Monday, April 6, 2015

Sejarah Pendidikan Islam Pada Masa Bani Abbasiyah dan Umayyah



Mata Kuliyah
SEJARAH PENDIDIKAN ISLAM

Dosen Pengampu:
Hj. Rahmawati Baharudin, MA

 












Oleh :
 Moh.kamilus Zaman Spd.I

JURUSAN PENDIDIKAN AGAMA ISLAM
FAKULTAS TARBIYAH
UNIVERSITAS ISLAM NEGERI MAULANA MALIK IBRAHIM
MALANG

KATA PENGANTAR

Puji syukur alhamdulillahhirabbill ‘alamin kami panjatkan kehadirat Allah Swt. Atas limpah ramat serta karunia-Nya kami dapat menyelesaikan tugas makalah Mata Kuliah “Sejarah Pendidikan Islam” ini dengan lancar dan pada waktu yang telah ditentukan.
Dalam kesempatan ini tidak lupa kami ucapkan banyak trima kasih kepada Ibu. Selaku dosen pembimbing dan kepada seluruh pihak yang telah membantu dalam penyusunan makalah ini.
Dalam penulisan makalah ini tentunya tidak lepas dari kekurangan dan kelemahan sehingga saran dan kritik diharapkan untuk menambah dinamika pemikiran Islam yang saat ini mulai tampak lemah di tengah – tengah kehidupan bermasyarakat. Semoga amal baik kita semua dalam memberikan kontribusi bagi bangkitnya pemikiran Islam di tengah masyarakat menjadi investasi akhirat dengan keridhoan-Nya tentunya.
Akhir kata, kami ucapkan terima kasih dan mohon ma’af apabila ada kekurangan atau kesalahan dalam mengerjakan tugas ini.




         Malang, 13 Oktober 2011


           Penulis





BAB 1
PENDAHULUAN
1.1 Latar Belakang
Pertumbuhan dan perkembangan pendidikan Islam pada masa ini berjalan seperti di zaman permulaan Islam, hanya ada sedikit peningkatan sesuai dengan perkembangan Daulah Islamiyah sendiri.
Sebagaimana telah diketahui bersama bahwa pertumbuhan dan perkembangan pendidikan Islam dibagi dalam 5 periode, sedangkan untuk pendidikan Islam bani Umayyah masuk dalam kategori periode 2, yaitu periode pertumbuhan pendidikan Islam yang berlangsung sejak Nabi Muhammad saw wafat sampai masa akhir bani Umayyah. Sehingga karena masih dalam masa pertumbuhan maka hanya ada sedikit kemajuan seperti yang diterangkan di atas. Kamajuan ini hanya diwarnai dengan berkembangnya ilmu-ilmu Naqliyah yaitu filsafat dan ilmu eksakta disamping juga ilmu-ilmu agama yan
g sudah berkembang sebelumnya.
            
Faktor yang menyebabkan kurang pesatnya perkembangan ilmu-ilmu pada zaman ini salah satunya adalah faktor pemerintahan bani Umayyah yang lebih suka pada membangun kekuatan pemerintahan/politik yang cenderung otoriter.
Untuk mengetahui pertumbuhan pendidikan Islam pada zaman ini yang lebih rinci, baiklah kita masuk saja pada pembahasan materi. Materi/ilmu-ilmu agama yang berkembang pada zaman ini dapat dimasukan dalam kelompok Al-Ulumul Islamiyah
yaitu ilmu-ilmu Al-Qur'an, Al-Hadits, Al-Fiqih, yang mana akan diterangkan dimakalah ini.
Kehidupan intelektual di zaman dinasti Abbasiyah diawali dengan berkembangnya perhatian pada perumusan dan penjelasan panduan keagamaan terutama dari dua sumber utama yaitu al-Qur’an dan Hadis. Dalam bidang pendidikan di awal kebangkitan Islam lembaga pendidikan sudah mulai berkembang. Ketika itu, lembaga pendidikan terdiri dari dua tingkat:
1. Maktab/ kuttab dan masjid, yaitu lembaga pendidikan terendah, tempat anak-anak mengenal dasar-dasar bacaan, hitungan dan tulisan; dan tempat para remaja belajar dasar-dasar ilmu agama, seperti tafsir, hadis, fiqih, dan bahasa.
2. Tingkat pendalaman, para pelajar yang ingin memperdalam ilmunya pergi keluar daerah menuntut ilmu kepada seorang atau beberapa orang ahli dalam agama. Pengajarannya berlangsung di masjid-masjid atau di ulama bersangkutan. Bagi anak penguasa, pendidikan biasanya berlangsung di istana atau di rumah penguasa tersebut dengan mendatangkan ulama ahli. Lembaga-lembaga ini kemudian berkembang pada masa pemerintahan Bani Abbas dengan berdirinya perpustakaan dan akademik.
Kemajuan dalam bidang keilmuan tersebut dikarenakan oleh:
1)      Keterbukaan budaya umat Islam untuk menerima unsur-unsur budaya dan peradaban dari luar, sebagai konsekuensi logis dari perluasan wilayah yang mereka lakukan.
2)      Adanya penghargaan, apresiasi terhadap kegiatan dan prestasi-prestasi keilmuan
3)      Terjadinya asimilasi antara bangsa Arab dengan bangsa-bangsa lain yang lebih dahulu mengalami perkembangan dalam bidang ilmu pengetahuan.
4)      Gerakan penterjemahan guna menciptakan tradisi keilmuan yang kondusif. Gerakan terjemahan berlangsung dalam tiga fase. Fase pertama, masa khalifah al-Manshur hingga Harun al-Rasyid. Banyak menterjemahkan karya-karya bidang astronomi dan manthiq. Fase kedua, masa khalifah al-Ma’mun hingga tahun 300 H. Buku-buku yang banyak diterjemahkan adalah dalam bidang filsafat dan kedokteran. Fase ketiga, setelah tahun 300 H terutama setelah adanya pembuatan kertas. Bidang-bidang ilmu yang diterjemahkan semakin meluas.









1.3   Rumusan Masalah
A.    Sejarah Pendidikan Islam Pada Masa Bani Umayyah
1.      Bagaimana DevinisiHalaqoh dan Bagaimana penjelasan Halaqah Pendidikan Pada masa Abasiyah
2.      Bagaimana Penyebaran Al-Quran pada Masa Abasiyah
3.      Bagaimana Lahirnya Ilmu Hadits
4.      Bagaimana Lahirnya Ilmu Fiqih
5.      Bahgaiman Lahirnya Kuttab
B.     Sejarah Pendidikan Islam Pada Masa Bani Abbasiyah
1.      Bagaimana Kebijakan Dalam Bidang Keilmuan
2.      Bagaimana Model-model Pendidikan Islam Pada Masa Ini
3.      Lahirnya Perguruan Nidzomiyah
4.      Lahirnya Para Ulama’ dalam Berbagai Bidang

1.4  Tujuan
1.      Untuk Mengetahui Perkembangan Pendidikan Pada Masa Bani Umayyah. Baik dari Halaqoh, Penyebaran Al-Quran dan Lahirnya Ilmu-ilmu.
2.      Untuk Mengetahui Ruang Lingkup Pendidikan Pada Masa Bani Abbasiyah. Baik dari Kebijakan Penguasanya dan juga Model-model Pendidikannya.









BAB II
PEMBAHASAN
A.    Sejarah Pendidikan Islam Pada Masa Bani Umayah
2.1 Halaqoh
Halaqah adalah sebuah istilah yang ada hubungannya dengan dunia pendidikan, khususnya pendidikan atau pengajaran Islam. Halaqah adalah sekumpulan orang yang ingin mempelajari dan mengamalkan Islam secara rutin dan serius. Jumlah peserta dalam kelompok kecil tersebut berkisar antara 3-12 orang. Biasanya mereka terbentuk karena kesadaran mereka sendiri untuk mempelajari dan mengamalkan Islam secara bersama-sama (amal jama’i). Kesadaran itu muncul setelah mereka bersentuhan dan menerima dakwah dari orang-orang yang telah mengikuti halaqah terlebih dahulu, baik melalui forum-forum umum, seperti tabligh, seminar, pelatihan atau dauroh, maupun karena dakwah interpersonal (dakwah fardiyah). forum-forum ini juga diilhami oleh forum pembinaan intensif yang dahulu dilakukan oleh Nabi saw di rumah sahabat Arqam bin Abil Arqam. Dengan forum intensif inilah Nabi saw telah berhasil mencetak para As-Sabiqunal Awwalun, yang kemudian senantiasa mendampingi Nabi saw dalam dakwah
Halaqah bisa didefinisikan sebagai sebuah wahana tarbiyah (pembinaan), berupa kelompok kecil yang terdiri dari murabbi (pembina) dan sejumlah mutarabbi (binaan), dengan manhaj (kurikulum) yang jelas, dan diselenggarakan melalui berbagai macam sarana (perangkat) tarbiyah. Dengan demikian, elemen-elemen halaqah adalah (1) murabbi, (2) mutarabbi, (3) manhaj tarbiyah, dan (4) sarana (perangkat) tarbiyah. Dalam sebuah halaqah, murabbi dan mutarabbi bekerjasama untuk melaksanakan manhaj yang ada melalui sarana-sarana (perangkat-perangkat) yang sesuai.
Adapun sarana (perangkat) tarbiyah yang dimaksud antara lainadalah liqo’ atau pertemuan rutin pekanan, abit rihlah, mukayyam, dan daurah (pelatihan). Gerakan ilmiyah pada Adapun sarana (perangkat) tarbiyah yang dimaksud antara lain adalah liqa’ atau pertemuan. Gerakan ilmiah pada masa umayyah gencar dan dapat dianggap sebagai tonggak kemajuan ilmu-ilmu keislaman. Apabila dilihat dari rangkaian riwayat ibnu jarir ath-thabari dan ulama yang hidup pada masa umayyah daulah bani abbasiyyah,maka akan ditemukan bahwa mereka mendapatkan sumber riwayat dari orang yang hidup sebelum mereka yaitu ulama yang hidup pada masa daulah bani umayyah atau pada masa khalifah rasyidin.
Gerakan ilmiah ini selalu bersamaan dengan gerakan futuhut islamiah,setiap kali pasukan menundukkan pasukan baru,selalu di tindak lanjuti oleh para ulama dengan mengajarkan fiqh,tafsir,hadits dan ilmu keislaman lainnya,mereka mengajarkan dan menjelaskan problematika yang yang sedang dihadapi,para ulama menyebar keseluruh pelosok negeri ada yang berangkat kemesir,shafam dan afrika. Menyebarnya ulama keberbagai negeri membuahkan berbagai gerakan ilmiah dinegeri tersebut,berdirlah kelompok-kelompok kajian dan halaqah-halaqah ilmu.
2.2  Penyebaran Al-Qur’an
Penyebaran Al-quran pada Masa ini sangat berkembang luas, sekalipun setelah khalifah pada masa Sahabat, Rasulpun mengizinkan pada sahabat untuk menulis Al-Quran, hal yang berhubungan dengan itu tetap berdasarkan pada prosedur. Sampai pada masa kekhalifahan Usman. Keadaan menghendaki  yaitu bahwasannya Alquran pada satu mushaf. Yang mana mushaf itu disebut mushaf Imam, salinan salinan mushaf itu juga dikirimkan di berbagai profinsi. Penulisan Mushaf itu dinamakan mushaf Rasmul Usmani. Dan ssekarang pada masa ini berkembang ilmu-ilmu dalam mempelajari Al-Quran. Diantaranya;
Ilmu Qiraat, yaitu ilmu cara membaca Al-Qur'an. Orang yang pandai membaca Al-Qur'an disebut Qurra. Pada zaman ini pula yang memunculkan tujuh macam bacaan Al-Qur'an yang terkenal dengan " Qiraat Tujuh " yang kemudian ditetapkan menjadi dasar bacaan ( Ushulul Lil Qira'ah ). Pelopor bacaan ini terdiri dari kaum Malawy yaitu antara lain : Abdulloh bin Katsir, Ashim bin Abu Nujud, Abdulloh bin Amir, Ali bin Hamzah dan lain-lain.





2.3  Lahirnya Ilmu Hadits
Allah telah menganugerahkan kepada umat kita para pendahulu yang selalu menjaga Alquran dan hadis Nabi SAW. Mereka adalah orang-orang jujur, amanah, dan memegang janji. Sebagian di antara mereka mencurahkan perhatiannya terhadap Alquran dan ilmunya yaitu para mufassir. Dan sebagian lagi memprioritaskan perhatiannya untuk menjaga hadis Nabi dan ilmunya, mereka adalah para ahli hadis.
Salah satu bentuk nyata para ahli hadis ialah dengan lahirnya istilah Ulumul Hadis(Ilmu Hadis) yang merupakan salah satu bidang ilmu yang penting di dalam Islam, terutama dalam mengenal dan memahami hadis-hadis Nabi SAW. Karena hadis merupakan sumber ajaran dan hukum Islam kedua setelah dan berdampingan dengan Alquran. Namun begitu perlu disadari bahwa hadis-hadis yang dapat dijadikan pedoman dalam perumusan hukum dan pelaksanaan ibadah serta sebagai sumber ajaran Islam adalah hadis-hadis yang Maqbul (yang diterima), yaitu hadis sahih dan hadis hasan. Selain hadis maqbul, terdapat pula hadis Mardud, yaitu hadis yang ditolak serta tidak sah penggunaannya sebagai dalil hukum atau sumber ajaran Islam. Bahkan bukan tak mungkin jumlah hadis mardud jauh lebih banyak jumlahnya daripada hadis yang maqbul.
Untuk itulah umat Islam harus selalu waspada dalam menerima dan mengamalkan ajaran yang bersumber dari sebuah hadis. Artinya, sebelum meyakini kebenaran sebuah hadis, perlu dikaji dan diteliti keotentikannya sehingga tidak terjerumus kepada kesia-siaan. Adapun salah satu cara untuk membedakan antara hadis yang diterima dengan yang ditolak adalah dengan mempelajari dan memahami Ulumul Hadis yang memuat segala permasalahan yang berkaitan dengan hadis.
Ilmu Hadis atau yang sering diistilahkan dalam bahasa Arab dengan Ulumul Hadis yang mengandung dua kata, yaitu ‘ulum’ dan ‘al-Hadis’. Kata ulum dalam bahasa Arab adalah bentuk jamak dari ‘ilm, jadi berarti ilmu-ilmu, sedangkan al-Hadis dari segi bahasa mengandung beberapa arti, diantaranya baru, sesuatu yang dibicarakan, sesuatu yang sedikit dan banyak. Sedangkan menurut istilah Ulama Hadits adalah “apa yang disandarkan kepada Nabi SAW baik berupa ucapan, perbuatan, penetapan, sifat, atau sirah beliau, baik sebelum kenabian atau sesudahnya”. Sedangkan menurut ahli ushul fiqh, hadis adalah: “perkataan, perbuatan, dan penetapan yang disandarkan kepada Rasulullah SAW setelah kenabian.” Adapun sebelum kenabian tidak dianggap sebagai hadis, karena yang dimaksud dengan hadis adalah mengerjakan apa yang menjadi konsekuensinya. Dan ini tidak dapat dilakukan kecuali dengan apa yang terjadi setelah kenabian. Adapun gabungan kata ulum dan al-Hadis ini melahirkan istilah yang selanjutnya dijadikan sebagai suatu disiplin ilmu, yaitu Ulumul Hadis yang memiliki pengertian “ilmu-ilmu yang membahas atau berkaitan dengan Hadits Nabi SAW”.
Pada mulanya, ilmu hadis memang merupakan beberapa ilmu yang masing-masing berdiri sendiri, yang berbicara tentang Hadis Nabi SAW dan para perawinya, sepertiIlmu al-Hadis al-Sahih, Ilmu al-Mursal, Ilmu al-Asma’ wa al-Kuna, dan lain-lain. Penulisan ilmu-ilmu hadis secara parsial dilakukan, khususnya, oleh para ulama abad ke-3 H. Umpamanya, Yahya ibn Ma’in (234H/848M) menulis Tarikh al-Rijal, Muhammad ibn Sa’ad (230H/844) menulis Al—Tabaqat, Ahmad ibn Hanbal (241H/855M) menulis Al-‘Ilaldan Al-Nasikh wal Mansukh, serta banyak lagi yang lainnya.

2.4  Lahirnya Ilmu Fiqih
Agaknya tidaklah berlebihan apabila dikatakan bahwa dasar-dasar ilmu fiqh disusun pada masa pemerintahan Dinasti Abbasiyah. Ilmu tersebut disusun oleh ulama-ulama terkenal pada masanya dan memiliki pengaruh yang cukup besar hingga saat sekarang ini. Dikalangan ulama Ahl al-Sunnah wa al-Jama’ah, muncul tokoh-tokoh seperti Imam Abu Hanifah (80-150 H.), yang dalam ijtihadnya lebih cenderung memakai akal. Imam Anas ibn Malik (93-179 H.), lebih cenderung memakai hadits dan menjauhi pemakaian rasio sampai batas tertentu. Imam Anas ibn Malik (93-179 H.) lebih cenderung memakai hadits dan menjauhi pemakaian rasio sampai batas-batas tertentu. Imam Syafii (150-204 H.) yang berusaha mengkompromikan antara ahl al-ra’yi dengan ahl al-hadits dalam fiqh yang keras, ketat dan kurang luwes dibandingkan dengan aliran-aliran fiqh yang lainnya. Kitab-kitab fiqh karangan ulama-ulama tersebut hingga hari ini masih dapat ditemukan, seperti al-Muwatha’, al-Um, al-Risalah dan sebagainya. Buku-buku fiqh yang telah dihasilkan pada masa ini menjadi patokan bagi para ulama fiqh berikutnya.

2.5  Lahirnya Kuttab
      Kuttab dalam pengertianya yaitu; Sebuah lembaga yang mengajarkan baca-tulis Al-Quran kepada anak-anak. Sistem Kuttab yang mengajarkan membaca, menulis Al-Qur’an dan agama Islam lainnya tetap dilanjutkan pada zaman Umayyah ini. Hanya saja tempatnya selain di masjid dan rumah guru juga diselenggarakan di istana. Kuttab di istana bertujuan mengajarkan anak-anak dari keluarga yang berada di istana Khalifah. Guru istana dinamakan muaddib. Pendidikan istana mengajarkan Al-Qur’an, hadits, syair, riwayat hukama, menulis, membaca, dan adab sopan santun.
Lahirnya  lembaga Al-kuttab dapat ditelusuri dari zaman Rasulullah.  Al-Kuttab berperan besar pada permulaan sejarah Islam ketika Nabi memerintahkan pada tawanan perang Badar yang dapat menulis dan membaca untuk mengajar sepuluh anak-anak Madinah (bagi setiap orang tawanan).  Awal adanya Al-kuttab dulu itu karena tempat pembelajaran yang mana pada saat itu belum dibangun sebuah masjid, sehingga AL-Kuttab pads waktu itu sangat bersejarah. Al-Kuttab dijadikan tempat pembelajaran dan pengajian anak-anak madinah. Sehingga untuk  Peranan Al-Kuttab tetap besar dalam jiwa kita, dan besar pengaruhnya dalam sistem pendidikan Islam. Karena dalam Al-Kuttab berkumpulah anak-anak dari berbagai ragam lingkungan keluarga baik yang kaya ataupun yang miskin, sehingga tidak terjadi unsur-unsur pendidikan yang bersifat diskriminatif. Semuanya sama dalam pemberian pengajarannya, didalam lembaga Al-Kuttab semua anak-anak diajari dan diberi pengarahan pendidikan seperti halnya mengaji seperti didalam masjid ataupun lembaga-lembaga yang lain.

B.     Sejarah Pendidikan Islam Pada Masa Bani Abbasiyah
2.6  Kebijakan Penguasa Dalam Bidang Keilmuan
Gerakan pembangunan ilmu secara besar – besaran dirintis oleh khalifah Ja’far Al-Mansyur, ia menarik banyak ulama dan para ahli diberbagai daerah untuk tinggal di Bagdad dengan tujuan mengerahkan pembukuan segala ilmu, baik ilmu – ilmu tentang agama, maupun ilmu tentang bahasa dan sejarah.
Puncak pencapaian kemajuan peradaban Islam terjadi pada masa pemerintahan Harun Al-Rasyid (786-809 M). Harun Al-Rasyid adalah figur khalifah shaleh ahli ibadah; senang bershadaqah; sangat mencintai ilmu sekaligus mencintai para ‘ulama; senang dikritik serta sangat merindukan nasihat terutama dari para ‘ulama.
Tak jauh dari kepribadian ayahnya, Al-ma’mun sebagai pengganti Harun al-Rasyid dikenal sebagai khalifah yang cinta ilmu pengetahuan, sehingga pada masa pemerintahannya penerjemahan buku-buku asing digalakkan. Beliau juga banyak mendirikan sekolah, salah satu karya besarnya yang terpenting adalah pembangunan bait al-Hikmah sebagai pusat penerjemahan yang berfungsi sebagai perguruan tinggi dengan perpustakaan yang terbesar. Pada masa al-Ma’mun inilah Bagdad menjadi pusat ilmu pengetahuan.
Beberapa upaya penguasa dalam bidang keilmuan antara lain:
1.      Pada masa pemerintahan putera Harun Al-Rasyid (Al- ma’mun), Khalifah menghimpun para penerjemah ulung dari berbagai daerah. Mereka dibayar dengan gaji yang sangat besar. Untuk mewujudkan impiannya, yakni menjadikan Abbasiyah sebagai pusat peradaban dunia, khalifah juga mengirimkan utusan khusus ke Konstantinopel guna mencari buku-buku filsafat. Begitu tingginya penghargaan terhadap ilmu pengetahuan sehingga pada masa ini para penerjemah diberikan upah berupa emas murni seberat buku yang diterjemahkan. Menurut Oliver Leaman proses penterjemahan yang dilakukan ilmuwan muslim tidak hanya menterjemahkan karya-karya Yunani secara ansich, tetapi juga mengkaji teks-teks itu, memberi komentar, memodifikasi dan mengasimilasikannya dengan ajaran Islam. Proses asimilasi tersebut menurut Thomas Brown terjadi ketika peradaban Islam telah kokoh. Sains, filsafat dan kedoketeran Yunani diadaptasi sehingga masuk kedalam lingkungan pandangan hidup Islam. Proses ini menggambarkan betapa tingginya tingkat kreativitas ilmuwan muslim sehingga dari proses tersebut telah melahirkan pemikiran baru yang berbeda sama sekali dari pemikiran Yunani dan bahkan boleh jadi asing bagi pemikiran Yunani.
2.      Didirikannya Lembaga Pendidikan Islam Pertama yang bernama Baitul Hikmah (Rumah Kebijakan) pada masa Al ma’mun, Bangunan ini adalah institusi Pendidikan Tinggi Pertama di dunia Islam dan Barat. Selain berfungsi sebagai pusat penerjemah, bangunan ini juga berfungsi sebagai pusat kajian akademis dan perpustakaan umum.yang dilengkapi dengan observatorium (Biasanya digunakan juga untuk pusat pembelajaran astronomi)[1]
3.      Dibangunnya perpustakaan (khizanat al-kutub) di Syiraz oleh penguasa buwaihi, Adud Ad-Dawlah, dimana semua buku didaftar di dalam katalog dan disusun dengan rapi oleh staf administrator. Selain perpustakan di Syiraz, terdapat pula beberapa perpustakaan lain yang menunjang perkembangan pendidikan dinasti Abbasiyah, antara lain perpustakaan di Basrah, dan perpustakaan (Rumah Buku) di kota Rayy[2]. Berbagai pusat pendidikan tempat menuntut ilmu dengan perpustakaan-perpustakaan besar bermunculan seperti Perpustakaan Darul Hikmah di Cairo, Perpustakaan Al Hakim di Andalusia, Perpustakaan Abudal Daulah di Shiros (Iran Selatan), perpustakaan di Cordova, Palermo, Nisyapur, Baghdad, Damaskus, dan Bukhara, dimana pada saat yang sama telah mengungguli Eropa yang tenggelam dalam kegelapan selama berabad-abad.
4.      Pencapaian kemajuan dunia Islam pada bidang ilmu pengetahuan tidak terlepas dari adanya sikap terbuka dari pemerintahan Islam pada saat itu terhadap berbagai budaya dari bangsa-bangsa sebelumnya seperti Yunani, Persia, India dan yang lainnya. Gerakan penterjemahan yang dilakukan sejak Khalifah Al-Mansur (745-775 M) hingga Harun Al-Rasyid berimplikasi terhadap perkembangan ilmu pengetahuan umum, terutama di bidang astronomi, kedokteran, filsafat, kimia, farmasi, biologi, fisika dan sejarah.
2.7  Model-model Pendidikan Islam
Pendidikan islam mulai dilaksanakan oleh Rasulullah s.a.w sebagai mubaligh yang agung di tengah masyarakat Makah. Beliau mengajarkan tentang ajaran islam dan semua ayat Al-Quran yang diturunkan kepadanya, dengan membacakan secara berurutan dan dan bertahap. Pada waktu itu bangsa Arab berada pada puncsknys bahasa Arab yang fasih dan tinggi mutu balaghahnya.  Oleh karena itu mereka ketinggian bahasa Al-Quran dapat menerangi hati mereka dan menembus lubuk  hati mereka., sehingga mereka dapt memahami maksud dari hukum-hukumyang terkandung didalam kitab suci ini. Ayat-ayat yang mutasyabihat  (yang belum jelas meksudnya) dalam AlQuran sudah dijelaskan dan dapat mereka pahami melalui penjelasan Rasulullah .
Model pendidikan Islam semacam ini berlangsung terus sampai pada waktu Rasulullah mememrintahkan para tawarn perang Badar untuk mengajarkan membaca dan menulis kepada sepuluh anak di Madinah. Mulai sejak itulah sistem mengajar membaca dan menulis  mengikuti metode yang baru. Pada waktu itu membaca dan menulis dipandang sebagai alat yang wajib dimiliki untuk mempelajari Al-Quran dalam bentuk menulis, menghafal dan membacanya secara benar.  Kitab suci Al-Quran yang penuh dengan segala kemuliaannya yang menunjukkan ketinggian ciptaa Allah itu mendorong manusia muslim untuk memikirkan tentang segala yang diciptakanNya dalam alam semesta yang penuh dengan keajaiban, tanda-tanda dan tujuan dari ayat AlQuran itu tidak hanya terdorong untuk ilmu pengetahuan, membahasnya dan mendidik akal saja, melainkan karena agama Islam yang berdiri tegak diatas landasan dankaidah-kaidah yang yang telah ditujukan oleh Rasulullah didalamhadistnya yang mulia bahwa : Islam dibangun  diatas lima landasan .yaitu syahadat, sholat, puasa, zakat, haji.
Semacam inilah Model pendidikan Islam, Oleh karena itu pendidikan Islam mulai sejak periode awal perkembangannya mengandung keunggulan karena pendidikan Islam adalah pendidikan yang bercorak komprehensif (menyeluruh) yang mendorong kearah mendidik seorang muslim dan segala aspek kemampuannya. Pada masa kini para pemikir dan para ahli mengajak kepada manusia intuk memetik  atau mengambilprinsip-prinsip dan metode pendidikan Islam masa lampau, sehingga anak didik kita masa mendatang akan dapatmenghiasi dirinya dengan keutamaan ajaran Islam. Oleh karena itu anak-anak masa lampau senantiasa dan mau mendengarkan nasihat dan pelajaran dari guru-gurunya. Dari para pendidiknya dan dari orang tuanya tentang ajran nasihat yang membimbing mereka menjadi orang dewasa berkepribadian cemerlang dan bijaksana. Serta mendidik mereka menjadi orang yang berkemampuan untuk berfikir kreatif, dan sanggup berdiri sendiri dan sebagainya. Salah satu pokok ajaran Islam yaitu firman Allah; يرفع ا لله الدين امنوامنكم والدين اوتواالعلم در جات ....
Metode yang digunakan ada tiga macam, yaitu lisan, hafalan, tulis
1.      Metode lisan berupa dikte, ceramah, qiraah, dan diskusi. Metode dikte dianggap penting dan aman karena pada masa klasik, buku belum dicetak seperti sekarang
2.      Metode menghafal adalah ciri umum pendidikan pada masa ini. Murid harus membaca berulang – ulang agar dapat hafal
3.      Metode tulisan dianggap metode yang paling penting pada masa ini. Metode ini adalah mengkopikan karya – karya ulama dengan maksud menggandakan buku teks, karena pada saat itu belum ada mesin cetak
2.8  Lahirnya Perguruan Nidzomiyah
Pada zaman ini masjid menjadi semcam lembaga sebagai pusat kehidupan dan kegiatan ilmu terutama ilmu-ilmu agama. Seorang ustadz duduk dalam masjid dan murid duduk di sekelilingnya mendengarkan pelajarannya. Kadang dalam satu masjid terdapat beberapa halaqoh dengan ustadz dan pelajaran berbeda-beda. Kadang pula ustadz menggunakan rumahnya untuk mengajar. Pada zaman ini belum ada sekolah atau gedung khusus sebagai tempat belajar. Beberapa ustadz pada masa ini adalah Abdullah bin Abbas, Hasan Basri, Ja'far As-Shidiq dan lain-lain.
Sedangkan kota-kota yang menjadi pusat kegiatan pendidikan ini masih seperti pada zaman Khulafaur rosyidin yaitu, Damaskus, Kufah, Basrah, Mesir dan ditambah lagi dengan pusat-pusat baru seperti Kordoba, Granada, Kairawan dan lain-lain.
Institusi pendidikan Islam ideal lainnya yang lahir dari masa kejayaan Islam adalah Perguruan (Madrasah) Nizamiyah. Perguruan ini didirikan oleh Nizam al-Mulk, perdana menteri pada kesultanan Seljuk pada masa Malik Syah, pada tahun 1066/1067 M. Ketika itu, lembaga pendidikan ini hanya ada di Kota Baghdad, ibu kota dan pusat pemerintahan Islam pada waktu itu. Kemudian, berkembang ke berbagai kota dan wilayah lain.
Di antaranya di Kota Balkh, Nisabur, Isfahan, Mowsul, Basra, dan Tibristan. Dan, kota-kota ini menjadi pusat studi ilmu pengetahuan dan menjadi terkenal di dunia Islam pada masa itu.
Philip K Hitti dalam Sejarah Bangsa Arab menulis, Madrasah Nizamiyah merupakan contoh awal dari perguruan tinggi yang menyediakan sarana belajar yang memadai bagi para penuntut ilmu. Madrasah Nizamiyah menerapkan sistem yang mendekati sistem pendidikan yang dikenal sekarang.Madrasah Nizamiyah merupakan perguruan pertama Islam yang menggunakan sistem sekolah. Artinya, dalam Madrasah Nizamiyah telah ditentukan waktu penerimaan siswa, kenaikan tingkat, dan juga ujian akhir kelulusan.
Selain itu, Madrasah Nizamiyah telah memiliki manajemen tersendiri dalam pengelolaan dana, punya fasilitas perpustakaan yang berisi lebih dari 6.000 judul buku laboratorium, dan beasiswa yang berprestasi.
Bidang yang diajarkan meliputi disiplin ilmu keagamaan (tafsir, hadis, fikih, kalam, dan lainnya) dan disiplin ilmu akliah (filsafat, logika, matematika, kedokteran, dan lainnya). Kurikulum Nizamiyah menjadi kurikulum rujukan bagi institusi pendidikan lainnya.
Namun, keberadaan Madrasah Nizamiyah ini hanya ber tahan hingga abad ke-14, sebelum Kota Baghdad dihancurkan oleh tentara Mongol di bawah pimpinan Ti mur Lenk pada tahun 1401 M.
2.9  Lahirnya Para Ulama’ Dalam Berbagai Bidang 
Pencapaian prestasi yang gemilang sebagai implikasi dari gerakan terjemahan yang dilakukan pada zaman Daulat Abbasiah sangat jelas terlihat pada lahirnya para ilmuwan muslim yang mashur dan berkaliber internasional seperti : Al-Biruni (fisika, kedokteran); Jabir bin Hayyan (Geber) pada ilmu kimia; Al-Khawarizmi (Algorism) pada ilmu matematika; Al-Kindi (filsafat); Al-Farazi, Al-Fargani, Al-Bitruji (astronomi); Abu Ali Al-Hasan bin Haythami pada bidang teknik dan optik; Ibnu Sina (Avicenna) yang dikenal dengan Bapak Ilmu Kedokteran Modern; Ibnu Rusyd (Averroes) pada bidang filsafat; Ibnu Khaldun (sejarah, sosiologi). Mereka telah meletakkan dasar pada berbagai bidang ilmu pengetahuan.
Beberapa ilmuwan muslim lainnya pada masa Daulat Abbasiyah yang karyanya diakui dunia diantaranya:
§  Al-Razi (guru Ibnu Sina), berkarya dibidang kimia dan kedokteran, menghasilkan 224 judul buku, 140 buku tentang pengobatan, diterjemahkan ke dalam Bahasa Latin. Bukunya yang paling masyhur adalah Al-Hawi Fi ‘Ilm At Tadawi (30 jilid, berisi tentang jenis-jenis penyakit dan upaya penyembuhannya). Buku-bukunya menjadi bahan rujukan serta panduan dokter di seluruh Eropa hingga abad 17. Al-Razi adalah tokoh pertama yang membedakan antara penyakit cacar dengan measles. Dia juga orang pertama yang menyusun buku mengenai kedokteran anak. Sesudahnya, ilmu kedokteraan berada di tangan Ibnu Sina;
§  Al-Battani (Al-Batenius), seorang astronom. Hasil perhitungannya tentang bumi mengelilingi pusat tata surya dalam waktu 365 hari, 5 jam, 46 menit, 24 detik, mendekati akurat. Buku yang paling terkenal adalah Kitab Al Zij dalam bahasa latin: De Scienta Stellerum u De Numeris Stellerumet Motibus, dimana terjemahan tertua dari karyanya masih ada di Vatikan;
§  Al Ya’qubi, seorang ahli geografi, sejarawan dan pengembara. Buku tertua dalam sejarah ilmu geografi berjudul Al Buldan (891), yang diterbitkan kembali oleh Belanda dengan judul Ibn Waddih qui dicitur al-Ya’qubi historiae;
§  Al Buzjani (Abul Wafa). Ia mengembangkan beberapa teori penting di bidang matematika (geometri dan trigonometri).
§  Dalam bidang ilmu fiqih terkenal nama Abu Hanifah, Malik bin Anas, Al-Syafi’ie, dan Ahmad bin Hanbal. Dalam ilmu kalam ada Washil bin Atha, Ibnu Huzail, Al-Asy’ari, dan Maturidi. Dalam ilmu Tafsir ada Al-Thabari dan Zamakhsyari. Dalam ilmu hadits, yang paling populer adalah Bukhari dan Muslim. Dalam ilmu tasawuf terdapat Rabi’ah Al- Adawiyah, Ibnu ‘Arabi, Al-Hallaj, Hasan al-Bashri, dan Abu Yazid Al-Bustami[3]
















BAB III
PENUTUP

3.1    Kesimpulan
Kekuasaan dinasti bani abbas, sebagaimana disebutkan melanjutkan kekuasaan dinasti bani Umayyah. Dinamakan khilafah Abbasiyah karena para pendiri dan penguasa dinasti ini adalah keturunan Al-Abbas paman Nabi Muhammad Saw, dinasti didirikan oleh Abdullah Alsaffah Ibnu Muhammad Ibn Ali Ibn Abdullah Ibn Al- Abbas.1
Dinasti Abbasiyah merupakan dinasti islam yang sempat membawa kejayaan umat islam pada masanya. Zaman keemasan islam dicapai pada masa dinasti-dinasti ini berkuasa. Pada masa ini pula umat islam banyak melakukan kajian kritis terhadap ilmu pengetahuan. Akibatnya pada masa ini banyak para ilmuan dan cendikiawan bermunculan sehinnnngga membuat ilmu pengetahuan menjadi maju pesat.
Popularitas daulah Abbasiyah mencapai puncaknya di zaman khalifah Harun Al-Rasyid (786-809 M) dan puteranya Al-Ma’mum (813-833 M). Kekayaan yang dimanfaatkan Harun Arrasyid untuk keperluan sosial, rumah sakit, lembaga pendidikan, dokter, dan farmasi didirikan, pada masanya sudah terdapat paling tidak sekittar 800 orang dokter. Disamping itu, pemandian-pemandian umum juga dibangun. Tingkat kemakmuran yang paling tinggi terwujud pada zaman khalifah ini. Kesejahteraan sosial, kesehatan, pendidikan, ilmu pengetahuan, dan kebudayaan serta kesusasteraan berada pada zaman keemasannya.pada masa inilah Negara islam menempatkan dirinya sebagai Negara terkuat dan tak tertandingi. Al- Ma’mun pengganti Al- Rasyid, dikenal sebagai khalifah yang sangat cinta kepada ilmu. Pada masa pemerintahannya, penerjemahan buku-buku asing digalakan, untuk menerjemahkan buku-buku Yunani, ia mengkaji penerjemah-penerjemah dari golongan kristen dan penganut golongan lain yang ahli. Ia juga banyak mendirikan sekolah, salah satu karya besarnya yang terpenting adalah pembangunan Bait Al- Hikmah, pusat penerjemah yang berfungsi sebagai perguruan tinggi.
            Dan dari keterangan makalah diatas sudah jelas bahwa pendidikan pada masa Bani Umayyah dan Abbasiyah sangat erat hubungannya. Halnya saja beda dalam konteks, dan metode-metodenya. Dan itu sudah jelas bahwa pendidikan Islam dimasa Bani Umayyah dan Abbasiyah ini juga masih sama dan diterapkan pada masa sekarang ini.
























Daftar Pustaka

Basri, Hasan, M.Nur. Peran Islam dalam Kemajuan Eropa. Serambi Indonesia. edisi 19 Maret 2001.
Sunanto, Musyrifah. 2004. Sejarah Islam Klasik Perkembangan Ilmu Pengetahuan Islam. Jakarta: Prenada Media.
Yatim, Badri. 2000. Sejarah Peradaban Islam: Dirasah Islamiyah II. Jakarta: PT. Raja Grafindo Persada.
Yunus, Mahmud. 1990. Sejarah Pendidikan Islam. Jakarta: PT. Hidakarya Agung.
Zuhairini, Moh. Kasiran. dkk. 1985. Sejarah Pendidikan Islam. Jakarta: DEPAG.
Nizar, Samsul. 2005. Sejarah Pergolakan Pemikiran Pendidikan Islam. Jakarta: PT. Cuputat Press Group
Al Abrasi, Athiyya. Tarbiyah Al Islamiyah (Terjemahan Bustami A. Ghani). 1993. Jakarta: Bulan Bintang
Hasan, Asma Fahmi. Mabadi’at Tarbiyyah Al Islamiyyah (terjemahan Mukhtar Yahya dan Sanusi Latif). Jakarta: Bulan Bintang
Supriyadi, Dedi. Sejarah Peradaban Islam. 2001. Bandung: Pustaka Setia































[1] Dedi Supriyadi, Sejarah Peradaban Islam, Bandung: Pustaka Setia, Hlm.136
[2] Ibid, Hlm. 137

[3] Hasan Basri, M.Nur, Peran Islam dalam Kemajuan Eropa, Serambi Indonesia, edisi 19 Maret 2001

No comments:

Post a Comment