh ingin menghilang kejumudan dalam pendidikan dengan tujuan pendidikan, mendidik akal dan jiwa serta menyampaikannya kepada batas-batas kemungkinan seseorang dapat mencapai kebahagiaan hidup di dunia dan akhirat. Dengan mengkonsentrasikan pada akal dan jiwa, Abduh berharap adanya keseimbangan dalam hidup dan mencapai kebahagiaan dunia dan akhirat. Di samping hidup berwibawa dengan akal yang cerdas, umat Islam juga berperilaku baik yang sesuai dengan ajaran syari'at. Untuk mencapai tujuan demikian, maka ia menggagas kurikulum berbasis sains dan falsafah yang banyak menggunakan akal, dan tanpa meninggalkan pelajaran-pelajaran yang bersifat agamis. Metode yang digunakan dalam pembelajaran ini, lebih terkonsentrasi pada metode diskusi. karena diharapkan murid dapat menganalisa informasi yang didapat. Ia sangat tidak suka dengan motede hafalah tanpa makna, walau informasi banyak didapat, namun tetap saja tidak bermanfaat, karena sang murid tidak paham dengan apa yang dihafalnya.
Kurikulum yang dirancang Muhammad Abduh antara lain adalah kurikulum al-azhar, kurikulum Sekolah Dasar, dan kurikulum Sekolah Tingkat Atas. Konsep pendidikan Muhammad Abduh ditelaah dari faktor-faktor pendidikan menunjukkan adanya relevansinya dengan Sistem Pendidikan Nasional yang tertuang dalam Undang-Undang Nomor 20 Tahun 2003, terutama pada tujuan pendidikan Nasional, yaitu mencerdaskan kehidupan bangsa serta membentuk peserta didik yang memiliki iman dan takwa.







DAFTAR PUSTAKA

1.      Nasution, Harun. 1987. Muhammad Abduh dan Teologi Rasional Muktazilah. Jakarta: PT Grafindo Persada

2.      Syar’I, Ahmad. 2005. Filsafat Pendidikan Islam. Jakarta: Pustaka Firdaus

3.      Ysmansyah. 2007. Sejarah Pendidikan Islam. Jakarta: Kencana Prenada Media Group

4.      Nizar. 2006. Sejarah Pendidikan Islam. Jakarta: Pustaka Firdaus

5.      Kholid, Muhammad Fathoni. 2005. Pendidikan Islam dan Pendidikan Nasional. Jakarta: Departemen Agama RI


[1] Harun Nasution, Muhammad Abduh dan Teologi Rasional Muktazilah (Jakarta: 1987) hlm. 309
[2] Ahmad Syar’I, Filsafat Pendidikan Islam, (Jakarta: Pustaka Firdaus) hlm.110
[3] Ahmad Syar’I, Filsafat Pendidikan Islam, (Jakarta: Pustaka Firdaus) hlm. 108
[4] Ysmansyah, Sejarah Pendidikan Islam, (Jakarta: Kencana Prenada Media Group) hlm. 242
[5] Nizar, Sejarah Pendidikan, hlm. 250
[6] Ysmansyah, Sejarah Pendidikan Islam, (Jakarta: Kencana Prenada Media Group) hlm.

[7]  Ysmansyah, Sejarah Pendidikan Islam, (Jakarta: Kencana Prenada Media Group) hlm. 242

[8] Ahmad Syar’I, Filsafat Pendidikan Islam, (Jakarta: Pustaka Firdaus) hlm.108

[9]Muhammad Kholid Fathoni, Pendidikan Islam dan Pendidikan Nasional, (Jakarta: Departemen Agama RI ) Hlm. 10

No comments:

Post a Comment