Monday, April 6, 2015

SEKOLAH KONDUSIF



MOH. KAMILUS ZAMAN SPD.I
BAB I

PENDAHULUAN
1.1   LATAR BELAKANG
Segala upaya yang dilakukan guru untuk meningkatkan kualitas pendidikan sudah cukup banyak hasilnya, hal ini merupakan salah satu bentuk kesadaran yang dimiliki oleh guru dalam menjawab permasalahan yang selama ini menjadi pokok pembicaraan. Cara meningkatkan kualitas tersebut bsalah satunya juga dengan menjaga dan menata manajemen tata lingkungan sekolah
Lingkungan sekolah yang aman dan tertib adalah lingkungan yang dapat memberikan susana sekolah yang efektivitasnya tinggi. Oleh sebab itu, peranan kepemimpinan kepala sekolah yang kuat sangat diperlukan. Sekolah yang mana adalah sekolah yang mampu memberikan rasa aman bagi warga sekolah. Untuk menciptakan rasa aman tersebut, maka konstruksinya harus kuat, sesuai standar yang berlaku; bentuknya indah, sirkulasi udara dan cahaya aman terhadap kesehatan, ukuran perabot dan perletakannya aman terhadap kesehatan. Sekolah memiliki alat pemadam kebakaran, penjaga sekolah, pagar keliling, jauh dari tempat maksiat dan tempat-tempat yang dapat menimbulkan rasa tidak aman. Sekolah yang tertib adalah sekolah yang menerapkan peraturan tanpa pandang bulu, mampu menciptakan disiplin warga sekolah dengan baik.
Cara dan kebiasaan anak belajar dalam lingkungannya, sebaiknya diperhatikan. Begitu berbagai hipotesis dan rasa ingin tahu peserta didik terus difasilitasi secara baik dan memuaskan. Perilaku mengamati, berinteraksi secara sosial, memikirkan segala sesuatu yang ditemukannya, kebiasaan bertanya dan keberanian menyampaikan berbagai jawaban, kemampuan mereka  dalam menyesuaikan pemahamannya dengan informasi baru perlu terus dirangsang, difasilitasi, dan dibina secara optimal, tuntutan tersebut menjadi sangat penting.







1.2.  Rumusan masalah
1.      Bagaimana cara menciptakan suasana sekolah yang kondusif  ?
2.      Apa pengertian dari pembelajaran yang kondusif  ?
3.      Faktor pendukung pembelajaran yang kondusif  ?
4.      Seberapa penting penyediaan lingkungan sekolah yang kondusif  ?


1.2 Tujuan masalah
1.      Agar mahasiswa mengetahui cara menciptakan suasana sekolah yang kondusif
2.      Mengetahui pengertian pembelajaran sekolah yang kondusif
3.      Mengetahui faktor-faktor pembelajaran yang jondusif
4.      Agar mahasiswa mengetahui pentingnya penyediaan lingkungan sekolah yang kondusif













BAB II
PEMBAHASAN

2.1.  Menciptakan suasana sekolah yang kondusif
Keberhasilan menciptakan suasana sekolah yang kondusif untuk pembudayaan budi pekerti, hal-hal yang perlu ditumbuhkembangkan pembinaannya antara lain sebagai
berikut : [1]
1.      Keimanan
Keimanan sangat mempengaruhi perilaku seseorang. Keimanan ini perlu dibina dan ditumbuhkembangkan sesuai keyakinan masing-masing. Dengan keimanan diharapkan setiap peserta didik dpat membina dirinya menjadi manusia yang berbudi pekerti luhur.

2.       Ketaqwaan
                                     Ketaqwaan sebaiknya ditanamkan sejak dini kepada siswa masuk sekolah melalui berbagai kegiatan, karena pada dasarnya kualitas manusia ditentukan oleh ketaqwaannya. Ketaqwaan merupakan cerminan dari nilai keimanan berupa perilaku yang terwujud dalam menjalankan perintah danlarangan agama.
3.       Kejujuran 
                                     Dalam berbagai hal sikap dan tindakan jujur  bertanggungjawab harus diwujudkan dan ditumbuhkembangkan sehingga menjadi bagian dalam kehidupan sehari-hari. Baik yang berhubungan dengan Tuhan maupun diri sendiri  dan orang lain. Kejujuran dan perilaku tegas yang harus dilaksanakan.
4.  Keteladanan
                                     Keteladanan adalah memberikan contoh melalui perbuatan atau tindakan nyata, karena keteladanan jauh lebih penting dari pada memberikan pelajaran secara verbal. Kepala sekolah dapat memberi keteladanan kepada guru maupun pegawai dan selanjutnya guru kepada siswa, demikian pula kakak kelas kepada adik kelas.
5.  Suasana Demokratis
                                    Suasana sekolah haruslah suasana yang menunjukkan adanya kebebasan  mengeluarkan pendapat dan menghargai perbedaan sesuai dengan sopan santun berdemokrasi. Adanya suasana demokrasi dilingkungan sekolah akan memberi pengaruh pada pengembangan budi pekerti saling menghargai dan saling memaafkan.
6.  Kepedulian
Kepedulian terwujud dengan sikap empati dan saling menasehati, saling  memberitahukan, saling mengingatkan, saling menyayangi dan saling melindungi sehingga setiap masalah dapat diatasi cepat dan mudah.
7.  Keterbukaan
                        Sistem manajemen yang terbuka akan menghilangkan sikap saling curiga berburuk sangka dan menghilangkan fitnah. Hal ini hendaklah dipraktikkan oleh kepala sekolah,  pegawai tata usaha, guru dan para siswa.
8.  Kebersamaan
                        Kebersamaan ini diarahkan untuk mempererat hubungan silaturahmi antar warga sekolah sehingga terwujud suatu suasana persaudaraan dalam tata hubungan sekolah yang harmonis.
9.  Keamanan 
                        Keamanan merupakan modal pokok untuk  menciptakan suasana sekolah yang harmonis dan menyenangkan. Warga sekolah  harus proaktif mengantisipasi dan mengatasi segala bentuk gangguan dari luar dan dalam lingkungan sekolah.  Keamanan menjadi tanggungjawab bersama seluruh warga sekolah.
10. Ketertiban 
Dalam segala hal disekolah ketertiban adalah suatu kondisi yang mencerminkan  keharmonisan dan keteraturan dalam pergaulan antar warga sekolah. Ketertiban tidaklah tercipta dengan sendirinya melainkan harus diupayakan oleh setiap warga sekolah.

11. Kebersihan
Suasana bersih, rapi dan menyegarkan secara berkelanjutan akan memberi kesan menyenangkan bagi warga sekolah. Kebersihan meliputi fisik dan psikis, jasmani dan batin.
12. Kesehatan
Kesehatan menyangkut aspek fisik dan psikis, dan ini harus diupayakan dan dibangun oleh seluruh warga sekolah.
13. Keindahan
Lingkungan sekolah, ruang kantor, ruang  guru, ruang kelas, perpustakaan, halaman, kebon dan taman sekolah yang rapi dan indah terkesan menyenangkan dan seni. Keindahan sekolah harus diciptkan dan dijaga terus menerus oleh warga sekolah agar tidak sirna sehingga iklim sekolah selalu menjadi segar, tetap aktif dan menyenagkan .
14. Sopan santun
                         Sopan santun adalah sikap dan perilaku sesuai dengan adapt istiadat atau norma-norma yang berlaku dimasyarakat  dalam hubungannya dengan diri sendiri, keluarga, sekolah dan masyarakat. Lingkungan sekolah merupakan bentuk masyarakat tersendiri, berbeda dengan masyarakat yang berada diluar lingkungan sekolah.  Masyarakat lingkungan sekolah terdiri dari kepala sekolah, guru, pegawai tata usaha dan peserta didik dengan interaksi social yang memiliki tujuan yang sangat jelas yakni belajar. 
Oleh karena itu masyarakat sekolah dapat dikatakan sebagai masyarakat belajar dengan penjenjangan tertentu, yang tidak ditemukan dalam masyarakat biasa. Kegiatan di sekolah berlangsung dalam satu pola yang sama, kegiatan berulang-ulang dan diatur dengan jadwal yang ketat Suasana kehidupan di sekolah perlu dibangun bersama-sama oleh warga sekolah sesuai fungsi dan kedudukan masing-masing[2]. Kepala sekolah, pegawai tata usaha, guru dan peserta didik dapat memberikan sumbangan pembinaan kehidupan berbudi luhur melalui sikap dan perilakunya di sekolah.

 2.2.   Pengertian pembelajaran yang kondusif
proses pembelajaran merupakan aktivitas sadar yang dilakukan untuk dapat menguasai satu atau beberapa kompetensi sebagai milik diri. Proses ini berlangsung dalam situasi pembelajaran yang sudah tersisitem sedemikian rupa sehingga keberhasilan di dalam proses tersebut dapat diukur secara langsung dalam kegiatan tersebut.
Pembelajaran kondusif mengisyaratkan pada kita suatu kondisi pembelajaran yang dapat mengakomodir secara maksimal segala kepentingan yang berhubungan dengan proses pembelajaran. Dengan kondisi pembelajaran yang kondusif, siswa dan guru dapat melaksanakan tugas sebaik-baiknya. Di samping itu, akan tercipta interaksi yang teratur dan pada akhirnya keberhasilan belajar dapat maksimal.

2.3.   Faktor pendukung pembelajaran yang kondusif
salah satu aspek penting keberhasilan dalam proses pembelajaran yang dilaksanakan oleh guru adalah kondisi penbelajarannya. Kondisi pembelajaran yang efektif adalah kondisi yang benar-benar kondusif, kondisi yang benar-benar sesuai dan mendukung kelancaran serta kelangsungan proses pembelajaran,  untuk itu kita perlu memahami beberapa hal yang mempunyai peran penting dalam penciptaan kondisi pembelajaran yang kondusif[3]
a.         Lingkungan belajar
Lingkungan belajar adalah segala sesuatu yang berhubungan dengan tempat proses pembelajaran dilaksanakan. Lingkungan ini mencakup tiga hal utama, yaitu linfkungan fisik, lingkungan sosial, dan lingkungan budaya. Ketiga aspek lingkungan tersebut dalam proses pembelajaran haruslah saling mendukung, sehingga siswa merasa kerasan di sekolah dan mau mengikutiproses pembelajaran secara sadar dan bukan karena tekanan ataupun keterpaksaan. Ketiga aspek lingkungan sebenarnya bukanlah sesuatu yang menuntut nilai yang mahal. Selama keberadaannya sesuai dengan tingkat kebutuhan siswa, itu sudah cukup[4].

1.      Lingkungan fisik mampu memberi peluang gerak dan segala aspek yang berhubungan dengan upaya penyegaran pikiran bagi siswa setelah mengikuti proses pembelajaran, yang sangat membosankan. Lingkungan fisik ini meliputi sarana prasarana pembelajaran yang dimiliki oleh sekolah. Sarana-prasarana yang cukup dan memadai untuk proses pembelajaran secara tuntas dipastikan dapat membawa siswa pada kondisi pembelajaran yang kondusif. Untuk proses pembelajaran teori misalnya, siswa tidak merasakan sebagai ruangan yang menyebalkan, bukan ruangan yang membosankan atau bukan ruanan yang membuatnya tidak dapat beraktivitas bebas, melainkan sebuah ruangan yang memungkinkan dia bergerak, bernafas, dan beraktivitas lainnya secara proporsional. Kebutuhan untuk ruang belajar sudah tercukupi sedemikian rupa sehingga mendukung proses pembelajaran. Lampu, ventilasi, bangku dan tempat duduk yang sesuai untuk mereka, sungguh merupakan kondisi yang mendukung.

2.      Lingkungan sosial berhubungan dengan pola interaksi antarpersonil yang ada di lingkungan sekolah secara umum. Lingkungan sosial yang baik memungkinkan bagi para siswanya untuk berinteraksi secara baik antarwarganya, siswa dengan siswa, guru dengan siswa, guru dengan gurunya, atau guru dengan karyawan, serta secara umum interaksi antar personil. Kondisi pembelajaran yang kondusif hanya dapat dicapai jika interaksi sosial ini berlangsung secara baik. Interaksi sosial yang baik memungkinkan masing-masing personil menciptakan pola hubungan tanpa adanya sesuatu yang menganggu pergaulannya. Lingkungan sosial yang kondusif dalam hal ini, misalnya, adanya keakraban yang proporsional antara guru dan siswa dalam proses pembelajaran.


3.      Lingkungan budaya memberikan pada kita suatu kondisi pola kehidupan yang sesuai dengan pola kehidupan para warganya, yakni siswa. Lingkungan budaya ini perlu diperhatikan sebab siswa adalah pribadi yang masih labil dan masih membutuhkan proses adaptasi untuk setiap lingkungan di mana dia berada. adalah sangat menganggu jika seseorang siswa merasakan bahwa dia berada pada pola hidup yang berbeda jauh dengan pola kehidupannya selama ini. Mereka tidak nyaman dan pada akhirnya dapat menurunkan semangat belajarnya. Lingkungan budaya dalam hal ini dapat saja diartikan sebagai pola kehidupan yang dijalani masing-masing personil dalam keseharian. Adanya perbedaan pola kehidupan sering kali menjadi penghalang terjadinya kondisi kondusif dari proses pembelajaran. Budaya hidup masyarakat atau lingkungan hidup masing-masing personil kadangkala terdapat kontradiksi sehingga menggangu proses pembelajaran yang kondusif. Untuk menciptakan kondisi pembelajaran yang kondusif, maka yang terutama harus dilakukan adalah menyamakan persepsi dan pola pikir tentang pola pergaulan. Pola pergaulan yang homogen, walaupun terdiri atas budaya yang heterogen, jelas dapat menciptakan kondisi yang kondusif.

b.    Sarana-sarana yang memadai

Untuk kelancaran suatu proses, sudah barang tentu aspek sarana dan prasarana merupakan hal yang sangat vital dan harus ada. Demikian juga dalam upaya untuk menciptakan kondisi proses pembelajaran yang kondusif. Agar proses pembelajaran dapat terlaksana sebagaimana tujuan yang telah ditetapkan, maka perlu didukung oleh sarana prasarana yang sesuai dengan kebutuhan. Tanpa hal tersebut, proses yang dilakukan pasti akan mengalami hambatan yang besar.

Sarana dan prasarana yang kita maksudkan dalam hal ini bukan hanya yang berhubungan secara langsung dengan proses pembelajaran, melainkan juga sarana pendukung yang diperlukan siswa untuk hal-hal lainnya, misalnya untuk refreshing setelah berkutat mengikuti pelajaran di kelas. Karena, setelah dua jam menjalani proses pembelajaran, mereka akan mengalami kekalahan mental sehingga membutuhkan sarana untuk refreshing. Demikian juga dengan rasa lapar yang sudah menyerang perut, mereka membutuhkan sarana untuk sekedar ngemil dan jajan. Atau mereka, juga membutuhkan sarana untuk meredakan pikiran dengan bacaan-bacaan ringan yang segar, butuh ruangan untuk menurunkan tekanan mental dengan ritual keagamaan dan sebagainya.

Jika keperluan-keperluan tersebut dapat dipenuhi, maka pada saat harus belajar lagi mereka pasti sudah dalam kondisi yang segar dan siap untuk menghadapi proses pembelajaran yang selanjutnya.

c.       Kurikulum yang cocok
Kurikulum merupakan batasan yang harus diberikan kepada siswa pada proses pembelajaran yang dilakukan guru dikelasnya. Kurikulum inilah yang memberikan batasan-batasan materi pembelajaranuntuk setiap tingkatan kelas siswa.
Selama ini, kita telah berpengalaman dengan sekian kali berganti kurikulum untuk upaya peningkatan kualitas pendidikan di negeri ini.penentuan penerapan kurikulum di sekolah bahkan seakan menjadi sebuah kebijakan dari setiap pemimpin di negeri ini.
Kondisi proses pembelajaran dapat kondusif jika kurikulum yang diterapkan merupakan kurikulum yang sesuai dengan tujuan pembelajaran. Artinya, isi dari kurikulum yang diterapkan tersebut dapat mengakomodasi segala yang diharapkan oleh siswa dan guru. Sisiwa dan guru dapat mengikuti langkah-langkah penerapannya tanpa perasaan tertekan atau terpaksa.
d.      Visi dan misi yang jelas
Visi dan misi proses pembelajaran adalah arah yang hendak dicapai dalam proses bersangkutan. Sebagai sebuah proses yang membawa tujuan, arah merupakan hal penting agar tujuan dapat dicapai dalam proses pembelajaran yang kondusif, visi dan misi pembelajaran harus disusun sedemikian rupa sehingga seluruh unsur yang terkait dalam proses tersebut mengetahui dan memahami proses yang mereka jalani bersama.
Visi dan misi proses pembelajaran tidak lain adalah visi dan misi pendidikan secara umum, yaitu peningkatan kualitas dengan mengupayakan proses yang mampu membawa siswa pada penguasan materi, baik pengetahuan, sikap, maupun psikomotor yang dapat dipakai sebagai bekal hidupnya.
Pembelajaran yang kondusif mensyaratkan adanya visi dan misi yang jelas dan terukur serta dapat dicapai sesuai kemampuan yang ada. Hal ini berkaitan dengan kenyatan bahwa kondisi yang memungkinkan terjadinya interaksi belajar yang mampu mengkomodir segala tujuan pelakunya harus didukung oleh keelasan dan ketepatannya dengan orientasi pembelajar dan pelajar. Oleh karena itu, visi dan misi pembelajaran haruslah dimengerti dan dipahami oleh pelaku pendidikan karena kejelasan dan ketepatan yang ada
e.       Kemauan yang kuat
Menciptakan proses pembelajaran yang kondusif merupakan salah satu tujuan positif yang diangankan oleh semua guru. Alasan yang diajukan tidak lain adalah agar proses pembelajaran yang dilaksanakan dapat mencapai tujuan. Segala upaya dilakukan agar tujuan pembelajaran dapat dicapai secara maksimal, walau dalam kenyataannya hal tersebut sangat sulit.

Berkaitan dengan upaya mencapai tujuan tersebut, maka sebenarnya yang terutama harus kita tekankan adalah kemauan yang kita miliki untuk mencapai tujuan tersebut. Kemauan yang kita miliki sebenarnya merupakan sebuah tenaga yang cukup sebagai pendorong kita dalam menggapai segala keinginan kita. Tanpa kemauan, sangat mustahil bagi kita untuk mencapai sesuatu.

Dengan kemauan yang kuat inilah seseorang selalu berusaha untuk dapat mewujudkan segala keinginannya. Dengan kemauan yang kuat inilah seorang guru akan terdorong untuk menciptakan kondisi pembelajaran yang mengacu pada kepentingan siswa dalam penguasaan materi pembelajaran. Seorang guru harus memupuk kemauan yang kuat agar kondisi yang kondusif dari proses pembelajaran dapat terciptakan.

Kondisi proses pembelajaran yang kondusif dimungkinkan jika guru benar-benar mempunyai yang kuat dalam menciptakan kondisi tersebut. Jika guru tidak menasarkan pada kemauan yang kuat, kondisi yang kondusif dari proses pembelajaran hanyalah sebuah keinginan belaka.

2.4.   Pentingnya penyediaan lingkungan yang kondusif

Cara dan kebiasaan anak belajar dalam lingkungannya, sebaiknya diperhatikan. Begitu berbagai hipotesis dan rasa ingin tahu peserta didik terus difasilitasi secara baik dan memuaskan[5]. Perilaku mengamati, berinteraksi secara sosial, memikirkan segala sesuatu yang ditemukannya, kebiasaan bertanya dan keberanian menyampaikan berbagai jawaban, kemampuan mereka  dalam menyesuaikan pemahamannya dengan informasi baru perlu terus dirangsang, difasilitasi, dan dibina secara optimal, tuntutan tersebut menjadi sangat penting apabila kita menyadari, bahwa peserta didik adalah investasi dan praktisi masa depan.

Yang imaksud dengan peserta didik sebagai investasi dan praktisi masa depan secara rinci adalah pernyataan tersebut mengandung dua makna. Pertama, sebagai investasi maksudnya peserta didik harus dihargai dan dikembangkan sebaik mungkin. Kedua, sebagai praktisi masa depan, maksudnya peserta didik harus dibekali sejumlah kemampuan sesuai kebutuhannya di masa depan.

Penghargaan kepada anak dianggap tepat apabila mengakui berbagai potensi dan karakteristik yang dimilikinya, yang diikuti dengan berupaya sekuat tenaga untuk membantu mengembangkannya. Adapun pembekalan yang diberikan kepada anak tentunya mengandung maksud adanya keseimbangan untuk memenuhi kebutuhannya saai ini serta kebutuhan bagi kehidupannya di masa yang akan datang                                                                    

Lingkungan sebagai unsur yang menyuplai atau menyediakan sejumlah rangsangan perlu mendapatkan sejumlah rangsangan perlu mendapatkan perhatian sungguh-sungguh. Diperlukan perencanaan dan seleksi khusus agar dapat menyediakan lingkungan yang cocok dan diperlukan oleh peserta didik[6]. Ketepatan lingkungan yang disediakan akan memberi pengaruh pada proses dan hasil perilaku, baik secara langsung maupun tidak langsung. Gagne (Muhibbin, 1998) menyatakan bahwa kejadian-kejadian pada lingkungan akan sangat berpengaruh pada hasil belaar anak.

Semua penjelasan diatas memberikan inspirasi kepada kita bahwa semua yang disiapkan untuk peserta didik  hendaklah dilakukan melakukan pertimbangan yang matang. Lingkungan yang sisitematis, terencana, dan teratur akan membantu mendapatkan respons yang sesuai dari setiap peserta didik. Logikannya adalah, semakin baik suatu lingkungan dipersiapkan, maka akan semakin tinggi respons positif dari anak-anak. Dengan demikian, akan diperoleh dampak yang semakin relevan baik harapan guru maupun orang tua.

Kita perlu menyiapkan suatu lingkungan belajar yang benar mampu mengembangkan berbagai dimensi perkembangan anak secara optimal. Akhirnya dapat disimpulkan bahwa lingkungan merupakan salah satu faktor penentu kunci keberhasilan dalam membangun kemampuan dan perilaku. Implikasinya bahwa penyediaan lingkungan bagi anak hendaknya mendapat prioritas, apalagi jika lingkungan tersebut merupakan lingkungan belajar.





























BAB III
PENUTUP

KESIMPULAN


Menciptakan suasana sekolah yang kondusif dengan :
1.      Keimanan
2.      Ketaqwaan
3.      Kejujuran 
4.      Keteladanan
5.      Suasana Demokratis
6.      Kepedulian
7.      Keterbukaan
8.      Kebersamaan
9.      Keamanan
10.   Ketertiban
11.   Kebersihan
12.   Kesehatan
13.   Keindahan
14.  Sopan santun
                       










DAFTAR PUSTAKA
Mariyana Rita, Nugraha Ali, Rachmawati yeni, 2010. Pengelolaan lingkungan belajar. Jakarta. Prenada media
Saroni Muhammad. 2006. Manajemen sekolah. Jogjakarta. Penerbit AR-RUZZ



[2] ibid
[3] Saroni Muhammad. 2006. Manajemen sekolah. Jogjakarta. Penerbit AR-RUZZ hal : 81-82

[4] Ibid hal 82-83
[5] Mariyana Rita, Nugraha Ali, Rachmawati yeni, 2010. Pengelolaan lingkungan belajar. Jakarta hal !0
[6] Ibid hal 11

No comments:

Post a Comment