Tuesday, May 23, 2017

SEJARAH PERKEMBANGAN VISI, MISI DAN TUJUAN PENDIDIKAN ISLAM



BAB I
PENDAHULUAN
1.1 Latar Belakang
            Sejarah perkembangan visi, misi dan tujuan pendidikan Islam dari masa kemasa tentulah berbeda-beda banyak faktor yang mendukung antara lain, keadaan sosial budaya masyarakat setempat, sosok kepemimpinan dalam masyarakat dan perkembangan keilmuan dimasanya itu.
            Dalam makalah ini akan dijelaskan sejarah perkembangan visi, misi dan tujuan dari pendidikan Islam, sehingga dapat kita ketahui dasar-dasar yang menjadi visi, misi dan tujuan pendidikan Islam saat ini.
1.2  Rumusan Masalah
1.      Apa saja visi, misi dan tujuan pendidikan Islam dari masa Rosulullah sampai sahabat?
2.      Apa saja visi, misi dan tujuan pendidikan Islam  dari masa dinasti Umayyah sampai dinasti Mongol?
1.3 Tujuan
1.      Mengetahui dan memahami visi, misi dan tujuan pendidikan Islam masa Rosulullah sampai sahabat.
2.      Mengetahui dan memahami visi, misi dan tujuan pendidikan Islam masa Dinasti Umayyah sampai Dinasti Mongol.
           




BAB II
PEMBAHASAN
2.1 Visi, Misi dan Tujuan Pendidikan di Masa Rosulullah Saw dan Sahabat
 A. Periode Makkah
            Pada periode ini, tiga tahun pertama, dakwah Islam dilakukan secara sembunyi-sembunyi. Nabi mulai melakukan dakwah Islam di lingkungan keluarga, mula-mula istri beliau sendiri, yaitu Khadijah yang menerima, kemmudian Ali bin Abi Thalib, Abu Bakar sahabat beliau, lalu Zaid bekas budak beliau. Di samping itu, juga banyak orang yang masuk islam dengan perantara Abu Bakar yang terkenal dengan julukan Assabiqunal Awwalun mereka adalah Utsman bin Affan, Zubair bin Awwam, Sa’ad bin Abi Waqosh, Abdur Rahman bin Auf, Thalhah bin Ubaidillah, Abu Ubaidah bin Jarrah dan Al Arqom bin Abil Arqom, yang rumahnya dijadikan markas untuk berdakwah (rumah Arqom).
            Kemudian setelah turun ayat 94 Surah Al-Hijr, Nabi Muhamad Saw memulai dakwah secara terang-terangan. “maka sampaikanlah olehmu secara terang-terangan segala apa yang diperintahkan kepadamu dan berpalinglah dari orang-orang yang musyrik (QS. Al-Hijr 94)”. Namun dakwah yang dilakukan oleh beliau tidak mudah karena mendapat tantangan dari kaum kafir Quraisy. Hal tersebut timbul karena beberapa faktor, yaitu sebagai berikut :
1. Mereka tidak dapat membedakan antara kenabian dan kekuasaan, mereka mengira bahwa tunduk pada seruan Nabi Muhammad berarti tunduk kepda kepemimpinan Abdul Muthalib.
2. Nabi Muhamad menyerukan persamaan hak antara bangsawan dan hamba sahaya.
3. Para pemimpin Quraisy tidak mau percaya ataupun mengakui serta tidak menerima ajaran tentang kebangkitan kembali dan balasan diakhirat.
4. Taklid pada nenek moyang adalah kebiasaan yang berurat akar pada Bangsa Arab, sehingga sangat berat bagi mereka untuk meninggalkan agama nenek moyang dan mengikuti agama Islam.
5. Pemahat dan penjual patung memandang Islam sebagai penghalang rezeki.[1]
            Dari sini dapat kita lihat dari sudut pandang pendidikan Rosulullah menjadi guru bagi umat Islam yang tujuannya mengajarkan umat pada nilai-nilai aqidah dan kepercayaan untuk menyembah Allah Swt semata, janganlah menyekutukan Allah Swt dengan berhala yang selama ini telah dilakukan orang Jahiliyah serta menanamkan akhlak dan budi pekerti  bagi sesama manusia. Misi beliau adalah dengan dakwah dan mengajarkan pada keluarga, sahabat lalu setelah turun ayat Al-Hijr ayat 94  beliau menyampaikan secara terang-terangan. Dan visi beliau adalah menjadikan umat manusia yang bertauhid dan berakhlak.
B. Periode Madinah
            Dalam periode ini, pengembangan Islam lebih ditekankan pada dasar-dasar pendidikan masyarakat Islam dan pendidikan social kemasyarakatan. Oleh karena itu Nabi kemudian meletakkan dasar-dasar masyarakat Islam di Madinah sebagai berikut :
1. Mendirikan Masjid
            Tujuan Rosulullah mendirikan Masjid adalah untuk mempersatukan Umat Islam dalam satu majelis, sehingga di majelis ini umat Islam bisa bersama-sama melaksanakan sholat jama’ah secara teratur, mengadili perkara-perkara dan bermusyawarah. Masjid ini memegang peranan penting untuk mempersatukan kaum muslimin dan mempererat tali ukhuwah Islamiyah.
2. Mempersatukan dan mempersaudarakan antara kaum Anshar dan Muhajirin
            Rosulullah Saw mempersatukan keluarga-keluarga Islam yang terdiri dari Muhajirin dan Anshor. Dengan cara persaudaraan antara kedua golongan ini, Rosulullah Saw telah menciptakan suatu pertalian yang berdasarkan agama pengganti persaudaraan yang berdasarkan kesukuan seperti sebelumnya.
3. Perjanjian saling membantu antara sesama kaum Muslimin dan bukan Muslimin.
            Nabi Muhamad Saw hendak menciptakan toleransi antar golongan yang ada di Madinah oleh karena itu Nabi membuat perjanjian antara kaum Muslimin dan Nonmuslimin. Menurut Ibnu Hisyam, isi perjanjian tersebut antara lain sebagai berikut :
a. Pengakuan atas hak pribadi, keagamaan dan politik.
b. Kebebasan beragama terjamin untuk semua umat.
c. Adalah kewajiban penduduk Madinah, baik Muslim maupun Nonmuslim, dalam hal moril maupun nonmaterial. Mereka harus bahu-membahu menangkis semua serangan terhadap kota mereka Madinah.
d. Rosulullah  adalah pemimpin umum bagi penduduk Madinah. Kepada beliaulah dibawa segala perkara dan perselisihan yang besar untuk diselesaikan.
4. Meletakkan dasar-dasar politik, ekonomi dan social untuk masyarakat baru.
            Ketika masyarakat Islam terbentuk maka diperlukan dasar-dasar yang kuat bagi masyarakat yang baru tersebut. Oleh karena itu, ayat-ayat Al-Qur’an yang diturunkan dalam periode ini terutama ditunjukan kepada pembinaan hukum. Ayat-ayat ini kemudian dieri penjelasan oleh Rosulullah Saw, baik dengan lisan maupun dengan perbuatan beliau sehingga terdapat dua sumber hukum dalam Islam yaitu Al-Qur’an dan Hadist.dari dua sumber hukum Islam tersebut didapat suatu sistem  untuk bidang pilitik, yaitu musyawaroh. Dan dalam bidang ekonomi dititik beratkan pada jaminan keadilan social, serta dalam bidang kemasyarakatan, diletakkan pula dasar-dasar persamaan derajat antara masyarakat atau manusia dengan penekanan bahwa yang menentukan derajat manusia adalah ketakwaan.[2]
            Dari sini dapat ditarik kesimpulan bahwa pendidikan pada periode Madinah sudah sangat tertata dengan visi dan misi Rosulullah Saw adalah Unggul dalam bidang keagamaan, moral, sosial, ekonomi dan kemasyarakatan, serta penerapannya dalam kehidupan.
C. Periode Sahabat
            Tahun-tahun pemerintahan Khulafa al-Rasyidin merupakan perjuangan terus menerus antara hak yang mereka bawa dan dakwahkan kebatilan yang mereka perangi dan musuhi. Pada zaman khulafa al-Rasyidin seakan-akan kehidupan Rasulullah SAW itu terulang kembali. Pendidikan islam masih tetap memantulkanAl-Qur’an dan Sunnah di ibu kota khilafah di Makkah, di Madinah dan di berbagai negri lain yang ditaklukan oleh orang-orang islam.[3]
  1. Masa Khalifah Abu Bakar As-Siddiq
            Pola pendidikan pada masa Abu Bakar masih seperti pada masa Nabi, baik dari segi materi maupun lembaga pendidikannya. Dari segi materi pendidikan Islam terdiri dari pendidikan tauhid atau keimanan, akhlak, ibadah, kesehatan, dan lain sebagainya. Menurut Ahmad Syalabi lembaga untuk belajar membaca menulis ini disebut dengan Kuttab. Kuttab merupakan lembaga pendidikan yang dibentuk setelah masjid, selanjutnya Asama Hasan Fahmi mengatakan bahwa Kuttab didirikan oleh orang-orang Arab pada masa Abu Bakar dan pusat pembelajaran pada masa ini adalah Madinah, sedangkan yang bertindak sebagai tenaga pendidik adalah para sahabat rasul terdekat[4]
            Lembaga pendidikan Islam masjid, masjid dijadikan sebagai benteng pertahanan rohani, tempat pertemuan, dan lembaga pendidikan Islam, sebagai tempat shalat berjama’ah, membaca Al-qur’an dan lain sebagainya.
  1. Masa Khalifah Umar bin Khattab
            Berkaitan dengan masalah pendidikan, khalifah Umar bin Khattab merupakan seorang pendidik yang melakukan penyuluhan pendidikan di kota Madinah, beliau juga menerapkan pendidikan di masjid-masjid dan pasar-pasar serta mengangkat dan menunjuk guru-guru untuk tiap-tiap daerah yang ditaklukan itu, mereka bertugas mengajarkan isi Al-qur’an dan ajaran Islam lainnya. Adapun metode yang mereka pakai adalah guru duduk di halaman masjid sedangkan murid melingkarinya.
            Pelaksanaan pendidikan di masa Khalifah Umar bin Kattab lebih maju, sebab selama Umar memerintah Negara berada dalam keadaan stabil dan aman, ini disebabkan disamping telah ditetapkannya masjid sebagai pusat pendidikan juga telah terbentuknya pusat-pusat pendidikan Islam di berbagai kota dengan materi yang dikembangkan, baik dari segi ilmu bahasa, menulis, dan pokok ilmu-ilmu lainnya.[5]
            Pendidikan dikelola di bawah pengaturan gubernur yang berkuasa saat itu,serta diiringi kemajuan di berbagai bidang, seperti jawatan pos, kepolisian, baitulmal dan sebagainya. Adapun sumber gaji para pendidik waktu itu diambilkan dari daerah yang ditaklukan dan dari baitulmal.



  1. Masa Khalifah Usman bin Affan.
            Pada masa khalifah Usman bin Affan, pelaksanaan pendidikan Islam tidak jauh berbeda dengan masa sebelumnya. Pendidikan di masa ini hanya melanjutkan apa yang telah ada, namun hanya sedikit terjadi perubahan yang mewarnai pendidikan Islam. Para sahabat yang berpengaruh dan dekat dengan Rasulullah yang tidak diperbolehkan meninggalkan Madinah di masa khalifah Umar, diberikan kelonggaran untuk keluar di daerah-daerah yang mereka sukai. Kebijakan ini sangat besar pengaruhnya bagi pelaksanaan pendidikan di daerah-daerah.
            Proses pelaksanaan pola pendidikan pada masa Usman ini lebih ringan dan lebih mudah dijangkau oleh seluruh peserta didik yang ingin menuntut dan belajar Islam dan dari segi pusat pendidikan juga lebih banyak, sebab pada masa ini para sahabat memilih tempat yang mereka inginkan untuk memberikan pendidikan kepada masyarakat.[6]
            Tugas mendidik dan mengajar umat pada masa ini diserahkan pada umat itu sendiri, artinya pemerintah tidak mengangkat guru-guru, dengan demikian para pendidik sendiri melaksanakan tugasnya hanya dengan mengharapkan keridhaan Allah.
  1. Masa Khalifah Ali bin Abi Thalib
            Pada masa Ali telah terjadi kekacauan dan pemberontakan, sehingga di masa ia berkuasa pemerintahannya tidak stabil. Dengan kericuhan politik pada masa Ali berkuasa, kegiatan pendidikan Islam mendapat hambatan dan gangguan. Pada saat itu ali tidak sempat lagi memikirkan masalah pendidikan sebab keseluruhan perhatiannya itu ditumpahkan pada masalah keamanan dan kedamaian bagi seluruh masyarakat Islam.[7]
            Adapun pusat-pusat pendidikan pada masa Khulafa al-Rasyidin antara lain:
1.      Makkah
2.      Madinah
3.      Basrah
4.      Kuffah
5.      Damsyik (Syam)
6.      Mesir[8]
Sehingga jika kita amati maka visi dan misii pada masa Khulafaur Rosyidin adalah sebagai berikut :
-          Visi: Unggul dalam bidang keagamaan sebagai landasan membangun kehidupan umat.
-          Misi: Memantapkan aqidah dan syari’ah; menyediakan sarana dan prasarana; penumbuhan cinta tanah air; pembinaan kader-kader pemimpin.
 2.2 Sejarah Perkembangan Visi, Misi dan Tujuan Pendidikan Pada Masa Dinasti Umayyah Sampai Dinasti Moghul
A. Dinasti Umayyah
       Masa pemerintahan Bani Umayyah terkenal sebagai suatu era agresif, dimana perhatian tertumpu pada usaha perluasan wilayah dan penakhlukan, yang terhenti sejak zaman kedua khulafaur rosyidin terakhir. Hanya dalam jangka waktu 90 tahun, banyak bangsa  empat penjuru mata angin beramai-ramai masuk kedalam kekuasaan Islam, yang meliputi tanah Spanyol, seluruh wilayah Afrika Utara, Jazirah Arab, Syiria, Palestina, sebagian daerah Anatolia Irak, Persia, Afganistan, India dan negeri yang sekarang dinamakan Turkemenistan, Uzbekistan dan Kirgiztan yang termasuk Soviet Rusia.[9]
       Dinasti Umayyah meneruskan tradisi kemajuan dalam berbagai bidang yang telah dilakukan masa kekuasaan sebelumnya, yaitu masa khulafaur rasyidin. Dalam bidang peradaban Dinasti Umayyah telah menemukan jalan yang leih luas kearah pengembangan dan perluasan berbagai bidang ilmu pengetahuan, dengan bahasa Arab sebagai media utamanya. Ilmu yang berkembang pada masa itu adalah bahasa Arab. Ilmu Qiroat, Ilmu Tafsir, Ilmu Hadis, Ilmu Fikih, Ilmu Nahwu, Ilmu Jughrafi dan Tarikh, penerjamahan, Sains.[10]
       Dengan demikian dapat diambil kesimpulan bahwa visi pendidikan adalah Unggul dalam ilmu agama dan umum, sejalan dengan kebutuhan zaman dan masing-masing wilayah Islam dan misi Dinasti Umayyah dalam pendidikan adalah Menyelenggarakan pendidikan agama dan umum secara seimbang; penataan kelembagaan, demokratisasi pendidikan, prioritas pada pendidikan; pemberdayaan masyarakat.      
B. Dinasti Abbasiyah
       Baghdad terletak dipinggir kota Tigris. Al-Manshur sangat cermat dan teliti dalam memilih lokasi yang akan dijadikan ibu kota. Ia menugaskan beberapa orang ahli untuk meneliti dan mempelajari lokasi. Bahkan ada beberapa orang diantara mereka yang diperintahkan tinggal beberapa hari ditempat itu setiap musim yang berbeda. Kemudian para ahli tersebut melaporkan kepadanya tentang keadaan udara, tanah, dan lingkungan setelah melakukan penelitian secara seksama, daerah ini ditetapkan sebagai ibu kota.
       Sejak awal berdirinya, kota ini sudah menjadi pusat peradaban dan kebangkitan ilmu pengetahuan dalam Islam. Itulah sebabnya Philip K. Hitti menyebutnya sebagai kota intelektual, menurutnya Baghdad merupakan professor masyarakat Islam.
       Kota Baghdad sebagai pusat intelektual terdapat beberapa pusat aktifitas pengembangan ilmu antara lain Baitul Hikmah yaitu lembaga ilmu pengetahuan sebagai pusat pengkajian berbagai ilmu. Baghdad juga sebagai pusat penerjemahan buku-buku dari berbagai cabang ilmu yang kemudian diterjamahkan kedalam bahasa Arab.
       Sebagai ibu kota, Baghdad mencapai puncaknya pada masa Harun Ar-Rosiyyd walaupun kota tersebut belum lima puluh tahun dibangun. Kemegahan dan kemakmuran tercermin dalam istana khalifah yang luasnya sepertiga dari kota Baghdad yang berbentuk bundar itu dengan dilengkapi beberapa bangunan sayap dan ruang audiensi yang dipenuhi  berbagai perlengkapan yang terindah. Kemewahan istana itu muncul terutama dalam upacara penobatan khalifah, perkawinan, keberangkatan berhaji, dan jamuan untuk para duta Negara tamu asing.
       Dengan demikian, Dinasti Abbasiyah dengan pusatnya di Baghdad sangat maju sebagai pusat kota peradaban dan pusat ilmu pengetahuan. Beberapa kemajuan dalam berbagai bidang kehidupan dapat disebut sebagai berikut :
a. Bidang keagamaan : Fikih, Ilmu Tafsir, Ilmu Hadist, Ilmu Kalam, Ilmu Bahasa.
b. Bidang Umum : Filsafat, Ilmu Kedokteran, Matematika, Farmasi, Ilmu Astronomi, Geografi, Sejarah dan Sastra.[11]
       Visi pendidikan masa Dinasti Abbasiyah adalah unggul dalam segala bidang ilmu pengetahuan, social masyarakat, politik, ekonomi dan keagamaan. Misi pendidikan adalah dengan cara penerjamahan buku-uku asing kedalam bahasa Arab serta penelitian guna mencapai keluasan dan kemajuan ilmu pengetahuan.
C. Dinasti Umayyah II
       Kemajuan Islam di Spanyol sangat menonjol dalam berbagai bidang, baik dalam bidang intelektual yang menyebabkan kebangkitan Eropa saat ini, bidang kebudayaan dalam hal ini bangunan fisik atau arsitektur maupun bidang-bidang yang lainnya. Puncak peradaban Islam di Spanyol berdampak bagi kemajuan Eropa. Bidang ilmu pengetahuan hampir menyerupai Abbasiyah. Sehingga visi, misi dan tujuan sama dengan Abbasiyah.
D. Dinasti Safawiyah
       Sebagai salah satu dari tiga kerajaan besar, Dinasti Safawiyah mencapai puncak kemajuan yang cukup berarti, tidak hanya sebatas dalam bidang politik tetapi kemajuan dalam berbagai bidang. Beberapa kemajuan tersebut antara lain:
1. Ilmu Pengetahuan : Sejarah, Teologi dan Sains
2. Bidang Ekonomi : maju dalam pertanian dan perdagangan
3. Bidang Arsitektur : bangunan yang bernilai Arsitek tinggi dan indah seperti Masjid, Rumah Sakit, Sekolah, Jembatan raksasa diatas Zende Rud, dan istana chihil Sutun.
4. Bidang Kesenian : kerajianan tangan, keramik, karpet, permadani, pakaian dan tenunan, mode, tembikar dan benda seni lainnya.
5. Bidang Tarekat
6. Bidang Politik dan Militer.
       Sekalipun Dinasti Safawiyah tidak setaraf dengan kemajuan yang pernah dicapai Islam pada masa klasik, tetapi kerajaan ini telah memberikan sumbangan yang cukup besar dalam bidang peradaban melalui kemajuan-kemajuan dibidang ilmu pengetahuan, ekonomi, arsitektur, kesenian dan tarekat[12]. Visi pendidikan Dinasti Safawiyah adalah menjadi Dinasti Islam yang maju dalam ilmu pengetahuan, ekonomi, seni, tarekat dan kekuasaan politik yang bernafaskan Syiah. Misi pendidikan selalu berupaya memajukan ilmu pengetahuannya disegala bidang.
E. Dinasti Turki Ustmani
        Sejak masa Usman bin Artagol (1299-1326), yang dianggap pembina pertama kerajaan Turki Usmani ini dengan nama imperium nama ottoman, timbulah kemajuan dalam bidang ekspansi agama Islam ke Eropa. Kemajuan lainya antara lain dalam bidang militer dan pemerintahan, bidang ilmu pengetahuan dan budaya, serta dalam bidang keagamaan. Dalam perkembangannya Turki cukup berpengaruh dalam bidang peradaban Islam, dengan corak peradaban yang khas. Pengaruh budaya tersebut sampai ke berbagai wilayah Turki Usmani yang wilayahnya begitu luas dalam dunia Islam. Kemajuan yang telah dicapai oleh  Dinasti Turki Ustmani antara lain bidang pemerintahan dan politik, bidang ilmu pengetahuan, bidang kebudayaan dan bidang keagamaan. Visi dan misi pendidikan Dinasti Turki Ustmani ini adalah kemajuan dalam segala bidang keilmuan, politik serta kebudayaan dan keluasan wilayah kekuasaan.    
 F. Dinasti Mongol
       Dinasti Mughal merupakan sebuah sistem kekuasaan yang diperintah oleh raja-raja yang berasal dari Asia tengah dan keturunan Timur Lenk. Puncak kejayaan kerajaan ini berada pada saat masa pemerintahan Sultan Akbar, dan Syah Jehan. Salah satu karya mengagumkan dan fenomenal pada masa kerajaan ini adalah Istana indah di Lahore dan Tajamahal di Agra yang tergolong salah satu dari bangunan keajaiban dunia.            .

       Selain hal tersebut di atas pada masa kerajaan Mughal juga dibangun banyak masjid, salah satunya yang sangat terkenal adalah masjid Badsyahi, yang merupakan bangunan yang sangat indah dan terletak di sebelah barat benteng Lahore. Masjid-masjid yang dibangun selain sebagai tempat ibadah juga berfungsi sebagai tempat belajar agama bagi masyarakat. Ini menunjukkan pada masa Kerajaan Mughal juga memberikan perhatian besar dalam bidang pendidikan.

       Di masjid telah tersedia ulama yang akan memberikan pengajaran berbagai cabang ilmu agama, di mana tidak sedikit masyarakat yang mengikutinya. Bahkan di masjid itu juga telah di disediakan ruangan khusus bagi para pelajar yang ingin tinggal di dalamnya selama mengikuti pendidikan. Oleh karena itu, hampir setiap masjid merupakan pengembang ilmu keagamaan tertentu dengan guru speasialis. Dalam perkembangan selanjutnya Masjid raya telah berkembang menjadi Universitas, tempat para ulama mengajarkan berbagai cabang ilmu agama dan sejumlah pelajar atau mahasiswa memilih untuk mengikuti pelajaran-pelajaran tertentu pada masa tertentu pula.

       Sementara itu untuk memenuhi kebutuhan pendidikan bagi orang kaya, pihak kerajaan juga telah menyediakan madrash-madrasah khusus. Pendidikan atau sekolah khusus juga disediakan bagi orang Hindu yang disebut Pat Shaha. Kendati demikian di samping sekolah khusus bagi kelompok agama tertentu, pihak kerajaan juga menyediakan sekolah tempat anak-anak muslim dan hindu belajar. Dengan demikian proses pendidikan berlangsung harmonis.


       Selain masjid terdapat pula Khanqa (semacam Pesantren) yang dipimpin ulama atau wali yang secara umum ada di daerah-daerah padalaman. Khanqa pada era ini merupakan pusat studi Islam yang dinilai baik. Di Khanqa diajarkan berbagai bidang ilmu pengetahuan seperti matematika, mantik, filsafat, tafsir al-Qur’an, hadis, fiqih, sejarah dan geografi. Bahasa Persia pada waktu itu merupakan bahasa pengantar dalam kegiatan pendidikan dan Pengajaran.
Selain Sultan Akbar dan Syah Jehan, Sultan lainnya yang berhasil mengembangkan ilmu pengetahuan pada masa Dinasti Mughal adalah Aurangzeb. Ia terkenal kuat keagamaannya, menganut aliran ahli sunnah. Jasa yang tidak dapat dilupakan dari hasil karyanya ialah membukukan hukum Islam mengenai soal muamalat. Usaha kodifikasi ini dinamakan ahkam alamgiriyah menurut gelaran yang dipakainya. Disamping itu sempat juga muncul karangan besar abad ke XVII di bidang kedokteran. Diantara karya tersebut adalah Kedokteran Dara Shukuh, yang merupakan ensiklopedi medis  besar terakhir dalam Islam. Kehadiran ensiklopedi medis ini merupakan ilmu medis yang berbentuk filosofi medis (memakai pendekatan kepada Allah) hidup bersaing dengan ilmu medis modern Eropa.                   .    

       Hanya saja dapat dicatat bahwa di masa kerajaan Mughal tidak terdapat kemajuan mencolok di bidang ilmu pengetahuan. Tokoh-tokoh sains, filsafat, atau ilmu-ilmu keagamaan tidak terlalu banyak terdengar namanya. Bila dibandingkan dengan kemajuan ilmu pengetahuan di masa klasik, khususnya pada masa kekuasaan Abbasiyah, tentu jauh sekali perabadingannya. Pada masa ini ilmuwan-ilmuwan yang lahir hanyalah mengembangkan ilmu yang sudah ada sebelumnya. Ia tidak bisa menciptakan sebuah ilmu baru. Hal ini juga disebabkan karena raja-raja Mughal tidak memiliki ethos Intelektual terhadap pengkajian-pengkajian ilmu baru.
       Dari sini dapat diambil kesimpulan bahwa visi dan misi pendidikan pada masa Dinasti Moghul terfokus pada bidang keagamaan, sejarah dan geografi serta sedikit ilmu kedokteran.
















BAB III
PENUTUP
3.1 Kesimpulan
       Visi, misi dan tujuan pendidikan dalam Islam dari masa ke masa sangatlah sinergis dan saling melengkapi. Perkembangan yang terjadi karena dipengaruhi oleh keadaan sosial masyarakat serta pemimpin yang berkuasa pada masanya. Seperti halnya masa Nabi Muhamad Saw  dan para sahabat ketika di Makkah visi, misi dan tujuannya hanya didasari oleh ketauhidan dan akhlak,  namun ketika di Madinah sudah mulai ditata dengan hukum-hukum syariat Islam.
       Pada masa Dinasti-dinasti Islam mulai dari Umayyah sampai pada Dinasti Moghul semuanya hampir memiliki kesamaan visi, misi maupun tujuan pendidikan. Pada masa ini umat islam mulai berkembang pendidikannya, bukan hanya dalam unsur syariah saja, tetapi mulai merambah kearah budaya, sastra, kesehatan dan lain sebagainya
3.2 Saran
       Saran dari pembaca yang bersifat membangun sangatlah dibutuhkan bagi penulis makalah ini. Demikian makalah ini di buat guna memenuhi tugas Ujian tengah semester (UTS).





DAFTAR PUSTAKA

1.      Drs. Samsul Munir Amin, M.A 2010. Sejarah Peradaban Islam, Jakarta : Amzah.
2.      Prof. Dr. Hasan Langgulung.1988. Asas-asas Pendidikan Islam, Jakarta: Pustaka Husna.
3.      Prof. Dr. H. Samsul Nizar.2008.M.ag,Sejarah Pendidikan Islam, Jakarta: Kencana
4.      Prof.Dr.H.Mahmud Yunus.1992. Sejarah Pendidikan Islam, Jakarta: PT. Hidakarya Agung.



[1] Drs. Samsul Munir, M.A, Sejarah Peradaban Islam, hal. 65-66
[2] Drs. Samsul Munir Amin , M.A, Sejarah Peradaban Islam, Jakarta : Amzah, 2010. hal 68-69
[3] Prof. Dr. Hasan Langgulung, Asas-asas Pendidikan Islam, Jakarta: Pustaka Husna, 1988. Hal 121
[4] Prof. Dr. H. Samsul Nizar, M.ag, Sejarah Pendidikan Islam, Jakarta: Kencana, 2008 hal 45
[5] Prof. Dr. H. Samsul Nizar, M.ag, Sejarah Pendidikan Islam, Jakarta: Kencana, 2008 hal 48
[6] Prof. Dr. H. Samsul Nizar, M.ag, Sejarah Pendidikan Islam, Jakarta: Kencana, 2008 hal 49
[7] Prof. Dr. H. Samsul Nizar, M.ag, Sejarah Pendidikan Islam, Jakarta: Kencana, 2008 hal 50
[8] Prof.Dr.H.Mahmud Yunus, Sejarah Pendidikan Islam, Jakarta: PT. Hidakarya Agung,1992.hal 33
[9] Drs. Samsul Munir Amin , M.A, Sejarah Peradaban Islam, Jakarta : Amzah, 2010. Hal  129
[10] Drs. Samsul Munir Amin , M.A, Sejarah Peradaban Islam, Jakarta : Amzah, 2010. Hal 133-135
[11] Drs. Samsul Munir Amin , M.A, Sejarah Peradaban Islam, Jakarta : Amzah, 2010. Hal  147-152
[12] Drs. Samsul Munir Amin , M.A, Sejarah Peradaban Islam, Jakarta : Amzah, 2010. Hal 191-192

No comments:

Post a Comment