Monday, April 6, 2015

Menyiapkan SDM Unggul dan Sosio - Religius Modern


Moh.kamilus zaman SPd.I
Menyiapkan SDM Unggul dan Sosio - Religius Modern

Hingga saat ini, pendidikan Islam masih menghadapi problem yang mendasar, yaitu belum mampu menyiapkan sumber daya manusia (SDM) yang unggul dan sesuai dengan perubahan dan perkembangan zaman. Pendidikan Islam baik dalam tataran manajerial operasional maupun kegiatan pembelajarannya, dipandang belum mampu menjadi tumpuan yang kokoh untuk membangun peradaban umat Islam yang utuh. Yakni sebuah peradaban yang unggul dibidang keilmuan, yang dapat melahirkan tatanan kehidupan sosial kemasyarakatan yang relevan dengan tuntutan global.
Pendidikan Islam masih dikesankan sebagai sebuah aktivitas yang hanya mengurusi masalah ritual, yang tidak dapat menjangkau kebutuhan zaman secara totalitas. Padahal Islam sebagai agama universal (rahmatan lil alamin) mengajarkan dimensi yang utuh (komprehensif), yang tidak saja mementingkan urusan ukhrawi, tetapi juga urusan duniawi. Sementara pendidikan Islam baru sebatas mengurusi dimensi ukhrawi.
Untuk menata kembali pendidikan Islam yang holistik dibutuhkan mindset yang kuat dari para pelaku dan pengembang pendidikan Islam. Untuk mereformulasi hal itu tentu saja memerlukan kerja keras dari berbagai pihak, mulai dari perguruan tinggi sebagai perumus konsep dan ide, pemerintah melalui Kementerian Pendidikan dan Kementerian Agama yang mengambil kebijakan, peraturan dan keputusan, serta para pelaksana dan pengguna di lapangan, yaitu madrasah atau sekolah, pondok/pesantren hingga perguruan tinggi.
            Memasuki gelombang ketiga, atau sering kita sebut dengan millenium ketiga (abad ketiga),  dunia berkembang dengan pesat. Perkembangan itu terjadi, karena derasnya kemajuan dibidang ilmu pengetahuan dan teknologi (iptek) serta informasi. Gejala kemajuan dunia tersebut merupakan sebuah gejala modernitas yang tidak dapat dipungkiri dan dibendung lagi.
Seiring dengan perubahan dan kemajuan masyarakat global tersebut, maka pendidikan Islam baik sebagai aktivitas maupun institusi/lembaga pendidikan, diharapkan sebagai agen of change yang selalu adaptif terhadap perkembangan tersebut, terutama dalam menyiapkan sumber daya manusia (SDM) yang unggul.
Untuk melahirkan SDM unggul memerlukan sebuah pendidikan yang bermutu dan memiliki daya saing yang baik.  Kalau pendidikan Islam hanya sebatas berbicara masalah agama saja, seperti tauhid, fiqih, tarikh, tasawuf, dan semacamnya, maka harapan untuk  melahirkan SDM unggul rasanya sulit di wujudkan. Sebab, sebagai lembaga pendidikan Islam dituntut mampu menangkap tanda-tanda perubahan dan kemajuan zaman yang disertai dengan etos pembaruan.
Pendidikan Islam dalam kaitannya dalam membentuk SDM unggul, selain menguasai ilmu agama sebagai piranti kekuatan spiritual dan moral juga harus menguasai ilmu alam dan sosial, sebagai tonggak untuk mengeksplorasi kehidupan di alam semesta ini secara berkualitas. Karena itu, persoalan pokok yang kita hadapi adalah bagaimana menyiapkan SDM unggul yang mampu bersaing dan tidak tersesat dalam menghadapi wacana kehidupan yang diwarnai budaya materialistik dan serba hedonistik itu. Pertanyaannya, apakah sistem pendidikan Islam yang ada sekarang masih akomodatif terhadap tantangan itu, ataukah kita harus berfikir alternatif tentang sistem pendidikan Islam?
Untuk menciptakan sosio religius modern seperti yang diharapkan umat Islam pada umumnya, memerlukan sebuah model lembaga pendidikan Islam yang adaptif dan inovatif dengan perubahan zaman. Pendidikan Islam yang mampu menerjemahkan misi Islam ke dalam wilayah yang lebih luas. Menurut Arifin (1994: 31), ada tiga dimensi pengembangan pendidikan Islam kaitannya dengan pengembangan eksistesi manusia.
Pertama, dimensi kehidupan duniawi yang mendorong manusia sebagai hamba Allah (abdullah) untuk mengembangkan dirinya dalam ilmu pengetahuan, keterampilan dan nilai-nilai yang mendasari kehidupan yaitu nilai-nilai Islam. Pendidikan Islam yang mampu melahirkan sosok generasi yang memiliki keluasan ilmu dan keterampilan profesional. Ilmu dan keterampilannya mampu mendekatkan diri kepada Allah sebagai kreator (pencipta) yang menuntun dan memberikan kemampuan fisik dan psikisnya.
Kedua, dimensi kehidupan ukhrawi yang mendorong manusia untuk mengembangkan dirinya dalam pola hubungan yang serasi dan seimbang dengan Tuhannya. Pendidikan Islam menjadi tempat mengasah anak didik agar tumbuh jiwa spiritual dan moral sebagai wujud ketaatannya kepada sang Khaliq. Selain taat secara ritual-individual (shalat, puasa, zakat dan haji), juga taat secara sosial (suka menolong, tidak dhalim dan tidak mengambil hak orang lain) sebagai sebuah bukti keimanan dirinya kepada Allah.
Ketiga, dimensi kehidupan antara duniawi dan ukhrawi mendorong manusia untuk berusaha menjadikan dirinya sebagai hamba Allah yang utuh dan paripurna dalam ilmu pengetahuan dan keterampilan, sekaligus menjadi pendukung serta pelaksana (pengawal) nilai-nilai agamanya. Maksudnya adalah melahirkan sosok yang memiliki jiwa spiritual yang tinggi, keluhuran akhlak yang mulia, bobot keilmuan yang mantap dan keahlian serta ketrampilan profesional.
Untuk menjawab pertanyaan di atas, pada kenyataannya cenderung pada yang kedua, yakni bahwa kita melakukan rekonstruksi sistem pemikiran dan pendidikan Islam, dalam kaitannya tujuan pendidikan selama ini. Hal ini sangat tergantung pada dasar paradigma yang digunakan untuk memandang berbagai persoalan yang kita hadapi. Menurut Djahar (1998), Persoalan itu di antaranya; 1) profil kehidupan masyarakat yang religius dalam peradaban modern yang diwarnai budaya ilmu pengetahuan dan teknologi, 2) kualifikasi atau profil SDM yang modern dan religius, dan 3) strategi mewujudkan profil SDM tersebut melalui pendidikan Islam.
Gagasan untuk mewujudkan cita-cita peradaban yang sesuai dengan misi Islam, dapat dibentuk melalui sistem pendidikan yang integratif. Yaitu sistem pendidikan yang mengawinkan keilmuan umum dengan keilmuan Islam. Dalam uraian berikut, ada sebuat tawaran menarik mengenai sebuah bentuk dan model yang menjadi alternatif bagi pengembangan pendidikan Islam masa depan.
Pertama, adanya tuntutan masyarakat religius dalam peradaban modern. Masyarakat religius adalah masyarakat yang taat pada nilai-nilai keyakinan agamanya, sumber ajarannya (al-Qur’an dan hadits), serta mau dan mampu mempraktikkan dalam kehidupan kesehariannya.
Profil masyarakat yang belum mencapai tingkat peradaban modern yang religius, biasanya tolak ukurnya kepuasan materil yang akan menjadi pilihan dominan. Sedangkan bagi masyarakat yang telah mencapai tingkat peradaban religius, nilai-nilai yang mampu mempertinggi derajat peradaban kemanusiaanlah yang akan menjadi ukuran kepuasan mereka.
Dalam pandangan (perspektif pendidikan Islam) tidak semudah membalikkan telapak tangan. Karena itu, sistem pendidikan Islam harus mampu menghasilkan regenerasi unggul yang mampu mengaktualisasikan nilai-nilai religius yang sekaligus menggambarkan masyarakat dengan peradaban modern, yaitu memiliki pengetahuan dan keahlian yang tinggi.
Kedua, adanya tuntutan kualifikasi profil SDM modern religius. Kualifikasi SDM modern bukan merupakan satu-satunya ukuran kualitas SDM. Banyak faktor yang terkait, di antaranya; bebas dari kebodohan dan kemiskinan. Mencerminkan masyarakat yang modern yang berbudaya, memiliki motivasi untuk maju, memiliki paradigma hidup perspektif, memiliki potensi sebagai subjek pembangunan, memiliki keahlian jelas, mencerminkan individu terpelajar, memiliki etos kerja dan disiplin tinggi, memiliki budaya kerja tuntas, dan memiliki komitmen kebersamaan tinggi.
Ketiga, tuntutan akan pewujudan SDM modern-religius. Strategi untuk mewujudkan pendidikan Islam, dapat dilihat melalui beberapa pendekatan, yaitu segi kelembagaan, substansi dan proses. Paradigma proses pendidikan yang diharapkan memenuhi tuntutan pendidikan Islam telah diajukan beberapa alternatif. Paradigma substansi pendidikan Islam telah disampaikan di atas, yakni mengandung muatan untuk menumbuhkan kemampuan iptek yang sekaligus diwarnai oleh internalisasi nilai-nilai ajaran Islam. Pemikiran substansi diharapkan dapat menghasilkan produk pendidikan Islam yang bisa mengambil peran dalam iptek.
Untuk menentukan bentuk kelembagaan pendidikan yang sekarang yaitu melalui dimensi pemikiran pendidikan Islam yang telah diuraikan di atas, khususnya dari dimensi pemikiran yang paling akomodatif untuk menghasilkan SDM yang memiliki kriteria di atas, yang mampu berperan sebagai penghasil iptek, menampilkan internalisasi nilai-nilai Islami dan sekaligus mampu mewujudkan masyarakat yang menampilkan tingkat peradaban manusia modern.
Reviuw :
            Seiring dengan perkembangan zaman yang semakin maju, pendidikan islam masih memiliki permasalahan yang cukup berarti, yaitu belum dapat menyiapkan Sumber Daya Manusia (SDM) yang mampu menghadapi kemajuan zaman. Pendidikan islam masih tekesan sebagai pendidikan yang hanya mengajarkan ilmu-ilmu agama saja dan mengenyampingkan ilmu-ilmu umum. Padahal diterangkan dalam Al Quran bahwasanya Islam adalah agama rahmatal lil ‘alamin yang bisa menyeimbangkan antara urusan duniawi dan ukhrawi.
            Untuk menghadapi permasalahan-permasalahan tersebut, maka diperlukan suatu perubahan. Oleh karena itu kita sebagai pelaku dan pengembang pendidikan islam harus berusaha sebaik mungkin dan punya manajemen yang bagus agar nantinya bisa menjadi agen of change dalam pendidikan islam.
Dari uraian di atas dapat disimpulkan bahwa pendidikan Islam memiliki kontribusi yang cukup besar dalam menyiapkan SDM unggul dan sosio religius modern. Selain memberikan ajaran tentang pengetahuan yang bersumber dai Al Quran dan Hadits,  pendidikan Islam juga memberikan ajaran tentang pengetahuan yang berasal dari ilmu-ilmu umum.
            Pendidikan Islam juga memiliki peluang yang cukup besar dalam memajukan peradaban agar menjadi peradaban maju dan modern yang sesuai dengan ajaran Islam. Sesuai dengan misi dan tujuan pendidikan Islam yaitu harus bisa menggabungkan antara ilmu duniawi dan ukhrawi. Apabila misi tersebut bisa terealisasikan maka peradaban unggul dan modern akan mudah diraih, yaitu pendidikan Islam yang mampu melahirkan sumber daya manusia (SDM) berkualitas yang memiliki kekokohan spiritual, keagungan akhlak, keilmuan yang mantap dan keahlian yang profesional.

No comments:

Post a Comment