Tuesday, May 23, 2017

DAVID AUSUBEL : BELAJAR BERMAKNA



DAVID AUSUBEL :
BELAJAR BERMAKNA

            David Ausubel adalah seorang ahli psikologi pendidikan. Inilah yang membedakan Ausubel dengan teoretikus-teoretikus lainnya, khususnya ahli psikologi, yang teori-teorinya diterjemahkan dari dunia psikologi ke dalam penerapan pendidikan. Ausubel memberi penekanan pada belajar bermakna.
            Bab ini akan  dibahas prinsip-prinsip belajar menurut Ausubel, yaitu belajar bermakna, belajar hafalan, peristiwa subsumi, diferensi progresif, penyesuaian integratif, belajar superordinat, serta pengatur awal.
A.    Belajar Menurut Ausubel
Menurut Ausubel belajar dapat diklasifisikan ke dalam dua dimensi. Dimensi pertama berhubungan dengan cara informasi atau materi pelajaran yang disajikan pada siswa melalui penerimaan atau penemuan. Dimensi kedua menyangkut cara bagaimana siswa dapat mengaitkan informasi itu pada struktur kognitif yang telah ada. Struktur kognitif ialah fakta, konsep dan generalisasi yang telah dipelajari dan diingat oleh siswa.
Pada tingkat pertama dalam belajar, informasi dapat dikomunikasikan pada siswa dalam bentuk belajar penerimaan yang menyajikan informasi itu dalam bentuk final ataupun dalam bentuk belajar penemuan yang mengharuskan siswa untuk menemukan sendiri sebagian atau seluruh materi yang akan diajarkan. Dalam tingkat kedua, siswa menghubungkan atau mengaitkan informasi itu pada pengetahuan (berupa konsep atau lainnya) yang telah dimilikinya; dalam hal ini terjadi belajar bermakna. Akan tetapi, siswa itu dapat juga hanya mencoba-coba menghafalkan informasi baru itu tanpa menghubungkannya pada konsep-konsep yang telah ada dalam struktur kognitifnya; dalam hal ini terjadi belajar hafalan.
Kedua dimensi, yaitu penerimaan/penemuan dan hafalan/bermakna tidak menunjukkan dikotomi sederhana, melainkan merupakan suatu kontinum (rangkaian).
1.      Belajar Bermakna
Inti teori Ausubel tentang belajar ialah belajar bermakna (Ausubel, 1968). Bagi Ausubel, belajar bermakna merupakan suatu proses dikaitkannya informasi baru pada konsep-konsep yang relevan yang terdapat dalam struktur kognitif seseorang. Dasar-dasar biologi belajar bermakna menyangkut perubahan-perubahan dalam jumlah atau ciri-ciri neuron yang berpartisipasi dalam belajar bermakna. Peristiwa psikologi tentang belajar bermakna menyangkut asimilasi informasi baru pada pengetahuan yang telah ada dalm struktur kognitif seseorang. Jadi, dalam belajar bermakna, informasi baru diasimilasikan pada subsumer-subsumer relevan yang telah ada dalam struktur kognitif. Belajar bermakna yang baru mengakibatkan pertumbuhan dan modifikasi subsumer-subsumer yang telah ada itu.
Subsumer itu adalah bila belajar bermakna memerlukan konsep-konsep relevan dalam struktur kognitif. Pada anak-anak, pembentukan konsep merupakan konsep utama untuk memperoleh konsep-konsep. Pembentukan konsep itu senidiri memiliki makana semacam belajar penemuan yang menyangkut baik pembentukan hipotesis dan pengujian hipotesis maupun pembentukan generaliasasi hal-hal yang khusus.
2.      Belajar Hafalan
Bila dalam struktur kognitif seseorang tidak terdapat konsep-konsep relevan atau subsumer-subsumer relevan, informasi baru dipelajari secara hafalan. Bila tidak ada usaha yang dilakukan untuk mengasimilasikan pengetahuan baru pada konsep-konsep relevan yang sudah ada dalam struktur kognitif, akan terjadi belajar hafalan. Pada kenyataannya, guru dan bahan-bahan pelajaran sangat jarang menolong para siswa dalam menentukan dan menggunakan konsep-konsep relevan dalam struktur kognitif mereka untuk mengasimilasikan pengetahuan baru dan akibatnya pada para siswa hanya terjadi belajar hafalan.
3.      Subsumi-subsumi Obileratif
Selama belajar bermakna berlangsung, informasi baru terkait pada konsep-konsep dalam struktur kognitif. Untuk menekankan pada fenomena pengaitan ini, Ausubel mengemukakan istilah subsumer. Subsumer memegang peranan dalm proses perolehan informasi baru. Dalam belajar bermakna, subsumer mempunyai peranan interaktif, memperlancar gerakan informasi yang relevan melalui penghalang-penghalang perseptual dan menyediakan suatu kaitan antara informasi yang baru diterima dan pengetahua yang sudah dimiliki sebelumnya. Lagi pula, dalam proses terjadinya kaitan ini, subsumer itu mengalami sedikit perubahan. Proses interaktif antara materi yang baru dipelajari dengan subsumer-subsumer inilah yang menjadi inti teori belajar asimilasi Ausubel. Proses ini disebut proses subsumi dan secara sistematis dinyatakan sebagai berikut :
A + a1  è  A’ + a’1 + a’2 è A” a’1 a’2 + a3è A”’ a’1a’2 a’3
     Waktu = 0    waktu = 1           waktu = 2             waktu = 3
A                     : subsumer
A’                    : subsumer yang mengalami modifikasi
A’ dan A”       : subsumer yang lebih banyak mengalami modifikasi
a1                            : informasi baru yang mirip dengan subsumer A
                          Demikian pula a2 dan a3
a’1 a’2 dan a’3    : pengetahuan baru yang telah tersubsumsi
            Selama belajar bermakna, subsumer mengalami modifikasi dan terdiferensiasi lebih lanjut. Diferensiasi subsumer diakibatkan oleh asimilasi pengetahuan baru selama belajar bermakna berlangsung.
            Menurut Ausubel dan juga Novak (1977), ada tiga kebaikan dari belajar bermakna, yaitu:
a.       Informasi yang dipelajari secara bermakna lebih lama dapat diingat;
b.      Informasi yang tersubsumsi berakibatkan peningkatan diferensiasi dari subsumer-subsumer, jadi memudahkan proses belajar berikutnya untuk materi pelajaran yang mirip;
c.       Informasi yang dilupakan sesudah subsumsi obliteratif meninggalkan efek residual pada subsumer sehingga mempermudah belajar hal-hal yang mirip, walaupun telah terjadi “lupa”.
4.      Variabel yang Mempengaruhi Belajar Penerimaan Bermakna
Faktor-faktor utama yang mempengaruhi belajar bermakna menurut Ausubel (1963) ialah struktur kognitif yang ada, stabilitas, dan kejelasan pengetahuan dalam suatu bidang studi tertentu dan pada waktu tertentu. Adapun prasyarat-prasyarat belajar bermakna adalah sebagai berikut:
a.       Materi yang akan dipelajari harus bermakna secara potensial
b.      Anak yang akan belajar atau siswa harus bertujuan untuk melaksanakan belajar bermakna, jadi mempunyai kesiapan dan niat untuk belajar bermakna. Tujuan siswa merupakan faktor utama dalam belajar bermakna.
Kebermaknaan materi pelajaran secara potensial bergantung pada dua faktor, yaitu sebagai berikut:
a.       Materi itu harus memiliki kebermaknaan logis
b.      Gagasan-gagasan yang relevan harus terdapat dalam struktur kognitif siswa.
Materi yang memiliki kebermaknaan logis merupakan materi yang nonarbitrer dan substantif. Materi yang nonarbitrer ialah materi yang serupa dengan apa yang telah diketahui. Materi juga harus subtantif yang berarti materi itu dapat dinyatakan dalam berbagai cara, tanpa mengubah.
Aspek-aspek kebermaknaan potensial ialah bahwa dalam struktur kogniitif siswa harus ada gagasan yang relevan. Dalam hal ini yang harus diperhatikan adalah pengalaman anak-anak, tingkat perkembangan mereka, inteligensi dan usia. Isi pelajaran harus dipelajari secara hafalan bila anak-anak itu tidak mempunyai pengalaman yang diperlukan mereka untuk mengaitkan atau menghubungkan isi pelajaran itu.
Oleh karena itu, agar terjadi belajar bermakna, materi pelajaran harus bermakna secara logis. Siswa harus bertujuan untuk memasukkan materi itu kedalam struktur kognitifnya dan dalam struktur kognitif anak harus terdapat unsur-unsur yang cocok untuk mengaitkan atau menghubungkan materi baru secara nonarbitrer dan subtantif. Jika salah satu komponen ini tidak ada, materi itu dipelajari secara hafalan (Rosser. 1984).
B.     Menerpakan Teori Ausubel dalam Mengajar
Untuk dapat menerapkan teori Ausubel dala mengajar, sebaiknyalah kita perhatikan apa yang dikemukakan oleh Ausubel dalam bukunya yang berjudul  educational Psychology; A Cognitive View, pernyataan itu berbunyi:
“The most important single factor influencing learning is what the leaner already knows. Ascertain this and teach him accoedingly.” (Ausubel, 1968)
Atau yang berarti sebagai berikut:
“Faktor terpenting yang mempengaruhi belajar ialah apa yang telah diketahui siswa. Yakinlah hal ini dan ajarlah ia demikian.”
Pernyataan Ausubel inilah yang menjadi inti teori belajarnya. Jadi, agar terjadi belajar bermakna, konsep baru atau informasi baru harus dikaitkan dengan konsep-konsep yang telah ada dalam struktur kognitif siswa. Untuk menerapkan teori Ausubel dalam mengajar, selain konsep-konsep yang telah dibahas terdahulu, ada bebrapa konsep dan prinsip lain yang perlu diperhatikan. Konsep atau prinsip-prinsip itu ialah pengatur awal, diferensiasi progresif, penyesuaian integratif dan belajar superordinat. Semua konsep ini akan dibahas dengan seapat mungkin memberikan contoh penerapannya dalam mengajar.
1.      Pengatur Awal
David Ausubel (1960,1963) memperkenalkan konsep pengatur awal dalam teorinya. Pengatur awal mengarahkan siswa ke materi yang akan mereka pelajari dan menolong mereka untuk mengingat kembali informasi yang berhubungan yang dapat digunakan dalam membantu menanamkan penegetahuan baru. Suatu pengaturan awal dapat dianggap semacam pertolongan mental dan disajikan sebelum materi baru.
Banyak penelitian membuktikan bahwa pengatur-pengatur awal meningkatkan pemahaman siswa tentang berbagai macam materi pelajaran. Akan tetapi, efek-efek pengatur awal terhadap belajar ternyata bergantung bagaimana pengatur awal itu digunakan. Rupa-rupanya pengatur awal lebih berguna untuk mengajar isi pelajaran yang telah mempunyai struktur teratur yang mungkin tidak secara otomatis terlihat oleh para siswa. Bebrapa peneliti mengemukakan bahwa pengatur awal belum pada umumnya ditemukan menolong siswa belajar informasi faktual yang tidak diatur dengan jelas atau materi pelajaran yang terdiri atas sejumlah besar topik yang terpisah-pisah.
2.      Diferensiasi Progresif.
Selama belajar bermakna berlangsung, perlu terjadi pengembangan dan elaborasi konsep-konsep yang tersubsumsi. Menurut Ausubel, pengembangan konsep berlangsung paling baik jika unsur-unsur yang paling umum, paling inklusif suatu konsep diperkenalkan terlebih dahulu, kemudian baru diberikan hal-hal yang lebih mendetail dan lebih khusus dari konsep itu. Dengan perkataan lain, model belajar menurut Ausubel pada umumnya berlangsung dari umum ke khusus.
Dalam menggunakan strategi ini, guru mengajarkan konsep-konsep yang paling inklusif dahulu, kemudian konsep-konsep yang kurang inklusif, dan setelah itu baru mengajarkan hal-hal yang khusus. Seperti contoh-contoh setiap konsep. Proses peyusunan konsep semacam ini disebut diferensiasi progresif dan merupakan salah satu dari sekian banyak macam urutan belajar, dikatan juga bahwa konsep-konsep itu disusun secara hierarki.
3.      Belajar uperordinat
Selama informasi diterima dan diasosiasikan dengan konsep dalam struktur kognitf (subsumsi), konsep itu tumbuh atau mengalami diferensiasi. Proses subsumsi ini dapat terus berlangsung hingga pada suatu saat ditemukan hal yang baru.
Belajar superordinat terjadi bila konsep-konsep yang telah dipelajari sebelumnya dikenal sebagai unsur-unsur suatu konsep yang lebih luas, lebih inklusif. Mungkin belajar superordinat tidak biasa terjadi di sekolah sebab sebagian besar guru dan buku teks mulai dengan konsep-konsep yang lebih inklusif, tetapi kerap kali mereka gagal untuk memperlihatkan secara eksplisit hubungan-hubungan pada konsep-konsep inklusif ini saat di kemudian hari disajikan konsep-konsep khusus suboerdinat.
4.      Penyesuaian Integratif
Terkadang seorang siswa dihadapkan pada suatu kenyataan yang disebut pertenatangan kognitif. Hal ini terjadi bila dua atau lebih nama konsep digunakan untuk menyatakan konsep yang sama atau bila nama yang sama diterapkan pada lebih dari satu konsep. Misalnya, buah merupakan nama konsep untuk suatu konsep gizi dan juga suatu konsep botani. Siswa itu akan bertanya, bagaimana buah dapat mencakup keduanya, yaitu masuk kedalam gizi dan juga masuk kedalam botani.
Untuk mengatasi atau mengurangi sedapat mungkin pertentangan kognitif ini, Ausubel menyarankan suatu prinsip lain, yaitu yang dikenal dengan prinsip penyesuaian inregatif. Menurut Ausubel, dalam mengajar bukan hanya diperlihatkan bagaimana konsep-konsep baru dihubungkan pada konsep-konsep subordinat.
Pencapaian penyesuaian integratif, materi pelajaran hendaknya disusun demikian rupa hingga kita menggerakkan hierarki-hierarki konseptual “ke atas dan ke bawah” selama informasi disajikan. Seorang guru atau pendidik dapat muai denga konsep-konsep yang paling umum, tetapi guru juga perlu memperlihatkan bagaimana terkaitnya konsep-konsep subordinat. Kemudian bergerak kembali melalui contoh-contoh ke arti-arti baru bagi konsep yang tingkatnya lebih tinggi.






Dahar, Ratna Wilis.2011. Teori-teori Belajar dan Pembelajaran. Belajarbermakna: Erlangga.



No comments:

Post a Comment