Monday, April 6, 2015

Manajemen Mutu dan Jaminan Mutu Sekolah Unggul



Makalah

                   Manajemen Mutu dan Jaminan Mutu Sekolah Unggul

Makalah ini disusun untuk memenuhi tugas mata kuliah Manajemen pendidikan islam
Dengan dosen pembimbing Dr. Mulyono, M.A












MOH.KAMILUS ZAMAN SPDI (085755107987)



JURUSAN PENDIDIKAN AGAMA ISLAM
FAKULTAS TARBIYAH
UNIVERSITAS ISLAM NEGERI MAULANA MALIK IBRAHIM MALANG
November 2011



KATA PENGANTAR

Puji syukur kehadirat Allah SWT. yang telah melimpahkan rahmat, taufiq serta hidayah-Nya, sehingga penulis dapat menyelesaikan tugas ini dengan baik. Sholawat dan salam semoga tetap dipanjatkan kepada Nabi Muhammad SAW, semoga kita senantiasa diberi petunjuk dan syafa’atnya di hari akhir. Amin.
Ucapan terima kasih kami haturkan, kepada Bpk Dr. H. Mulyono, M.A sebagai Dosen Mata Kuliah Studi Agama, yang telah membantu dan memberi pengarahan kepada penulis dalam belajar dan mengerjakan tugas.
Makalah ini membahas tentang “Manajemen Mutu dan Jaminan Mutu Sekolah Unggul”. Penulis menyadari jika makalah ini masih jauh dari sempurna, maka dari itu, mohon saran dan kritik guna memperbaiki makalah ini. Semoga makalah ini dapat bermanfaat bagi yang pembaca pada umumnya khususnya bagi penyusun.


                                                                                                       Penulis
Malang, 11 november 2011











BAB I
PENDAHULUAN
A. Latar Belakang
Mutu Sekolah dijamin dengan pengelolaan yang menerapkan manajemen berbasis sekolah/madrasah. Keberhasilan tersebut ditandai dengan pencapaian beberapa indikator kinerja,  adapun upaya peningkatan mutu pendidikan merupakan titik strategis dalam upaya menciptakan pendidikan yang berkualitas. Pendidikan yang berkualitas merupakan salah satu pilar pembangunan bagi suatu bangsa melalui pengembangan potensi individu. Karenanya, dapat dikatakan bahwa masadepan suatu bangsa terletak pada mutu dan kualitas pendidikan yang dilaksanakan.Untuk menjamin mutu dan kualitas pendidikan, diperlukan perhatian yang serius, baik oleh penyelenggaran pendidikan, pemerintah, maupun masyarakat. Sebab, dalam sistem pendidikan nasional sekarang ini,konsentarasi terhadap mutu dan kualitas bukan semata-mata tanggung jawab sekolah dan pemerintah, tetapi merupakan sinergi antara berbagai komponen termasuk masyarakat. Oleh karena itu, masyarakat harus sadar dan berkonsentrasi terhadap peningkatan mutu pendidikan.
Untuk melaksanakan penjaminan mutu tersebut, diperlukan kegiatan yang sistematis dan terencana dalam bentuk manajemen mutu.Manajemen mutu dalam pendidikan merupakan cara dalam mengatur semua sumber daya pendidikan, yang diarahkan agar semua orang yangterlibat di dalamnya melaksanakan tugas dengan penuh semangat danberpartisipasi dalam perbaikan pelaksanaan pekerjaan.
B. Rumusan Masalah
1.1 Apa itu mutu?
1.2 Apa manajemen mutu?
1.3 Bagaimana jaminan mutu dalam sekolah?
1.4 Bagaimana manajemen mutu sekolah unggul?
C. Tujuan
1.1 Apa itu mutu?
1.2 Apa manajemen mutu?
1.3 Bagaimana jaminan mutu dalam sekolah?
1.4 Bagaimana manajemen mutu sekolah unggul?
BAB II
                                                                 PEMBAHASAN
1.1  DEFINISI MUTU
Pengertian mutu memiliki variasi sebagaimana didefinisikan oleh masing-masing orang atau pihak. Produsen (penyedia barang/jasa) atau konsumen (pengguma/pemakaian barang/jasa)akan memiliki definisi yang berbeda mengenai mutu barang/jasa. Perbadaan ini mengacu pada maasing-masing pihakmengenai barang/jasa yang menjadi objeknya. Satu kata yang menjadi benang merah dalam konsep mutubaik menurut konsumen maupun produsen adalah kepuasan. Barang atau jasa yang dikatakan bermutu adalah yang dapat member kepuasan baik bagi pelanggan maupun produsen.
Apabila kita mencoba menelusuri latar belakang munculnya gerakan mutu, maka kita akan bertemu dengan tiga bapak mutu, yaitu W. Edwards Deming, Josep Juaran, dan Philip B. Crosby. Ketiga pakar mutu tersebut memiliki pandangan yang beragam mengenai filosifi mutu.
Deming menulis buku yabg paling penting yang berjudul Out of the crisis. Buku tersebut menjelaskan tentang transformasi gaya manajemen Amerika. Daming mengkonsentrasikan penjelasan pada kesalahan atau kegagalan manajemen untuk dijadikan dasar perencanaan mutu  pada hakikatnya terletak pada konsep manajemen. Khususnya kegagalan senior dalam proses perencanaan.  Deming mengemikakan 14 butir filosofi mutu gaya baru yang menjadi daya tarik bagi pihak manajeman untuk merubah gaya pendekatan mereka. Deming mengkombinasikannya dengan pemahaman tentang pentingnya psikologi, khususnya untuk mengatasi hambatan dalam mengadopsi suatu budaya mutu.
            Secara tegas Deming juga menekankan pentingnya pencegahan daripada memperbaiki kerusakan, hal inilah yang dinilai sebagai kontribusi unik dalam dalam memahami bagaimana menjamin peningkatan mutu. Studi penting Daminadalah analisa mengenai kegagalan mutu. Hasil kajiannya menunjukkan bahwa penyabab kegagalan dapat dibedakan menjadi dua, yaitu penyebab kegagalan khusus dan umum, penyebab umum adalah adanya kegagalan sistem, yaitu berkaitan dengan proses internal lembaga. Hal tersebut dapat diatasi atau dikurangi jika dilakukan perubahan system, proses, dan prosedurnya. Sedangkan penyabab khususnya adalah gangguan yang dating dari komponen system yang berfariasi.
            Josep Juram merupakan salah satu pakar mutu yang pernah mendapatkan penghargaan yang dinilai prestisius dari kaisar jepang, yaitu Order of sacred Treasure. Juran telah meluncurkan sejumlah buku mengenai mutu. Sebagai pakar ddi bidang mutu, juran memiliki ide penting mengenai mutu, yaitu produk atau jasa yang bisa menemukan sepesifikasi yang di inginkan oleh pelanggan. Untuk mewujudkan idenya itu, juran mengemukakan dua hal, yaitu;
1) Hukum 85/15
                Hukum 85/15 yang dikemukakan juran bahwa 85% masalah mutu yang dihadapi organisasi disebabkan Karena buruknya desain proses. Desain proses meruoakan prose manajemen yang dilakukan untuk mengelola organisasi. Apabila desain proses dibuat secara benar maka dapat dikatakan bahwa mutu telah dibuat secara benar. Desain proses system merupakan manajemen.
2) Strategi manajamen mutu
                Untuk memperbaiki manajemen dalam rangka mutu, juran mengembangkan suatu  pendekatn yang disebut strategic quality management  (SQM). SQM merupakan tiga bagian proses berdasarkan tingkatan staf. Perbedaan tingkatan staf  ini dinilai memberikan kontribusi yang unik bagi peningkatan mutu. Manajer puncak memiliki pandangan strategi organisasi. Manajer madya memegang peranan oprasional mutu. Dan pengawas mutu bertanggung jawab atas pengawasn mutu.
            Philip Crosby trrkenal dengan idenya mengenai mutu. Pertama, bahwa mutu adalah gratis. Artinya pemborosan dan ketidak-efisienan pada system dapat dihemat dan dibayar oleh program peningkatan mutu. Kedua, bahwa kesalahan, kegagalan, pemborosan dan seluruh hal yang tidak mencerminkan mutu dapat dihapus seluruhnya jika lembaga memiliki keinginan kuat untuk menghilangkannya.
            Mutu adalah gambaran dan karekteristik dari barang atau jasa yang menunjukkan kemampuannya dalam memuaskan kebutuhan yang memuaskan pelanggan,penulis memandang mutu terkait dengan kepuasan pelanggan terhadap barabg atau jasa yang diberikan oleh produsen. Lebih luas dari itu, konsep mutu juga ditetapkan produsen sebagai pembuat atau pembri jasa yang didasarkan pada pada spesifikasi yang telah ditentukan produsen. Manajemen kontemporer saat ini mengorientasikan proses manajenugn pada upaya untuk mencapai mutu baik pada input, proses, maupun output organisasi, sehingga organisasi sllu diharapkan akan sllu mamiliki hubungan yang berarti dengab pelanggan. Keberartian inilah yang akan membuet organisasi dkatakan sebagai organisasi yang bermutu.[1]

b. Prinsip Mutu
            Menurut Deming ada 14 prinsip mutu yang harus dilakukan organisasi/perusahaan jika menghendaki dicapainya mutu, yaitu;
1) Menciptakan konsistensi tujuan untuk pengembangan produk dan jasa dengan adanya tujuan suasana bisnis yang kompetirif.
2) Adopsi filosofi baru.
3) Menghentikan ketergantungan pada adanya inspeksi dan diganti dengan upaya pencapaian mutu.
4) Menghentikan bahwa penghargaan dalam bisnis adalah terletak pada harga.
5) Peningkatan system produksi dan layanan secara terus menerus guna peningkatan mutu dan produktuivitas.
6) Pelatihan dalam pekerjaan.
7) kepemimpinan lembaga.
8) Menghilangkan rasa takut.
9) Hilangkan penghalang antar departemen/biro.
10) Mengurangi selogan peringkatan-peringkatan dan target, dan mengganti dengan pemantapan  motode-metode yang dapat meningkatkan mutu kerja.
11) kurangi standar  kerja yang menentukan kuato berdasarkan jumlah.
12) Hilangkan penghambat yang dapat merampas hak asasi manusia untuk merasa bangga terhadap kecapakan kerjanya.
13) Lembagakan suatu program pendidikan dan peningkatan diri yang penuh semangat.
14) Setiap orang dalam perusahaan bekerja sama dalam mendukung proses transformasi.[2]

c. Komponen Mutu
            Komponen-komponen mutu merupakan bagian-bagian yang harus ada dalam upaya untuk mewujudkan mutu. Bagian-bagian ini merupakan pendukan dan menjadi prasyarat dimilakinya mutu, beberapa komponen mutu yang dmaksud adalah;
a. Kepemimpinan yang berorientasi pada mutu
            Manajer puncak harus mengarahkan upaya pencapaian tujuan secara terpadu dengan memberikan, menggunakan alat dan bahan yang komunikatif, menggunakan data, dan mengidentifikasikan orang-orang (SDM). Dalam implemetasi TQM sebagai kunci proses manajemen, manajer puncak berperan sebagai penasehat, guru atau pemimpin.
            Pimpinan harus mengerti bahwa TQM adalah suatu proses yang harus bersinergi dan terdiri dari prisip-prisi[ dan komponen-komponen pendukung yang harus dikelola agar mencapai perbaikan mutu secara berkasinambungan sebagai kunci keunggulan bersaing.
b. Pendidikan dan pelatihan
            Perwujudan mutu didasarkan pada keterampilan setiap pegawai dalam merencanakan, mengorganisasi, membuat, mengevaluasi, dan mengembangkan barabg/jasa sebagaimana tuntutan pelanggan. Pemahaman dan keterampilan pegawai menjadi kunci untuk mewujudkan hal itu melalui aplikasi pemahaman dan kemampuannya.
c. Struktur pendukung
            Manajer puncak akan memerlukan dukungan untuk melekukan perubahab yang dianggap perlu dalam melksanakan strategi pencapaian mutu. Dukungan semacan ini mungkin diperoleh dari luar melalui konsultan atau tim mutu. Dukungan semacam ini mungkin diperoleh dari dalam organisasi itu sendiri. Staf pendukung yang kecil dapat membantu manajemen puncak untuk mengartikan konsep mengenai mutu, membantu melalui ”network” dengan manajer mutu dibagian lain dalam organisasi dan membantu sebagai nara sumber mengenal topic-topik yang berhubangan dengan mutu bagi manajer puncak.
d. Komunikasi
            Komunikasi dalam suatu organisasi yang berorentasi mutu perlu ditempuh dengan cara yang bervariasi agar pesan yang dikomunikasikan dapat tersampaikan secara efektifdan manajer puncak dapat berkomunikasi kepada seluruh pegawai mengenai suatu komitmen yang sungguh-sungguh untuk melakukan perubahab dalam usaha peningkatan mutu
e. Ganjaran dan pengakuan
            Tim dan individu yang berhasil menerapkan prinsip-prisip mutu dalam proses mutu diakui dan diberi ganjajaran sebagaimana kemampuan organisasi, sehingga pegawai lainnya sebagai anggota organisasi akan mengetahui apa yang diharapkan. Kegagalan dalam mengenali seseorang menuju sukses akan memberikan kesan bahwa ini bukan arah menuju pekerjaan sukses, dan memungkinkan promosi atau sukses individu secara menyeluruh. Jadi pada dasarnya pegawai yang berhasil mencapai mutu tertentu harus diakui dan diberi ganjaran agar dapat menjadi panutan/contoh bagi pegawai lainnya. [3]
1.2 MANAJEMEN MUTU
Upaya peningkatan mutu pendidikan merupakan titik strategis dalam upaya menciptakan pendidikan yang berkualitas. Pendidikan yang berkualitas merupakan salah satu pilar pembangunan bagi suatu bangsa melalui pengembangan potensi individu. Karenanya, dapat dikatakan bahwa masa depan suatu bangsa terletak pada mutu dan kualitas pendidikan yang dilaksanakan.Untuk menjamin mutu dan kualitas pendidikan, diperlukan perhatian yang serius, baik oleh penyelenggaran pendidikan, pemerintah, maupun masyarakat. Sebab, dalam sistem pendidikan nasional sekarang ini,konsentarasi terhadap mutu dan kualitas bukan semata-mata tanggung jawab sekolah dan pemerintah, tetapi merupakan sinergi antara berbagai komponen termasuk masyarakat. Oleh karena itu, masyarakat harus sadar dan berkonsentrasi terhadap peningkatan mutu pendidikan. Untuk melaksanakan penjaminan mutu tersebut, diperlukan kegiatan yang sistematis dan terencan adalam bentuk manajemen mutu. Manajemen mutu dalam pendidikan merupakan cara dalam mengatur semua sumber daya pendidikan, yang diarahkan agar semua orang yangterlibat di dalamnya melaksanakan tugas dengan penuh semangat danberpartisipasi dalam perbaikan pelaksanaan pekerjaan sehingga menghasilkan jasa yang sesuai bahkan melebihi harapan pelanggan.
a. Manajemen Mutu dalam Pendidikan
1. Konsep Dasar Manajemen Mutu Istilah manajemen memiliki banyak arti, tergantung orang yang mengartikannya. Menurut Moefti Wiriadihardja manajemen adalah mengarahkan/memimpin sesuatu daya usaha melalui perencanaan, pengorganisasian, pengkordinasian dan pengendalian sumber daya manusia dan bahan ditujukan untuk mencapai tujuan yang telah ditentukan sebelumnya. Sedang Syafaruddin mendefinisikan manajemen sebagai suatu proses pengaturan dan pemanfaatan sumber daya yangdimiliki organisasi melalui kerjasama para anggota untuk mencapai tujuan organisasi secara efektif dan efisien. Dari dua pengertian di atas, dapat dipahami bahwa manajemen merupakan tindakan-tindakan yang dilakukan oleh sekelompok orang dalam sebuah organisasi dalam rangkamencapai tujuan organisasi yang telah ditetapkan. Sedangkan mutu, secara essensial digunakan untuk menujukkan kepada suatu ukuran penilaian atau penghargaan yang diberikan ataudikenakan kepada barang (product) dan/atau jasa (service) tertentu berdasarkan pertimbangan obyektif atas bobot dan/atau kinerjanya, Jasa/pelayanan atau produk tersebutdikatakan bermutu apabila minimal menyamai bahkan melebihi harapan pelanggan. Dengan demikian, mutu suatu jasa maupun barang selalu berorientasi pada kepuasaan pelanggan. Apabila kata mutu digabungkan dengan kata pendidikan, berarti menunjuk kepada kualitas product yang dihasilkan lembaga pendidikan atau sekolah. Yaitu dapat diidentifikasi dari banyaknya siswa yang memiliki prestasi, baik prestasi akademik maupun yang lain, serta lulusannya relevan dengan tujuan (Aan Komariahdan Cepi Tiratna) Dari penjelasan di atas, dapat disimpulkan bahwa manajemen mutu adalah suatu cara dalam mengelola suatu organisasi yang bersifat komprehensif dan terintegrasi yang diarahkan dalam rangka memenuhi kebutuhan pelanggan secara konsisten dan mencapai peningkatan secaraterus menerus dalam setiap aspek aktivitas organisasi.
Sasaran yang dituju dari manajemen mutu adalah meningkatkan mutu pekerjaan, memperbaiki prodiktivitas dan efisiensi melalui perbaikankinerja dan peningkatan mutu kerja agar menghasilkan produk yang memuaskan atau memenuhi kebutuhan pelanggan. Jadi, manajemen mutu bukanlah seperangkat peraturan dan ketentuan yang kaku yang harus diikuti, melainkan seperangkat prosedur proses untuk memperbaiki kinerjadan meningkatkan mutu kerja (Mohammad Ali). Dalam manajemen produksi, ada suatu mekanisme penjaminan agar produk yang dihasilkan dapat memenuhi standar mutu. Untuk itu pengendalian mutu harus dilakukan sejak awal perencanaan.
Apabila pengendalian mutu dilakukan setelah produk dihasilkan bisa menghadapi resiko terjadinya sejumlah produk yang tidak sesuai dengan standar yang diharapkan. Dalam paradigma demikian, tujuan utama manajemen mutuadalah untuk mencegah dan mengurangi resiko terjadinya kesalahan dalamproses produksi, dengan cara mengusahakan agar setiap langkah yangdilaksankan selama proses produksi dapat berjalan sebaik-baiknya sesuaistandar. Dengan demikian, dalam manajemen mutu bukan sekedarberupaya agar produk yang dihasilkan memenuhi standar mutu, tetapilebih difokuskan pada bagaimana proses produksi bisa terlaksana denganbaik, sesuai dengan prosedur yang seharusnya dilakukan. Dengan prosesproduksi yang baik, tentu akan dapat menghasilkan produk yang baik pula.
2. Manajemen Mutu Pendidikan yang bermutu dan berkualitas merupakan harapan dan dambaan bagi setiap warga negara ini. Masyarakat, baik yang terorganisir dalam suatu lembaga pendidikan, maupun orang tua/wali murid, sangatberharap agar murid dan anak-anak mereka mendapatkan pendidikan yangbermutu agar kelak dapat bersaing dalam menjalani kehidupan. Untuk menjawab harapan masyarakat tersebut, setiap lembaga pendidikan hendaknya selalu berupaya agar pendidikan yang dikelolanya dapa tmenghasilkan produk yang berkualitas, yaitu produk yang dapa tmemuaskan para pelanggan.Praktek penyelenggaraan pendidikan dapat dikiyaskan dengan proses produksi dalam sebuah perusahaan (industri). Hanya saja, produkyang dihasilkan lembaga pendidikan dalam bentuk jasa. Oleh karena itu
lembaga pendidikan dapat dikatakan sebagai perusahaan jasa. Dari prespektif ini, mutu dan kualitas layanan (jasa) yang dihasilkan merupakan ukuran mutu sebuah lembaga pendidikan. Yaitu sejauh mana kepuasaan pelanggan terhadap jasa yang dihasilka. Menurut Mulyasa, sebagai industri jasa, mutu lembaga pendidikan dapat diukur dari pelayanan yang diberkan oleh pengelola pendidikan beserta seluruh karyawan kepada para pelanggan sesuai dengan standar mutu tertentu bukan hanya dalam bentuk kualitas lulusannya. Pendidikan yang bermutu tidak dapat hanya dilihat dari kualitas lulusannya, tetapi juga mencakup bagaimana lembaga pendidikan mampu memenuhi dan melayani kebutuhan pelanggan sesaui denganstandar mutu yang berlaku. Yang dimaksud pelanggan di sini adalah pelanggan internal, yaitu guru dan tenaga kependidikan lainya, danpelanggan eksternal yaitu peserta didik dan pihak-pihak terkait di luarlembaga pendidikan tersebut. Dengan demikian, sekolah dikatakan bermutu apabila mampu memberi layanan sesuai atau bahkan melebihi harapan guru, karyawan, peserta didik, dan pihak-pihak lain yang terkaitseperti orang tua, penyandang dana, pemerintah atau dunia kerja pengguna lulusan.
Untuk memberikan jaminan terahadap mutu dan kualitas, lembaga pendidikan harus mengetahui dengan pasti apa yang dibutuhkan oleh pelanggannya. Lembaga pendidikan hendaknya selalu berupaya mensinergikan berbagai komponen untuk melaksanakan manajemen mutu pendidikan yang dikelolanya agar dapat menjalankan tugas dan fungsi kependidikan. Untuk itu, kerjasama dengan semua komponen sekolahdalam manajemen harus menjadi prioritas. Komponen sekolah dimaksud adalah para pendidik, karyawan, peserta didik, orang tua/wali, maupun masyarakat. Kerjasama dengan komponen sekolah dimaksudkan untukmelibatkan dan memberdayakan mereka dalam proses organisasi baik dalam pembuatan keputusan mupun pemecahan masalah. Oleh karena itu, pada saat initelah menggejala hampir di seluruh dunia sebuah cara untuk meningkatkan mutu pendidikan yaitu school based management yang diIndonesia dikenal dengan istilah Manajemen Berbasis Sekolah (MBS).Pada sistem MBS, sekolah dituntut secara mandiri untuk menggali, mengalokasikan, menentukan prioritas, mengendalikan, dan mempertanggungjawabkan pemberdayaan sumber-sumber, baik kepadamasyarakat maupun pemerintah. Hal ini merupakan salah satu bentuk pembaharuan pendidikan,yang memberikan kewenangan penuh kepada sekolah untuk meneyelenggarakan pendidikan agar produk yang dihasilkan sesuai dengan lingkungan. Kecuali pemberian kewenangan yang cukup besar tersebut, pelaksanaan MBS juga memberikan beban pertanggung jawaban pengelolaan sumber daya yang ada kepada sekolah yang bersangkutan.Karena itu, MBS menekankan keterlibatan maksimal berbagai pihak, sehingga menjamin partisipasi semua komponen pendidiikan yanglebih luas dalam perumusan-perumusan keputusan tentang pendidikan.
Hal ini dimaksudkan untuk mendorong komitmen mereka terhadap penyelenggaraan pendidikan. Yang pada akhirnya akan mendukung efektivitas dalam pencapaian tujuan sekolah. Keberhasilan manajemen mutu dalam dunia pendidikan (sekolah) dapat diukur tingkat kepuasaan pelanggan. Sekolah dapat dikatakan berhasil jika mampu memberikan layanan sesuai harapan pelanggan.Menurut Depdiknas (1999), sebagaimana dikutip Syafaruddin, menyebutkan 3 (tiga) hal yang merupakan cakupan keberhasilan manajemen sekolah, yaitu
1) Siswa puas dengan layanan sekolah, yaitu dengan pelajaran yang diterima, perlakuan guru, pimpinan, puas dengan fasilitas yang disediakan sekolah atau siswa menikmati situasi sekolah dengan baik.
2) Orang tua siswa merasa puas dengan layanan terhadap anaknya,layanan yang diterimanya dengan laporan tentang perkembangan kemajuan belajar anaknya dan program yang dijalankan sekolah.
3) Pihak pemakai lulusan puas karena menerima lulusan dengan kualitas tinggi dan sesuai harapan, dand. Guru dan karyawan puas dengan layanan sekolah, dalam bentukpembagian kerja, hubungan dan komunikasi antar guru/pimpinan, karyawan, gaji/honor yang diterima dan pelayanan.
3. Pentingnya Manajemen Mutu dalam Pendidikan Undang-Undang No. 22 Tahun 1999 tentang Otonomi Daerah membawa dampak pada pengelolaan pendidikan di daerah, dengan diberlakukannya desentralisasi pendidikan. Dengan diberlakukannya otonomi pendidikan, diharapkan akan berpengaruh positif terhadap tumbuhnya lembaga pendidikan yang berkualitas. Setiap lembaga pendidikan diharapkan mampu menggali sumber daya dan potensi daerah berbasis keunggulan local .Konsekuensi yang tidak bisa dihindarkan dari desentralisasi pendidikan tersebut, karena budaya dan potensi daerah yang sangat beragam, adalah lulusan yang bervariasi. Oleh karena itu, upaya standarisasi mutu dan jaminan bahwa penyelenggaraan pendidika nmemenuhi standar mutu harus menjadi fokus perhatian dalam upaya memelihara dan meningkatkan mutu pendidikan secara nasional. Mohammad Ali memaparkan, bahwa untuk menjamin terselenggaranya pendidikan sesuai dengan standar mutu, diperlukan penilaian secara terus menerus dan berkesinambungan terhadap kelayakandan kinerja yang dilakukan dalam rangka melakukan pebaikan danpeningkatan mutu sekolah.
Penilaian terhadap kelayakan dan kinerjasecara berkesinambungan tesebut tidak dapat dilepaskan kaitannya dengan manajemen, khususnya manajemen mutu sekolah, yang mempunyai tujuanutama mencegah dan mengurangi resiko terjadinya kesalahan dalamproses produksi, dengan cara mengusahakan agar setiap langkah yang dilaksankan selama proses produksi dapat berjalan sebaik-baiknya sesuaistandar. Dari paparan di atas, dapat ditarik pemahaman bahwa untuk menjamin pelaksanaan standarisasi mutu dan kualitas pendidikan, manajemen mutu mempunyai peranan penting. Sebab, kegiatan dalam manajemen mutu bukan sekedar berupaya agar produk yang dihasilkan memenuhi standar mutu, tetapi lebih difokuskan pada bagaimana prosesproduksi bisa terlaksana dengan baik, sesuai dengan prosedur yangseharusnya dilakukan agar dapat menghasilkan produk yang memuaskan pelanggan, khususnya masyarakat pengguna jasa pendidikan.[4]
b. Ciri-ciri sekolah bermutu
1.  Sekolah berfokus pada upaya untuk mencegah masalah yang muncul , dengan komitmen untuk bekerja secara benar dari awal.
2. Sekolah memiliki investasi pada sumber daya manusianya, sehingga terhindar dari berbagai “kerusakan psikologis” yang sangat sulit memperbaikinya..
3. Sekolah memiliki strategi untuk mencapai kualitas baik di tingkat pimpinan, tenaga akademik, maupun tenaga administratif.
4. sekolah mengelola atau memperlakukan keluhan sebagai umpan balik untuk mencapaidan memposisikan kesalahan sebagai instrumen untuk berbuat benar pada masa berikutnya
5. Sekolah memiliki kebijakan dalam perencanaan untuk mencapai kualitas, baik untuk jangka pendek, jangka menengah maupun jangka panjang.
6. Sekolah mengupayakan proses perbaikan dengan melibatkan semua orang sesuai dengan tugas pokok, fungsi dan tanggung jawabnya.
7. Sekolah mendorong orang dipandang memiliki kreativitas, mampu menciptakan kualitas dan merangsang yang lainnya agar dapat bekerja secara berkualitas.
8. Sekolah memperjelas peran dan tanggung jawab setiap orang, termasuk kejelasan arah kerja secara vertikal dan horozontal.
9. Sekolah memiliki strategi dan kriteria evaluasi yang jelas.
10. Sekolah memnadang atau menempatkan kualitas yang telah dicapai sebagai jalan untuk untuk memperbaiki kualitas layanan lebih lanjut.
11. Sekolah memandang kualitas sebagai bagian integral dari budaya kerja.
12. Sekolah menempatkan peningkatan kualitas secara terus menerus sebagai suatu keharusan[5]
1.3. PENJAMINAN MUTU DALAM  SEKOLAH
Salah satu upaya untuk menyelenggarakan pendidikan yang bermutu sebagaimana diamanatkan oleh Undang-Undang Nomor 20 Tahun 2003 tentang Sistem Pendidikan Nasional pada Pasal 35 Ayat (1), yakni “Standar nasional pendidikan terdiri atas standar isi, proses, kompetensi lulusan, tenaga kependidikan, sarana dan prasarana, pengelolaan, pembiayaan, dan penilaian pendidikan yang harus ditingkatkan secara berencana dan berkala”. Oleh karena itu pengembangan Sekolah dimaksudkan untuk terwujudnya kedelapan standar tersebut. Agar penyelenggaraan Sekolah sesuai dengan yang diharapkan, perlu disusun  Penjaminan Mutu Sekolah. Adapun indikator penjaminan mutu pada SMP Negeri 6 Pekalongan sebagai berikut
1. Akreditasi
Mutu Sekolah dijamin dengan keberhasilan memperoleh akreditasi yang sangat baik. Akreditasi menentukan kelayakan program pendidikan dan/atau satuan pendidikan itu sendiri. Keberhasilan tersebut ditandai dengan pencapaian indikator kinerja kunci, yaitu perolehan sertifikat akreditasi minimal ”predikat A” dari Badan Akreditasi Nasional Sekolah/Madrasah (BAN S/M). Dengan memperoleh ”predikat A” pada setiap periode akreditasi berarti bahwa Sekolah setiap saat selalu menunjukkan keunggulan kinerja yang sangat baik dan sekaligus merupakan pengakuan terhadap kemampuan Sekolah/Madrasah untuk menjamin mutu pendidikan secara optimal.

2. Kurikulum
Mutu Sekolah dijamin dengan keberhasilan melaksanakan kurikulum secara tuntas. Kurikulum merupakan acuan dalam penyusunan silabus dan rencana pelaksanaan pembelajaran. Keberhasilan tersebut ditandai dengan pencapaian indikator kinerja kunci sebagai berikut:
1.Memiliki dan melaksanakan Kurikulum Tingkat Satuan Pendidikan (KTSP) sesuai tuntutan standar isi
2. Prosentase kelulusan setiap tahunnya 100%
3.Rata-rata nilai ujian nasional dan ujian sekolah mencapai kategori A
4.Rata-rata KKM mencapai 75 atau lebih
5.   Prosentase ketercapaian KKM 100%
6.   Memiliki layanan bimbingan konseling yang efektif.
7.   Memiliki program pembelajaran perbaikan dan pengayaan untuk meningkatkan mutu layanan pendidikan
8.   Memenuhi Standar Kompetensi Lulusan.
9.   Memiliki sistem administrasi akademik berbasis Teknologi Informasi dan Komunikasi (TIK) di mana setiap saat siswa bisa mengakses silabus, dan bahan ajar melalui situs sekolah.
3. Proses Pembelajaran
Mutu Sekolah dijamin dengan keberhasilan melaksanakan proses pembelajaran yang efektif dan efisien. Proses pembelajaran disesuaikan dengan bakat, minat, dan perkembangan fisik serta psikologis peserta didik. Keberhasilan tersebut ditandai dengan pencapaian indikator kinerja kunci, yaitu :
1.   Kegiatan pembelajaran memenuhi Standar Proses.
2.   Proses pembelajaran pada semua mata pelajaran menekankan pada pengembangan akhlak mulia, budi pekerti luhur, kepribadian unggul, kepemimpinan, jiwa entrepreneur, jiwa patriot, dan jiwa inovator;
3.   Menerapkan pembelajaran berbasis TIK pada semua mata pelajaran;
4.   Pembelajaran mata pelajaran kelompok sains, dan matematika menggunakan bahasa Inggris, sementara pembelajaran mata pelajaran lainnya menggunakan bahasa Indonesi.
4. Penilaian
Mutu Sekolah dijamin dengan keberhasilan menunjukkan kinerja pendidikan yang optimal melalui penilaian. Penilaian dilakukan untuk mengendalikan mutu pendidikan sebagai bentuk akuntabilitas kinerja pendidikan kepada pihak-pihak yang berkepentingan. Penilaian terhadap peserta didik dilakukan oleh para guru untuk memantau proses, kemajuan, dan perbaikan hasil belajar peserta didik secara berkesinambungan. Keberhasilan tersebut ditandai dengan pencapaian indikator kinerja kunci, yaitu :
1. Kegiatan penilaian memenuhi Standar Penilaian
2. Memiliki sistem administrasi akademik berbasis Teknologi Informasi dan Komunikasi (TIK) di mana setiap saat siswa bisa mengakses transkripnya masing-masing;
3. Mengembangkan penilaian kinerja pendidikan dengan model penilaian sekolah unggul.
5. Pendidik
Mutu Sekolah dijamin dengan guru yang menunjukkan kinerja yang optimal sesuai dengan tugas profesionalnya. Pendidik memiliki peranan yang strategis karena mempunyai tugas profesional untuk merencanakan dan melaksanakan proses pembelajaran, menilai hasil pembelajaran, serta melakukan pembimbingan dan pelatihan. Keberhasilan tersebut ditandai dengan pencapaian indikator kinerja kunci, yaitu :
1.   Memenuhi Standar Pendidik.
2.   Semua guru mampu memfasilitasi pembelajaran berbasis TIK;
3.   Guru mata pelajaran kelompok sains dan matematika mampu mengampu pembelajaran berbahasa Inggris;
6.Tenaga Kependidikan
Mutu setiap Sekolah/Madrasah dijamin dengan kepala sekolah/madrasah yang menunjukkan kinerja yang optimal sesuai dengan tugas profesionalnya, yaitu sebagai pemimpin manajerial-administratif dan pemimpin manajerial-edukatif. Keberhasilan tersebut ditandai dengan pencapaian indikator kinerja kunci yaitu:
1.   Memenuhi Standar Kepala Sekolah/Madrasah.
2.   Kepala Sekolah/Madrasah mampu berbahasa Inggris secara aktif; dan
3.   Kepala Sekolah/Madrasah bervisi mengembangkan sekolah ungguk, mampu membangun jejaring, memiliki kompetensi manajerial, serta jiwa kepemimpinan dan entrepreneural yang kuat.
7. Sarana dan Prasarana
Mutu Sekolah dijamin dengan kewajiban sekolah memiliki dan memelihara sarana dan prasarana pendidikan yang diperlukan untuk menunjang proses pembelajaran yang teratur dan berkesinambungan. Keberhasilan tersebut ditandai dengan pencapaian indikator kinerja kunci, yaitu:
1.   Memenuhi Standar Sarana dan Prasarana.
2.   Setiap ruang kelas dilengkapi dengan sarana pembelajaran berbasis TIK;
3.   Perpustakaan dilengkapi dengan sarana digital yang memberikan akses ke sumber pembelajaran berbasis TIK; dan
4.   Dilengkapi dengan ruang multi media, ruang unjuk seni budaya, fasilitas olah raga, klinik, dan lain sebagainya.
8. Pengelolaan
Mutu Sekolah dijamin dengan pengelolaan yang menerapkan manajemen berbasis sekolah/madrasah. Keberhasilan tersebut ditandai dengan pencapaian indikator kinerja kunci, yaitu:
1.   Memenuhi Standar Pengelolaan.
2.   Bebas narkoba dan rokok;
3.   Bebas kekerasan (bullying);
4.   Mewujudkan sekolah sehat dan hijau (Healthy and Green School)
5.   Membudayakan nilai-nilai luhur yang berlandaskan agama, budaya, dan kehidupan berbangsa;
6.   Menerapkan prinsip kesetaraan gender dalam segala aspek pengelolaan sekolah; dan
7.   Memiliki sistem administrasi terpadu berbasis Teknologi Informasi dan Komunikasi (TIK) yang menjamin akurasi data.
8.   Meraih medali tingkat propinsi pada berbagai kompetisi sains, matematika, teknologi, seni, dan olah raga.
9. Pembiayaan
Mutu Sekolah dijamin dengan pembiayaan yang sekurang-kurangnya terdiri atas biaya investasi, biaya operasional, dan biaya personal. Keberhasilan tersebut ditandai dengan pencapaian indikator kinerja kunci, yaitu:
1.   Memenuhi Standar Pembiayaan.
2.   Memiliki sistem administrasi keuangan berbasis Teknologi Informasi dan Komunikasi (TIK) yang menjamin tranparansi dan akuntabilitas.
1.4 MANAJEMEN MUTU SEKOLAH UNGGUL
Sekolah unggul adalah  sekolah yang dikembangkan untuk mencapai keunggulan (out put) pendidikannya, istilah unggul disebut juga favorit, teladan,model dan plus. Sekolah unggulan yang sebenarnya, adalah sekolah yang dibangun secara bersama-sama oleh seluruh warga sekolah, bukan hanya oleh pemegang otoritas pendidikan. Keunggulan akan dapat di capai apabila seluruh sumber daya sekolah dimanfaatkan secara optimal "Berarti tenaga pendidik, tenaga administrasi, pengembang kurikulum, kepala sekolah, dan penjaga sekolah pun harus dilibatkan secara aktif, karena sumber daya tersebut akan menciptakan iklim sekolah yang mampu membentuk keunggulan sekolah." Kunci utama sekolah unggul adalah keunggulan dalam pelayanan kepada siswa dengan memberikan kesempatan untuk mengembangkan potensi siswa seoptimal mungkin, serta seimbang (tawazun).



a. Kurikulum Sekolah Unggulan
  • Kurikulum harus dirancang untuk membantu siswa mencapai perkembangan yang menyeluruh dan seimbang secara lebih luas dan mendalam (luas, terpadu, dan internasional).
  • Berdiferensiasi, melayani berbagai kemampuan dan bakat sesuai tingkat kemampuan dan kecerdasan anak/ Multiple Intelligences.
  • Penekanan pada pertumbuhan intellectual (learning to know), berfokus pada pengajaran dan pengembangan potensi kecerdasan intelektual/ akademis, pengetahuan anak didik.
  • Pertumbuhan emotional, spiritual (learning to be) berfokus pada penanaman nilai dan pengembangan moral spiritual anak didik.
  • Pertumbuhan Physical/ Social (learning to do) berfokus pada pelatihan dan pengembangan fisikdan keterampilan anak didik.
  • life skills dan pertumbuhan komunikasi (learning to live together) berfokus pada pengembangan keterampilan/ kecakapan hidup dan cara berkomunikasi dengan orang lain.
b. Materi dan Proses Pembelajaran Sekolah Unggulan
Salah satu cara untuk mengembangankan scientific and religious attitude adalah dengan memberlakkan anak seperti 'ilmuwan muda' sewaktu anak mengikuti pembelajaran IPA. Oleh karena itu, sistem pembelajaran yang perlu dikembangkan dengan baik yaitu active and cooperative learning, diantaranya:
  • problem-based learning, yaitu strategi pembelajaran yang berpusat pada siswa, yang bersama-sama membentuk kelompok kecil memecahkan masalah dan merefleksikan pada pengalamannya, sedangkan guru berperan sebagai fasilitator.
  • inquiry-based learning, pembelajaran yang aktif dan berpusat pada siswa, yang di fokuskan pada kegiatan bertanya atau berpikir kritis dan pemecahan masalah.
  • project-based learning, pembelajaran yang di fokuskan pada pengembangan pembuatan produk atau pembuatan karya.
  • ICT-based learning, proses pembelajaran didukung oleh fasilitas internet, LCD dan Hot spot program.
  • creative Teaching Techniques, langkah-langkah pembelajaran dengan membiasakan anak didik melakukan; observation/experiment, recording, analysis, presentation & discussion.
  • contextual teaching and learning, membantu mengkaitkan konten mata pelajaran dengan situasi dunia.
c. Guru yang Profesional dalam Sekolah Unggulan
Guru dalam melaksanakan tugasnya sebagai pengajar, pendidik dan pelatih haruslah memiliki potensi-potensi sebagai berikut:
  • Academic Potential, meliputi advanced and innovative knowledge, integrated and comprehensive knowledge, popular information, teaching-learning material development, selecting use of effective resource.
  • Professional Potential, yaitu appopriate approaches, effective teaching methods application, creative, innovative teaching techniques, teaching administration, designing instruction, assessing student learning, local & international curriculum contents, teaching-learning information technology.
  • Managerial Potential, yaitu student management, managing classroom procedures, classroom action research, instructional management.
  • Social Potential, yaitu effective communications, facilitating students in cognitively simulating activities, school culture environment of respect and support.
  • Ethical Potential, yaitu moral development (akhlaqul karimah), marhamah, sabar dan tabah, moeslem personality.[6]
d. Konsep sekolah unggul
Sekolah unggulan yang sebenarnya dibangun secara bersama-sama oleh seluruh warga sekolah, bukan hanya oleh pemegang otoritas pendidikan. Dalam konsep sekolah unggulan yang saat ini diterapkan, untuk menciptakan prestasi siswa yang tinggi maka harus dirancang kurikulum yang baik yang diajarkan oleh guru-guru yang berkualitas tinggi. Padahal sekolah unggulan yang sebenarnya, keunggulan akan dapat dicapai apabila seluruh sumber daya sekolah dimanfaatkan secara optimal. Berati tenaga administrasi, pengembang kurikulum di sekolah, kepala sekolah, dan penjaga sekolah pun harus dilibatkan secara aktif. Karena semua sumber daya tersebut akan menciptakan iklim sekolah yang mempu membentuk keunggulan sekolah.        
Keunggulan sekolah terletak pada bagaimana cara sekolah merancang-bangun sekolah sebagai organisasi. Maksudnya adalah bagaimana struktur organisasi pada sekolah itu disusun, bagaimana warga sekolah berpartisipasi, bagaimana setiap orang memiliki peran dan tanggung jawab yang sesuai dan bagaimana terjadinya pelimpahan dan pendelegasian wewenang yang disertai tangung jawab. Semua itu bermuara kepada kunci utama sekolah unggul adalah keunggulan dalam pelayanan kepada siswa dengan memberikan kesempatan untuk mengembangkan potensinya. Menurut Profesor Suyanto, program kelas unggulan di Indonesia secara pedagogis menyesatkan, bahkan ada yang telah memasuki wilayah malpraktik dan akan merugikan pendidikan kita dalam jangka panjang. Kelas-kelas unggulan diciptakan dengan cara mengelompokkan siswa menurut kemampuan akademisnya tanpa didasari filosofi yang benar. Pengelompokan siswa ke dalam kelas-kelas menurut kemampuan akademis tidak sesuai dengan hakikat kehidupan di masyarakat. Kehidupan di masyarakat tak ada yang memiliki karakteristik homogeny.
Bila boleh mengkritisi, pelaksanaan sekolah unggulan di Indonesia memiliki banyak kelemahan selain yang dikemukakan Rektor Universitas Negeri Yogyakarta di atas.
Pertama, sekolah unggulan di sini membutuhkan legitimasi dari pemerintah bukan atas inisiatif masyarakat atau pengakuan masyarakat. Sehingga penetapan sekolah unggulan cenderung bermuatan politis dari pada muatan edukatifnya. Apabila sekolah unggulan didasari atas pengakuan masyarakat maka pemerintah tidak perlu mengucurkan dana lebih kepada sekolah unggulan, karena masyarakat akan menanggung semua biaya atas keunggulan sekolah itu.
Kedua, sekolah unggulan hanya melayani golongan kaya, sementara itu golongan miskin tidak mungkin mampu mengikuti sekolah unggulan walaupun secara akademis memenuhi syarat. Untuk mengikuti kelas unggulan, selain harus memiliki kemampuan akademis tinggi juga harus menyediakan uang jutaan rupiah. Artinya penyelenggaraan sekolah unggulan bertentangan dengan prinsip equity yaitu terbukanya akses dan kesempatan yang sama bagi setiap orang untuk menikmati pendidikan yang baik. Keadilan dalam penyelenggaraan pendidikan ini amat penting agar kelak melahirkan manusia-manusia unggul yang memiliki hati nurani yang berkeadilan.
Ketiga, profil sekolah unggulan kita hanya dilihat dari karakteristik prestasi yang tinggi berupa NEM, input siswa yang memiliki NEM tinggi, ketenagaan berkualitas, sarana prasarana yang lengkap, dana sekolah yang besar, kegiatan belajar mengajar dan pengelolaan sekolah yang kesemuanya sudah unggul. Wajar saja bila bahan masukannya bagus, diproses di tempat yang baik dan dengan cara yang baik pula maka keluarannya otomatis bagus. Yang seharusnya disebut unggul adalah apabila masukan biasa-biasa saja atau kurang baik tetapi diproses ditempat yang baik dengan cara yang baik pula sehingga keluarannya bagus.
Oleh karena itu penyelenggaraan sekolah unggulan harus segera direstrukturisasi agar benar-benar bisa melahirkan manusia unggul yang bermanfaat bagi negeri ini. Bibit-bibit manusia unggul di Indonesia cukup besar karena prefalensi anak berbakat sekitar 2 %, artinya setiap 1.000 orang terdapat 20 anak berbakat[7]










                                                                   



                                                                      BAB III
Pentup


                                                       Kesimpulan
Sasaran yang dituju dari manajemen mutu adalah meningkatkan mutu pekerjaan, memperbaiki prodiktivitas dan efisiensi melalui perbaikankinerja dan peningkatan mutu kerja agar menghasilkan produk yang memuaskan atau memenuhi kebutuhan pelanggan. Jadi, manajemen mutu bukanlah seperangkat peraturan dan ketentuan yang kaku yang harus diikuti, melainkan seperangkat prosedur proses untuk memperbaiki kinerjadan meningkatkan mutu kerja.
Manajemen mutu dimaksudkan untuk mencegah dan mengurangi resiko terjadinya kesalahan dalam proses produksi, agar setiap langkah yang dilaksankan selama proses produksi dapat berjalan dengan baik, Pendidikan yang bermutu tidak dilihat hanya dari kualitas lulusannya, tetapi juga mencakup bagaimana lembaga pendidikan mampu memenuhi dan melayani kebutuhan pelanggan sesaui dengan standar mutu yangberlaku. Dan untuk mewujudkan sekolah yang bermutu dan unggul adalah sekolah yang dibangun secara bersama-sama oleh seluruh warga sekolah, bukan hanya oleh pemegang otoritas pendidikan. Keunggulan akan dapat di capai apabila seluruh sumber daya sekolah dimanfaatkan secara optimal "Berarti tenaga pendidik, tenaga administrasi, pengembang kurikulum, kepala sekolah, dan penjaga sekolah pun harus dilibatkan secara aktif, karena sumber daya tersebut akan menciptakan iklim sekolah yang mampu membentuk keunggulan sekolah















                                                  DAFTAR PUSTAKA
Syafaruddin. 2005. Manajemen Lembaga Pendidikan Islam, Jakarta: Ciputat Press
Komariah Aan dan Cepi Tiratna. 2005. Visionary Leadership, Menuju Sekolah Efektif.Jakarta: Bumi Aksara.
Sudarwan Danim. 2006. Visi Baru Manajemen Sekolah: Dari Unit Birokrasi ke Lembaga Akademik. Jakarta: Bumi
Suharto nuhraha. 2009. Manajemen pendidikan. Bandung. Alfabet
Arcaro Serome. S . 1995. Pendidikan Berbasis mutu, Yogyakarta; pustaka pelajar
http://re-searchengines.com/nurkolis3.html


[1]Nugraha Suharto, manajemen pendidikan, Alfabeta, Bandung, 2009, hal 293
[2] Jerome S. Arcaro, Pendidikan berbasis mutu, pustaka pelajar, Jakarta, 1995, hal 77
[3] Nugraha Suharto, manajemen pendidikan, Alfabeta, Bandung, 2009, hal 302
[4] Dr. E. Mulyasa, Manajemen berbasis sekolah, remaja ros dataria, Bandung, 2006, hal 131
[5] Sudarman Danim, visi baru manajemen sekolah, unit birokrasi ke lembaga, Jakarta, 2004, hal 124
[6]Drs. H. Syaichul Basyar M., Dalam Raker Tengah Tahun Pelajaran 2009/2010,Bandung,hal 76
[7] http://re-searchengines.com/nurkolis3.html

No comments:

Post a Comment